Tampilkan postingan dengan label Motherhood. Tampilkan semua postingan



Ketika membuat last year errand, two top lists-ku adalah quit breastfeeding dan toilet training Rauhia. Sayang yang terlaksana hanyalah penyapihan, sementara yang lain harus antri ikutan errand tahun ini. Frase teknis ini pertama kali aku denger dari temenku yang berprofesi sebagai bidan. Pas itu kami sedikit menyinggung soal ini ini dan dia berujar bahwa salah satu mata kuliah yang diambilnya semasa bersekolah adalah ‘toilet training’. “Oh, jadi ada teorinya,” longoku ketika itu. Di beberapa WAG yang aku ikuti, ibu-ibu muda yang dulu adalah teman satu sekolah dan satu kelas juga kerap bercerita soal ups and downs pengalaman pun perjuangan mereka melakukan toilet training.   


FYI sejak lahir ke dunia ini, Rauhia adalah konsumen popok sekali pakai kelas menengah ke bawah. Aku yang sejak kandungan berusia 7 bulan sudah menyediakan keperluan persalinan plus popok pertama yang akan ia pakai sedari awal diwanti-wanti agar tidak membiasakan bayiku menggunakan popok yang harga belinya mahal. Selain karena popok pada akhirnya akan dibuang, menurut umik, popok yang harganya mahal dan murah tidak jauh berbeda. Asal cocok di kulit dan rutin diganti, soal kualitas dan merk jadi prioritas terakhir.

Ok aku manut umik meski ketika itu aku cukup intens mengonsumsi informasi soal perpopokan dan mulai mengenal istilah cloth diaper yang katanya jauh lebih ramah lingkungan dan kalau ditotal sakjane lebih murah dibanding pospak, meski memang lebih ribet dikit utamanya bagi mereka yang belum terbiasa. Aku bahkan juga sudah membeli selembar inner clodi yang sampai sekarang belum pernah tak pakaikan ke Rauhia. Aku akhirnya tak jadi menggunakan clodi karena tidak punya modal yang banyak di awal, ngejar praktis dan efisien dan yang pasti technically, hari-hari pertama setelah melahirkan tak memberiku banyak kesempatan dan ruang gerak seleluasa sebelumnya. Alasan lain yang lebih konkrit adalah bahwa ketika open house setelah kelahiran Rauhia, banyak tamu yang membawakan pospak. Ya masa mau dibuang, dikembalikan, atau dituker ke toko? Ok, jadi dipake aja.

Jadilah, selama nyaris tiga tahunan, Rauhia adalah konsumen aktif pospak kelas menengah ke bawah yang saking ke bawahnya, dua mart waralaba yang ekspansinya ke mana-mana itu tidak menjual popok yang dipakai Rauhia. Aku pernah bercerita soal ini di tulisan lain, dan keadaan itupun tak berubah hingga beberapa saat yang lalu. Aku betah pada pilihan itu selain karena tidak ada masalah berarti dengan kulit sensitif Rauhia, harganyapun murah di kantong, seperti yang digambarkan dengan celengan ayam di bungkus popok berwarna hijau toska tersebut. Yang juga penting, aku tak kesulitan mendapatkannya di tempat tinggalku. Di warung tetangga, di  swalayan samping kampus, swalayan kuno yang selalu menjadi tempat favoritku selama kecil, dan tempat-tempat lain banyak yang menyediakan popok tersebut.   

Meski tidak seberapa menguras isi dompet (maksimal ngabisin 150k untuk konsumsi popok sebulan), aku bukan tak kepikiran untuk segera menyudahi penggunaan pospak ini. Namun demikian di lapangan, semuanya terasa sulit dan tidak mudah; aku full bersama Rauhia selama 24 jam hanya pada Hari Sabtu, Ahad atau ketika cuti dan tanggal merah. Rasanya susah membayangkan bahwa agenda ini bisa sukses dalam jangka waktu 48 jam, sementara, seperti sudah menjadi kodrat (padahal sebenarnya ini sangatlah socially constructed), ibulah yang paling bertanggungjawab menginisiasi, menjalankan dan menyukseskan program toilet training ini. Anggota keluarga yang lain hanya menyemarakkan, mendukung sebisanya dan kalau ada kesempatan, menyalahkan adegan-adegan yang tidak sesuai skenario. Eh kq sampai sini.

Suatu kali, sekitar setahunan yang lalu, aku pernah iseng2 mencoba mengajari Rauhia untuk memberitahu jika dia ingin menunaikan hajat. Pas itu popoknya mau habis lalu timbullah pikiran ‘kenapa ga sekalian.’ Very first trials banyak gagalnya, tapi sebenernya ketika itu sudah ada perkembangan. Popoknya dilepas dan tak omongin berkali-kali untuk ngasih tau sebelum pipis. Sayangnya, ketika itu ia ngasihtaunya ketika pipis sudah menggenang di bawah kakinya. Tapi itu bukan tanpa kemajuan; Rauhia biasa mojok atau mencari tempat sepi ketika ingin pipis. Aku tinggal mengikuti saja ke mana ia melangkah dan memastikan bahwa ia tak mendekati obyek2 vital yang mengharuskan proses penyucian ribet dan melelahkan, seperti kasur, sofa, karpet dan yang terpenting rumah tetangga. Beberapa kali aku ngepel di pojok-pojok spacy yang dipilihnya sebagai tempat menunaikan hajat. Setelah itu, kugendong ia ke kamar mandi sambil tak sugesti berkali-kali bahwa; ngomongnya sebelum pipis, bukan setelah pipis.

Percobaan ini terjadi saat akhir pekan pas aku punya jatah libur dua hari di kantor. Waktu pasnya aku lupa. Sayangnya, awal ini ga tak teruskan karena ayah mertuaku tiba-tiba berinisiatif membelikan popok Rauhia ketika kebetulan ia beli-beli ke toko. Sebelumnya ia sempat menegurku bahwa Rauhia yang ketika itu berumur dua tahunan masih terlalu dini untuk belajar lepas popok. Aku manut saja, toh Senin besok aku sudah harus ke kantor dan program ini rasanya tak akan bisa berjalan dengan baik tanpa kehadiranku langsung, sementara kewajiban ngantor harus tetap kulaksanakan literally. Meski begitu, aku bukan tak kepikiran mereka-reka kapan aku bisa punya waktu lowong agak lama untuk menemani Rauhia belajar melepas popok. Liburan terlamaku sepanjang tahun adalah ketika lebaran dan tak bayangin, itu bukan moment yang tepat buat berlatih lepas popok. Lebaran biasanya sibuk bertamu, nerima tamu, ke sana-sini dan aktivitas fisik lainnya. Mustahil dan sangat sulit rasanya belajar toilet traning di hari-hari lebaran. 

***




            Saat mudik ke rumah, umik tak pernah absen bercerita soal cucu teman ngajarnya yang sudah lepas popok dan notabene lebih muda dari Rauhia. Seperti biasa aku tak kekurangan bantahan, biasanya yang tak jadikan dalih adalah karena aku belum punya banyak waktu lowong di rumah. Percakapan semacam itu segera berlalu, tapi diam-diam dalam hati aku kepikiran; rasanya susah dan jadi semacam mission impossible. Pikiran soal bagaimana jika ini dan bagaimana jika itu sering mengusik pikiranku. Ketika sudah begini, memoriku seperti mengundang beberapa ingatan atau informasi yang relevan; soal saudara yang sampai gede masih suka ngompol ketika tidur malam, soal anaknya teman yang lepas popoknya on-off menyesuaikan dengan kondisi fisik—dan batin—si ibu, soal proses toilet training anak teman lain yang jadi program multiyears dan lain-lain. What would my and Rauhia’s story look like?

Aku juga bukan tak pernah mendengar cerita sukses dan mudahnya toilet training, cuma pas mau tak jalani sendiri, rasanya kq lebih teringat sama yang susah-susah daripada yang gampang-gampang; seperti juga proses penyapihan. Sering timbul pikiran-pikiran nakal soal keterlibatan ‘orang pintar’ dalam life passage si bayi. Yang satu ini, kenapa ia hanya dilibatkan ketika penyapihan dan tidak ketika toilet training? Biasanya aku cekikikan sendiri lalu pikiran langsung berganti dengan 5 W 1 H toilet training Rauhia. Terkadang aku juga berusaha mengingat-ingat bagaimana dulu aku atau adik-adikku melakukan toilet training. Yang kuingat, dulu jaman adik lanang belum ada pospak sehingga umik sering menggunakan yang namanya ‘katok plastik’. Lain dari itu, aku hanya ingat dulu di suatu pagi, umik—yang ketika itu sedang di dapur—pernah memeriksa sekujur bagian celana panjang yang kukenakan untuk memastikan bahwa aku tidak ngompol. Aku juga tak akan lupa bahwa entah di usia berapa, aku sudah BAB—di kamar mandi barat yang lama—di WC lalu setelah kurasa hajatku selesai, aku akan mengirim pesan agar ada yang datang mencebokiku dengan kode ‘sudah’ senyaring-nyaringnnya. Ya, literally hanya itu yang aku ingat. 




***

Lalu Corona datang, aku WFH sejak 24/03/2020 (bahkan H-1 sebelum tmt surat edaran), dan pikiran untuk melepas popok Rauhia seperti menemukan momentumnya. Pikiran itu semakin menjadi begitu kutahu bahwa teman-teman sepantaran—lebih muda dan tinggal di sekitar rumah—Rauhia sudah mulai banyak yang lepas popok. Kisaran pekan keempat Bulan Maret ketika itu, aku memulai program toilet training Rauhia. Posisi popok juga sudah tinggal sedikit dan aku mulai lagi segalanya dari awal; melatih Rauhia secara teori dan praktik. Jika di percobaan pertama ia suka pipis di tempat yang spacy, both indoor and outdoor, kemarin dia sering sekali pipis posisi di luar rumah, minimal di teras depan. Aku tidak menemukan kesulitan berarti untuk membereskan bekas pipisnya. Untuk memperlancar proses toilet training, aku banyak bertanya pada mereka yang lebih pengalaman, termasuk Bu Lely yang putrinya sudah empat dan kupikir, meski anak termudanya masih pakai popok, Bu Lely sudah punya pandangan dan pengalaman yang otoritatif dari tiga kasus berbeda. Sepupuku yang anaknya uda dua dan yang termuda baru saja melepas popok sebelumnya pernah sesumbar bahwa it needs special—break—time yang membuatku makin yakin untuk segera memulainya; mumpung aku WFH. 

Tak hanya itu, aku juga menyiapkan sedikit amunisi berupa adjustable training pad dan dry pad yang kubeli di pasar daring. Yang pertama semacam celana khusus buat mereka yang lagi latihan lepas popok, sedang yang kedua adalah perlak khusus. Dua barang tersebut datang ketika aku sudah memulai program, istilahnya sambil jalan meski aku terburu-buru membukanya—karena senang dan penasaran—sehingga melupakan protokol keamanan dan kebersihan di musim Corona. Yang tak siapkan juga adalah mental, termasuk menanggapi komentar on why this must be so late, untuk mengepel di saat-saat lelah dan fluktuasi WFH, untuk menjaga tone saat memberitahu Rauhia dan lain sebagainya.  Meski belakangan, di lapangan, yang kuhadapi ternyata berbeda, persiapan seadanya itu tetap saja membantu. There has never been excess on preparation.

            Awal-awal toilet training, aku tak melepas popok Rauhia langsung sekaligus 24 jam. Bila bepergian dan tidur malam—karena dia jarang banget tidur siang—aku pakaikan popoknya. Jika keadaan normal di rumah, baru kulepas. Ketika tetangga sebelah menggelar hajatan dan aku harus rewang, aku tidak membawa Rauhia serta demi alasan jaga-jaga agar dia tak pipis atau BAB di rumah orang. Pada fase-fase awal ini, aku inget sekali bahwa Rauhia pernah ngeyel jalan-jalan di lantai yang baru kupel sehingga dia terjatuh dua kali. Antara sedih, terkejut dan marah, aku kembali mewanti-wantinya untuk do what I say unless you want something bad to happen just like this. Aku juga sangat sering menyaksikan ekspresi rasa bersalah ketika ia memberitahu baru saja pipis, seringkali langsung memberitahu lokasinya meski tanpa kutanyakan. Aku berusaha terus memastikan kesabaranku on-stock tapi mungkin kerasanya di dia, aku more or less intimidatif. Kadang aku melihat dia tertekan dengan omonganku yang itu-itu saja, things like “Hia, ngasihtaunya sebelum pipis ya, bukan sesudah pipis” atau “Hia, kalau mau pipis bilang ya”

            Apalagi, aku kerap menceritakan perihal teman mainnya yang sudah lepas popok. Tentu ketika mood-nya sedang baik dan kami berdua tidak tengah perang dunia. “Jadi, Hia sudah waktunya lepas popok juga, kalau mau pipis atau eek, harus bilang, biar bisa di Kamar Mandi,” begitu inti kalimat yang ingin kusampaikan. Lalu dia menyela dengan mengatakan bahwa apa yang kukatakan tidak benar, si teman bermain masih mengenakan popok. Belakangan aku ingat bahwa Rauhia memang lagi suka-sukanya  mengatakan dan mengulang kata ‘tidak’ atau kalimat balasan yang sifatnya menyanggah. Ini yang ikut menciutkan nyaliku dan seperti meyakinkan bahwa rencana ini tak akan berhasil dalam jangka waktu cepat.

            Aku juga belum menemukan bentuk ideal bagaimana mengatur jadwal buang air Rauhia, juga intensitas dia buang air. Jadi, kuikuti protokol bahwa bayi biasanya pipis setiap dua jam sekali. Setiap itu pulalah, aku mengajaknya ke KM. Awalnya dia antusias dan senang sekali, tapi begitu tahu bahwa ia ‘hanya’ diajak ke KM dan di sana doing nothing, dia selalu menolak ajakan-ajakan berikutnya. Ketika di KM, aku bahkan menyontohkan BAK tapi tetap aja dia tidak BAK; entah karena memang tidak ada cairan yang akan dikeluarkan atau tidak suka diatur seperti itu. Berkali-kali seperti itu, masuk ke KM hanya cebok meski nothing to clean and wash, akhirnya aku menyimpulkan bahwa dia tidak suka buang air by design. Dia suka naturally aja, jadi aku harus ikut ritmenya. Untuk menyukseskan ini, aku bahkan sempat memilihkan video-video toilet training untuk ia tonton dengan satu dua kalimat sugesti bahwa pipis harusnya di Kamar Mandi seperti yang aku sounding, aku dan orang lain lakukan dan seperti ditunjukkan oleh pemeran kartun di video-video tersebut. Im not sure whether it works, jadi hanya kulakukan sekali.  

            Adegan-adegan yang sama kembali terjadi. Nyaris setiap setelah ngompol ketika bersamaku atau anggota keluarga yang lain, akulah yang menceboki Rauhia. Aku menggunakan moment itu untuk bicara heart to heart padanya bahwa shes grown up dan saatnya untuk ngasihtau kalau mau buang air. Aku mengatakan bahwa memberitahu ingin pipis atau eek sama sederhananya dengan memberitahu bahwa ia capek (belakangan ia mengetahui kosakata ini dan berulangkali menggunakannya), ingin mik air, ingin mam nasi, ingin beli jajan dan lain sebagainya. Aku bahkan sempat mengiming-imingi dia untuk tak beliin jajan jika ia berhasil pipis di KM. Tapi, bukan gurat kegembiraan yang kubaca di wajah Rauhia. Ia tampak masih mencerna semua yang kukatakan. Well, show goes on.  

***
            Lalu musibah itupun terjadi. Selama toilet training, Rauhia pernah sekali BAB di celana ketika ia sibuk main outdoor. Aku tak terlalu kerepotan mengondisikan semua-muanya sebab aku tinggal menceboki dan mencuci celananya. Namun ketika itu, di suatu pagi, 28/03/2020, aku tengah menjemur cucian dan mendapati dia memberitahu bahwa baru saja BAB di karpet mushalla. Hiupt. Terbayang pekerjaan berat yang harus kubereskan, tapi aku buru-buru telling myself bahwa akan ada solusinya; cari jasa dsb. Aku lalu mencebokinya dan melanjutkan protokol toilet training. Siangnya, Rauhia diare dan dua kali BAB di outdoor. Kena ke mana-mana. Tapi yang paling worrying, I knew she was not in a good condition. Aku kemudian menghentikan sementara program toilet training, padahal ketika itu dia terlihat sudah mulai paham dan bisa kooperatif. Ketika siangnya ia terlelap, aku menumbuk kunyit dan daun jambu biji untuk menyembuhkan diarenya.

Malamnya, Rauhia tidur tak tenang, bangun, lalu muntah dua kali mengenai tubuh kami berdua. Aku melarikannya ke puskesmas setelah mandi dan me-nyeko Rauhia. Sepanjang jalan aku khawatir, meski Rauhia tidak demam dan tampak berusaha ceria di tengah kondisinya yang lemas. Aku mulai menyalahkan diri sendiri dan merasa terlalu intimidatif melaksanakan protokol TT. Belum lagi aku ingat insiden dia jatuh dari daun jendela dengan posisi yang sangat bikin histeris. Suasana di Puskesmas tampaknya membuat dia insecure; asing dan dua bidan yang lagi jaga malam ketika itu bermasker; mungkin kerasa aneh baginya. Otomatis ketika perutnya diperiksa, suhu tubuhnya diperiksa, bahkan ketika disuruh berdiri di timbangan, ia berontak menolak. Sepulang dari Puskesmas dan minum puyer, dia sangat senang menyantap roti yang kubeli sekalian dengan pospak langganan.  Ketika itu yang kupikirkan, wes gapapa tt-nya belum berhasil sekarang; yang penting Rauhia sembuh dan tidak tertekan.

***

Esok harinya adalah hari yang berat. Rauhia memang sudah tidak muntah tapi diarenya belum reda. Ia berkali-kali mengajakku ke kamar mandi, mengaduh sakit perut, lalu mengajak keluar setelah lama mematung di situ tanpa berhasil mengeluarkan apa-apa. Tentunya setelah meminta cebok meski sebenarnya tak ada yang perlu dibersihkan. Dia juga memilih posisi favoritnya. Berdiri menghadapku, menindih kaki kananku dengan kaki kirinya dan begitu juga sebaliknya, lalu memeluk erat lututku. Setelah keluar-masuk KM sekitar 7 kali, barulah ia berhasil mendorong keluar gumpalan le**ir yang kemudian disusul papita cair. Tak perhatiin, keluhannya menghebat sebelum si le**ir keluar. Untuk antisipasi, aku memakaikannya popok sehingga kami tak perlu bolak-balik sesering sebelumya. Akan tetapi, Rauhia tidak mau BAB atau pipis di popok. Setiap kali sakit perutnya datang, ia selalu mengajakku ke KM. Popoknya selalu bersih dan ia baru mau pipis atau BAB setelah popoknya tak lepas dan kami ambil posisi seperti biasanya.

Tak terhitung aku bolak-balik KM dengan emosi yang diaduk-aduk antara menyesal telah sedemikian rupa mengkondisikan Rauhia untuk TT, kuatir akan kesehatannya, lelah fisik karena aktivitas yang meski di situ-situ aja namun berulang dan monoton, hingga kepikiran tugas2 kantor yang terbengakalai karena masih menyesuaikan dengan model WFH. Cuma dari sekian banyak kabar buruk itu, aku melihat Rauhia mulai menunjukkan progress. Ketika pipis di KM dalam rangka menunggu si papita keluar dan berdamai dengan sakit perutnya, ia tampak mulai belajar bahwa pipis bisa dikendalikan oleh dirinya sendiri sehingga ada waktu untuk ngasihtau aku dan beranjak ke KM manakala hasrat tersebut inin ditunaikan. Ini tampak sekali ketika ia memintaku untuk menceboknya namun aku masih memastikan, ‘sudah atau lagi?’ Jika jawabannya yang pertama, maka aku akan langsun mencebokinya namun jika yang kedua, aku akan menunggu ia menuntaskan hajat.   

Hari itu juga aku mengajak Rauhia ke tukang pijet bayi yang menjadi langganan kami. Dibandingkan dahulu saat ia belum banyak mengerti apa-apa, Rauhia belakangan sudah mulai pintar protes setiap kali kami berkunjung ke rumah si dukun bayi. Ia mulai memahami bahwa ini bukan kunjungan biasa. Tak lama lagi si mbah akan memijat dirinya, menjadikan bagian-bagian tubuhnya sakit dan mungkin menurutnya melakukan ‘penyiksaan’.  Dulu pas dia masih bayi, yang juga masih kuingat, dia baru bereaksi nangis atau menunjukkan rasa sakit ketika si mbah sudah lama mulai memijat. Tapi belakangan, mungkin bermodal rasa takut, protes, juga manja, begitu melihat si mbah datang, biasanya parade tangis sudah dimulai. Dan begitulah hingga akhir sesi. Namun kemarin, aku melihat tangisnya lebih intens dan naik level; selain karena sudah lama tidak dipijat, badannya mungkin masih remuk redam abis kejadian salto be like kemarin. Pulang dari rumah si mbah, dia tidur lelap sekali masih dengan popok di tubuhnya. Malam hari ketika ia terbangun, popoknya masih bersih. Ia tampak mulai mengerti bahwa pipis atau eek harusnya di KM, bukan di mana-mana meski mengenakan celana/popok. 

Setelah dua hari yang berat itu berlalu, Rauhia mulai berangsur pulih dan semakin adaptatif dengan protokol TT. Ternyata durasi lama yang kami habiskan di KM mengajarinya banyak hal; dia seperti mulai faham fungsi KM apa dan di sana ngapain aja. Lain dari itu, aku merasa ikatan psikologis kami semakin erat karena kami nyaris tak terpisahkan. Rauhia mulai rutin memberitahu setiap akan pipis atau eek lalu aku akan langsung reaktif menggendongnya ke KM, membuka celananya dan membiarkan dia menunaikan hajat di situ. Aku lupa kapan tepatnya moment dia punya inisiatif begini dan mulai bisa kuperatif. Awal-awal, pipisnya tak bisa langsung keluar sebelum ia memeluk lututku erat namun belakangan, pelukannya semakin renggang dan ia pun berhasil pipis tanpa memeluk lututku dan dengan posisi default. Setiap kali berhasil, aku biasanya bercorak kecil mengatakan “juaraku” berulang kali sebelum menceboki dan menggendongnnya lalu menghujaninya dengan ciuman sambil berlagak berdua di depan kaca. Rasanya perjuangan terbayar kontan di situ.

Tentu saja itu bukanlah akhir segalanya. Bersamaan dengan kemampuannya memberitahu dan berkomunikasi perihal hasrat ingin buang airnya, Rauhia mulai susah diatur untuk segera mengenakan celana begitu ia keluar dari KM. Ia juga baru belajar jongkok dan masih suka menunaikan hajat sambil berdiri, sementara ajakan untuk jongkok di atas WC tak pernah tidak ditolaknya. Kadangkala ia memintaku mengenakan popok yang biasa ia gunakan meski tak pernah ia pakai lagi untuk menampung pipis atau papitanya. Pant yang aku beli juga tak banyak membantu karena kebetulan lagi musim hujan dan mengeringkannya butuh waktu beberapa hari, selain karena Rauhia tidak selalu mau mengenakannya. Sependek yang kuingat, masing-masing tiga pant itu baru ia pipisi sekali. Selain itu, selama proses ini, aku mencuci masing-masing perlak dan sprei satu kali; pertama ketika Rauhia masih diare dan kedua ketika di suatu pagi, ia tampak gelisah namun matanya masih terpejam sambil mencari ujung tempat tidur. Ia terbangun mendadak dan memberitahu bahwa baru saja pipis. Aku yang masih ngantuk mendadak langsun reaktif dan membawanya ke KM; pengalaman ngompol tidur malam yang semoga tidak terulang lagi. Dry pad kurang membantu karena ukurannya kecil sementara Rauhia ketika tidur tidak bisa anten di suatu posisi.    

Meski fase ini tampak nyaris selesai, aku tahu masih banyak pekerjaan lanjutan menunggu, utamanya memberi Rauhia pemahaman bahwa jika aku sudah kembali masuk kantor, ia tidak bisa selalu bergantung padaku untuk urusan menunaikan hajat ke KM. Juga perihal sebaiknya pipis sebelum tidur, sebelum perjalanan, dan lain-lain yang satu persatu mulai hadir di otakku. Long life, Emak2! Without you, this world will never be as beautiful as this.  





Meski dengan iming-iming 80 akan beranjak menjadi 100, kabar perihal semakin dekatnya jadwal Prajab (Latsar, istilah kekiniannya) bagiku tetap terasa jauh lebih dahsyat dibanding petir di musim kemarau. Ketika itu Rauhia belum genap satu tahun dan akupun belum genap dua bulan masuk kantor, sekitar pertengahan April 2018. Aku dan keempat temanku akan menjalani masa Latsar (sesi 1) selama 5 pekan dari akhir Apil 2018 hingga pertengahan Ramadhan, awal Juni 2018. Lokasinya di BDK Surabaya dan ini artinya program ASI 2 tahunku terancam gagal bahkan belum di separuh perjalanan.
            Salah satu keterangan resmi dari panitia penyelenggara dengan eksplisit menyebutkan larangan untuk membawa anak saat Latsar. Tentu saja nalar protesku main, semacam menuduh aturan itu tidak ramah bagi ibu menyusui dan program ASI di 1000 hari pertama anak atau yang semacanya. Meski begitu, aku tentu tidak hanya ngedumel dalam hati. Aku hubungilah beberapa senior yang memiliki pengalaman membawa anak saat Latsar. Di kampus aku ketemu Bu Lely, ibu tiga anak (ketika itu) yang sempat membawa anak pertamanya saat Prajab. Selain itu ada juga Aida, temen sejurusan dan seangkatanku di S-1 yang juga berpengalaman sama. Bedanya, Aida ikut Prajab di BDK Semarang, sedang Bu Lely di BDK Surabaya.
            Jadilah aku lebih intens komunikasi dengan Bu Lely, selain karena Aida jauh di sana dan Bu Lely deket di sini, sekampus denganku dan sangat friendly saat pertama kali aku SKSD-in di media sosial. Aku ingat sekali di suatu sore, sebelum jam kantor selesai, aku datang ke ruangan Bu Lely, ngobrol banyak dan lama sampai nyelo giliran mahasisiwa yang sepertinya mau bimbingan skripsi dan itupun masih bablas jam ceklok pulang. Kami keasyikan ngobrol. Bu Lely yang ramah, detail dan tidak pelit info dengan aku yang sangat excited mendengarkan ceritanya.  Kemudian seingatku, aku kembali janjian untuk bertemu Bu Lely, sekian hari menjelang keberangkatanku untuk mengambil pinjaman cooling bag dan ice gel serta memintanya memeragakan cara kerja bottle sterilzer milikku yang aku sendiri tak tahu bagaimana cara mengoperasikannya (ampuni aku.)
            Berbekal saran dari Bu Lely dan obrolan dengan beberapa kakak tingkat, termasuk perihal mereka yang juga menjalani Prajab di tengah-tengah masa menyusui tapi memilih untuk LDR dengan anaknya, akupun menyiapkan diri dan segala keperluan sebisa mungkin di tengah-tengah gejolak emosi yang sangat jauh dari stabil. Perihalnya satu; aku harus mendapatkan rewang karena tak mungkin ‘bersekolah’ dan dalam waktu yang sama mengurus Rauhia. D day keberangkatan semakin dekat dan aku masih bingung mendapatkan rewang yang memenuhi sederet kriteria untuk menjaga Rauhia sementara aku berkegiatan selama di BDK. Ketika itu aku masih nge-blank di BDK mau ngapain aja. Yang ada di pikiranku hanyalah bahwa aku tak ingin jauh dari Rauhia dan karenanya aku harus mencegah hal itu terjadi.   
            Komunikasi darat maupun udara aku gencarkan untuk mendapatkan rewang. Beberapa hari pertama pencarian belum memberikan hasil. Aku sampai selalu berkaca-kaca setiap menceritakan keadaanku dan meminta tolong kolega untuk membantu mencarikan rewang. I did it many times dan everytime of it, aku selalu merasa tak kuat menahan air mataku. Ketika itu emosiku juga sedang kacau-kacanya karena lagi jadi-jadinya didera perasaan bersalah meninggalkan Rauhia seharian di rumah. Keajaiban pertamapun terjadi. Lewat sambungan telepon, umik mengabariku bahwa ada saudara yang siap kuboyong ke Surabaya selama lima pekan. Umik percaya kompetensi dan keterampilan orang tersebut sehingga aku ikutan percaya meski belum mengenalnya dengan baik dan hanya pernah bertemu beberapa kali.
            Rewang sudah checlisted. Selanjutnya adalah tempat kost. Menurut Bu Lely, Aida dan beberapa informan lain, larangan membawa anak ke BDK berarti larangan membawa anak turut serta bubu dan tinggal di BDK. Alternatifnya, jika mau membawa anak, maka anak bisa dikoskan di sekitar BDK dan sang ibu bisa mengunjungi kost setiap kali ada waktu selo. Menyadari bahwa persoalan ini juga tak kalah penting, aku memutuskan untuk survey lokasi ke BDK sebelum hari H keberangkatan. Bersama Rauhia, suami dan seorang teman yang tak mintai tolong jadi sopir. Perjalanan ke Surabaya tersebut sekaligus menjadi momen pertama membawa Rauhia jalan jauh. She is fine, tidak mabok dan relatif tidak rewel.
            Mumpung bawa kendaraan pribadi (maksudnya bukan kendaraan umum), akupun membawa sebagian barang yang sudah tak catat pas obrolan dengan Bu Lely. Bayangannya sampai TKP akan cari kos, bayar DP, lalu naruh barang di situ agar ketika berangkat pas D-day, barang yang dibawa tidak teralu bejibun. Jadilah menjelang siang, kami berangkat dari Pamekasan dan sampai TKP menjelang maghrib. Nyaris tak ada hambatan berarti sepanjang jalan kecuali dua titik macet di pasar tumpah Mbangkalan sama kejebak arus pulang kerja ketika baru masuk Surabaya. Eh hari itu Sabtu sepertinya, berarti arus berangkat satnite-an.
***
Sesampainya di BDK, kami disambut ramah bapak-bapak Satpam. Aku sudah lupa namanya tapi aku masih ingat wajah dan posturnya plus tidak akan lupa ceritanya. FYI kami memang sengaja mengunjungi BDK terlebih dahulu sebab menurut CP BDK, ada baiknya kami minta tolong Satpam untuk mencarikan kos. Singkatnya begini; begitu kututurkan bahwa keperluanku adalah mencari kos karena aku akan membawa anak bayi, si satpam malah mengatakan bahwa panitia menyediakan kamar khusus untuk peserta yang membawa bayi. Karena keterangannya berbeda dengan informasi yang kuterima, aku memastikan kebenarannya. Ia bertanya pada rekannya dan si rekan justru menunjukkan lembaran berisi list kamar dengan kolom nama peserta yang masih kosong serta keterangan yang menunjukkan adanya kamar khusus untuk ibu yang membawa bayi.
Apakah sampai di situ saja? Tentu tidak. Aku bahkan diberi kesempatan memindah barang bawaan di mobil ke kamar yang dibilang sebagai kamar khusus ibu yang membawa bayi tersebut. Bapaknya memberiku kunci E10, mengantarkanku ke situ dan membukakan pintu. Aku memindah barang-barang sambil tak henti bersyukur dalam hati meski masih ada sedikit pertanyaan mengapa ada yang kres antara edaran resmi dengan keadaan di lapangan. Well tapi aku sudah merasa sedikit lega dan beban di kepala terasa tak seberat sebelumnya. Bukan cuma soal uang yang tak anggarin buat kos kemudian bisa tak alihkan ke yang lain, tapi yang lebih penting juga jarak antara aku dan Rauhia yang tak harus berjauhan. Sebelum pulang dan pamitan, aku sempat poto2 lalu mengabari beberapa orang perihal kabar baik tersebut.
***
Hari pertama Latsar, karena jadwal acara pertama masih jam 11 siang, aku dan kedua temanku berangkat pagi dari Madura. Dari rumah, aku diantar dengan banyak sekali barang bawaan (persis dengan orang pindahan kos) bersama Rauhia dan mbak Nur, rewang yang secara hubungan saudara masih kemenakanku. Di kampus, aku janjian dengan Mas Oji, teman angkatan yang juga akan ikut Latsar serta Mas Usman, kakak angkatan yang kami pinjam mobilnya sekalian minta tolong ybs untuk mengantarkan kami ke BDK. Dibandingkan bawaanku yang masyaAllah banyak banget, Mas Oji hanya membawa satu kopor yang relatif tidak besar. Kamipun basa-basi sebentar, lalu suami pulang duluan sebelum aku berangkat sementara Mas Usman dan Mas Oji masih mengondisikan beberapa hal.  
Tiga yang lain ke mana? Mba Ria berangkat dari Jogja, Mas Kudrat dianter oleh mertua dan keluara besarnya (konon karena satu-satunya mantu yang PNS haha) dan Mas Umam nunggu kami di Sampang kota, rumahnya. Sepanjang perjalanan, meski banyak tertawa dan bercanda, perasaanku tak nyaman luar biasa. Berbagai hal yang tak pikirin silih berganti di pandangan, bagaimana jika, bagaimana jika, bagaimana jika dan seterusnya. Rauhia seperti biasa masih relatif kooperatif. Aku berharap dia akan tetap sehat dan bertumbuh dengan baik meski harus menghabiskan banyak waktu dengan orang baru di tempat dan suasana yang juga baru.
Kami sampai di BDK dan buru-buru menyelesaikan persoalan administrasi karena ternyata acara dimajukan. Aku sempat pindah kamar ke E9 karena E10 ternyata sudah penuh dan tidak ada space tempat tidur untuk mbak Nur. Kutinggalkan Rauhia, mb Nur dan barang2 yang sudah dipindah dari mobil ke situ lalu bergegas ke lokasi acara di lantai 2. Selain seremonial pembukaan dan teleconference, ada juga acara ramah tamah dialog yang sialnya sempat nyrempet soal membawa anak ke BDK (pertanyaan awalnya kalau tidak salah adalah soal ibu menyusui; penyewaan freezer dan lain sebagainya). Yang disampaikan Kasi Diklat ketika itu, Pak Muslimin, sama dengan yang ada di sebaran; boleh bawa anak tapi harus tinggal di kos. Di situ aku down dan bingung harus mencari kepastian ke mana; lebih tepatnya bingung harus mencari siapa untuk bisa membela posisiku.
Setelah acara seremonial itu, aku sempat mengungkapkan kegundahanku pada Mahfud, teman satu korp yang tak kuduga juga ada di situ. Kami sepakat untuk mendiamkan persoalan ini tapi aku tak bisa sesantai itu; aku masih kuatir akan ada hal tak diinginkan di depan mata. Aku pribadi bukan tak terbiasa dengen kejutan-kejutan dalam hidup mulai dari yang tak diinginkan hingga yang kedatangannya sama sekali mengejutkan, tapi persoalannya jadi berbeda karena ini bersangkut paut dengan Rauhia. Dari kegundahan itu, entah kenapa kakiku melangkah menuju meja resepsionis, sebab aku merasa ibu yang menjaga meja itu lalu tanpa beban memberiku kunci kamar lain paham posisiku. Barangkali karena dia juga ibu-ibu, seperti yang belakangan diceritakannya padaku. Terlebih ia juga memegang kertas list kamar yang kemarin sempat ditunjukkan Pak Satpam di kunjunganku yang pertama.
Aku menceritakan singkat apa yang aku dengar barusan, termasuk kronologi aku datang ke BDK pertama kali lalu diberitahu bahwa blablabla. Ibunya ramah sekaligus menenangkan, ia mengadukan persoalanku pada Bapak Kasi duh aku lupa. Aku juga masih inget wajah dan postur si bapak, meski lupa namanya dan tentu saja aku masih sangat ingat apa yang dikatakannya. Kurang lebih, menurutnya, aku bisa menempati kamar khusus ibu yang membawa bayi. Tidak ada masalah. Aku lega nyaris 90% karena apa yang disampaikannya sekaligus menjadi tanda ‘sah’ berpindahtangannya kunci E9 padaku. Barangkali si bapak adalah salah satu atasan sehingga keputusannya bisa sekaligus menjadi instruksi bagi si ibu-ibu resepsionis untuk mencatat namaku di list-nya sebagai penghuni E9.  
***
            Sementara itu, kami bertiga menempati kamar E9 tanpa peserta lain. Serasa kamar kos sendiri. Meski begitu, Rauhia tampak sangat tidak nyaman dengan suasana asing nan baru itu. Apalagi dia harus mandi air dingin. Aku ingat sekali pertama kali mandi di situ, Rauhia nangis jerit2 kedinginan. Aku pribadi tak sempat ada space untuk sekadar mengukur apakah aku betah atau tidak. Pikiranku lebih fokus pada bagaimana Rauhia menjalani hari-hari asingnya di tempat baru. Ketika malam, ia cukup sering bangun dan tangisnya lebih sering terdengar dibanding biasanya. Tetangga kamar sempat menanyakanku soal ini dan aku masih berharap keadaan akan membaik; Rauhia akan semakin betah dan tidak menangis sesering itu.
            Esok harinya, 1 Mei, Mayday, kegiatan mulai padat. Pagi kami sarapan lalu apel, abis itu dapat materi sampai jam istirahat sekitar jam 12 siang. Materi pertama yang kami dapatkan adalah semacam perkenalan, aku lupa nama persisnya apa. Fasilitatornya Ibu Fika yang belakangan menjadi mentor-ku untuk laporan aktualisasi. Setelah makan siang, kami kembali ke kamar masing-masing untuk semacam Ishoma (ma-nya mungkin mandi atau main2 hape). Aku pulang ke kamar E9 dan bermain seadanya dengan Rauhia. Ketika itu Rauhia baru belajar berjalan dan tingkahnya belum semerepotkan sekarang. Lumayan lama di situ, ternyata ada ketokan pintu yang lumayan keras hingga perasaanku seketika berubah tak nyaman kembali. Aku seperti mulai memanggil semua kekhawatiranku datang dan menyerbu.
            Dengan masih menggendong Rauhia, aku membuka pintu. Kudapati sosok seorang bapak2 di sana yang raut wajahnya jauh dari ramah. Ia memintaku segera membawa Rauhia dan mbak Nur keluar dari BDK karena menurutnya, membawa anak ke BDK tidaklah dibenarkan. Mendengar itu, aku coba menguasai emosiku agar bisa berargumen dan negosiasi sebisanya. Aku ceritakan kronologi yang kualami dari awal termasuk kunci kamar yang diberikan padaku atas keputusan bapak2 setelah ia di-tembung oleh ibu-ibu resepsionis. Sayangnya, si bapak jauh dari empati, bahkan simpatipun tidak. Boro-boro mendengar penjelasanku sampai selesai, ia malah memintaku segera membawa anak dan rewang-ku keluar sore itu juga. Wajahnya bengis sekali. Ia berlalu dari hadapanku dengan posisi masih bergumam menyalahkanku yang menurutnya ‘tidak tahu aturan’.
            Aku panik bukan main dan masih mencoba mencari solusi yang win-win. Aku datangi kantor BDK—masih dengan menggendong Rauhia—berharap di sana ada bapak2/ibu2 yang akan peduli pada kondisiku dan tidak seenak itu menyuruhku membawa anakku keluar; apalagi dengan adegan pengusiran bertenggat waktu yang bagiku sangat tidak ramah sekali terhadap peserta berkebutuhan khusus. Sayang, ketika itu, tidak semua karyawan masuk kantor. Seingatku hanya sedikit sekali yang ngantor karena bertepatan dengan tanggal merah. Hanya ada segelintir pegawai yang masuk dan sialnya, tak ada satupun yang memberiku solusi selain membawa anak dan rewang-ku keluar BDK. Jangankan bertemu dengan kepala BDK, bapak2 atasan lain juga tak kutemui di situ sehingga aku merasa benar-benar berada di waktu dan tempat yang salah, seperti John Mc Clane di film Die Hard.
            Orang-orang yang kutemui di kantor BDK siang itu, betapapun dengan ekspresi yang berbeda-beda melihat air mataku yang mungkin sudah menggenang tapi tak tahan sekuat mungkin untuk tidak jatuh, terlihat sangat tidak peka dengan kebutuhan khusus sebagian kecil peserta Latsar. FYI di situ bukan tak ada perempuan, dan rasanya dia juga seorang ibu, cuma mungkin ybs kurang peka karena tak pernah mengalami kejadian serupa, terlalu strict pada aturan atau apalah alasan lain. Rasanya aku benar-benar menjadi bagian dari minoritas ketika itu dan yang kurasakan persis seperti narasi-narasi yang kerap aku baca. Aku beneran mengalami betapa kaidah ‘aturannya sudah seperti itu’ seringkali menjadi senjata ampuh untuk menyelesaikan negosiasi tanpa mau melihat apakah aturan itu masih relevan atau tidak dengan semua lapisan stakeholder.
            Aku patah arang. Kuciumi Rauhia berkali-kali, berharap ada kekuatan dan energi positif dari dia yang belum sama sekali mengerti apa yang terjadi; meski mungkin ia merekam percakapan-percakapan saat aku seolah-olah mencari keadilan. Aku tahan air mataku agar tak jatuh dan kubawa kembali ia ke kamar; aku berganti pakaian lalu bersiap ke kelas selanjutnya. Ketika aku datang, kelas sudah dimulai dan ternyata aku telat cukup lama karena tadi saat kuputuskan untuk segera ke kantor BDK, aku tak melihat jam dan terlalu gupuh untuk berpikir normal. Aku mendengarkan diskusi di kelas dan tanpa malu mengacungkan tangan untuk bertanya ketika sesi pertanyaan; padahal aku baru datang dan duduk di situ tak kurang dari 10 menit.
            Terbata-bata, aku mulai pertanyaanku dengan isu kebutuhan khusus ibu dan anak yang sempat ditampilkan di salah satu slide meski aku tak tahu pasti maksudnya apa. Aku bahkan, saat itu, tak tahu materinay apa. Saat itu fasilitatornya Pak Islam, bapak2 murah senyum yang baik hati. Aku lalu mulai menceritakan apa yang kualami dan tangisku pecah di situ; hari pertama di kelas kedua aku sudah mewarnai kelas dengan curhatan ala ibu-ibu yang berasa tak berdaya di hadapan sistem yang menurutnya tak ramah anak dan ibu menyusui. Kelas hening, semua mendengarkan ucapanku dengan isak tangis di sela-selanya. Aku menyampaikan semua yang ada di pikiranku perihal kronologi, pemberitahuan mendadak yang sangat tidak ramah dan menguatkan posisi bahwa aku bertindak tidak atas inisiatifku sendiri, tapi dari berbagai idzin dan prosedur yang menurutku masuk akal.
            Pak Islam, setelah aku selesai berbicara, mengambil alih pembicaraan dan mencoba meredam emosiku, meski yang disampaikannya tak jauh berbeda dengan yang aku dengar tadi. Bedanya, ia memberiku solusi; nanti saya minta tolong Satpam untuk bantu carikan kos. Aku sedikit lega meski masalah belum teratasi. Minimal, pikirku saat itu, ada orang yang bersimpati pada yang kualami dan di hari itu, di tempat itu, masih ada pejabat yang tidak seenaknya sendiri memperlakukan stakeholder tanpa mau mendengarkan penjelasan yang bersangkutan. Setelah selesai kelas Pak Islam, aku kemudian mencari kos bersama Rauhia, mb Nur, dan salah satu bapak2 satpam yang, maaf, aku lupa lagi namanya, tapi wajahnya yang menenangkan masih sangat aku ingat; termasuk ketika ia berjanji akan meminjamkan kipas angin di pos Satpam padaku jika aku jadi kos di tempat yang tak menyediakan fasilitas kipas angin.  
            Aku berjalan kaki menyusuri area perumakan sekitar BDK untuk mendapatkan tempat yang representatif. Ini penting karena sekali lagi, aku tengah menyiapkan tempat untuk anak bayiku, bukan untukku sendiri. Kosku terakhir di Jogja, 2015 lalu, adalah kos murah dengan biaya sewa 1.5 juta/tahun dengan fasilitas yang sebenarnya tidak jelek-jelek amat. Tapi tentu keadaannya berbeda dengan kos bulanan, di Surabaya dan pada tahun 2018. Di tengah-tengah proses mencari kos itu, aku banyak teringat dengan petualangan mencari kos di Jogja meski pada akhirnya aku kembali pada apa yang kuhadapi ketika itu; ternyata aku berpikir terlalu jauh soal komitmen dan kesiapan pemerintah untuk meningkatkan kepekaan terhadap warga dengan kebutuhan khusus melalui pemerataan infrastruktur yang ramah difabel, ibu hamil dan menyusui serta anak kecil. Ternyata aku terlalu mudah menganggap apa-apa yang aku idealkan dalam bacaan-bacaan terkait akan dengan mudahnya terealisasi. In fact, perubahan ke arah situ belum benar-benar terasa, setidaknya bagiku. Jadi ingat toilet khusus ibu dan bayi di tempat-tempat umum di Australia; dan versi lainnya di bandara Soetta 2016 lalu.
            Meski masalah belum terurai karena aku merasa belum menemukan tempat kos yang layak anak dari segi lingkungan, fasilitas dan semuanya, aku merasa senang dan terkuatkan oleh orang2 sekitar yang mensupport-ku lahir batin. Sore setelah mencari kos, teman-teman Serangkul datang berkunjung. FYI di antara mereka berempat, hanya Mas Umam yang sekelas denganku sehingga dia sendirilah yang secara langsung mendengar curcolanku. Sementara itu tiga lainnya di kelas sebelah dan barangkali baru mendengar belakangan. Bertemu mereka orang2 yang dua bulan belakangan mengisi hari-hariku, mendadak ketegaranku tumbang lagi; seperti ingin wadul atas semua yang terjadi. Mereka menguatkanku dan meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja; mereka akan available kapanpun aku membutuhkan bantuan dan aku tak sendiri menghadapi itu semua. Ada juga mba Ririn dan mba Citra dari IAIN Kediri, yang juga sekelas denganku dan secara khusus berkunjung ke kamarku untuk memberi support mental. Sungguh aku merasa masih sangat beruntung setelah sekian ketidakberesan yang kualami.
            Tak selesai di situ. Malamnya, tetangga kamarku, mba Nurul yang sedang hamil anak kedua, menemaniku mencari kos. Ketika itu ia disambangi suami dan anak pertamanya lalu aku nebeng mobilnya untuk mencari kos di sekitar BDK. Karena sudah tidak pakai sikil, jangkauan kami lebih banyak meski aku mengkhawatirkan jarak yang harus aku tempuh setiap akan mengunjungi Rauhia. Suami mba Nurul, aku lupa nama tapi masih ingat wajahnya, juga luar biasa baik mau direpotkan oleh kenalan atau teman baru istrinya yang sama sekali belum pernah bertemu. Kami mengunjungi 3 atau 4 tempat untuk di-survey dan masnya lah yang turun, bertemu resepsionis dan menanyakan harga. Aku dan mba Nurul serta anak masing-masing, Rauhia dan Zizi, menunggu di mobil sambil ngobrol2. Masya Allah aku tak tahu bagaimana menggambarkan betapa bahagia dan bersyukurnya aku saat itu. Di tempat terakhir, setelah masnya turun dan menanyakan harga lalu kami menemukan semacam titik terang, aku dan mba Nurul ikutan turun dan melihat kondisi kamar. Harganya relatif murah, tempat sangat dekat dengan BDK dan fasilitas lumayan.
            Jadilah akhirnya, 90% diputuskan aku akan menyewa kamar kos dengan harga termurah di semacam guesthouse itu. Malam itu aku bisa tidur cukup nyenyak tanpa ancaman extradition, kata Dominic Toretto. Aku sengaja tidak terlalu mempersoalkan tenggat waktu yang diberi si bapak bengis tadi, sebab aku tak ingin sembarangan menyewakan kamar untuk Rauhia jika tidak benar-benar layak untuknya.  Selain nama-nama yang kusebut tadi, salah seorang teman, namanya Fajar dari UIN Malang, juga sempat menanyakan perihal kasus yang tengah aku alami di sela-sela nunggu jam makan malam. Kepedulian, bantuan fisik hingga non-fisik, simpati dan empati dari teman-teman begitu berarti buatku ketika itu. Setidaknya, kalaupun aku sudah terlanjur kecewa dengan sistem dan aturan yang saklek dan tak ramah, aku masih diuntungkan dengan guyub-nya orang-orang di sekitarku; one thing yang mungkin ga bisa dengan mudah aku temui di tempat lain. Perkara ada orang lain yang memandangku berlebihan atau anggapan buruk lainnya, alhamdulillah aku tidak diberi akses untuk mengetahui hal tersebut. Itu juga bukan urusanku. 
            Esok sorenya, setelah semalam nebeng mobilnya mb Nurul yang platnya M dan kalau digabung dengan angka dan huruf di belakangnnya jadi kebaca Mesir, aku dibantu teman-teman Serangkul pindahan ke kos sebelah dengan nebeng mobil mb Dian. Mb Dian adalah penghuni lain kamar sebelah yang juga tengah hamil tua dan siap siaga kalau sewaktu-waktu dia kontraksi dan mau lahiran. Mobil merah miliknya sudah terparkir di depan E10 sejak hari pertama Latsar. Aku juga ingat bahwa sebelumnya, saat bingung-bingungnya mencari suaka, mb Dian pernah menawariku kos-nya yang meski cukup jauh dari BDK, layak untuk dihuni Rauhia barang semalam dua malam. Nyaris tiada yang lebih membahagiakan dibanding dukungan dari banyak orang di tempat yang sama sekali baru. Sebelum ke kos, kami belanja keperluan dulu mumpung lagi idzin. Mas Kudrat yang nyopiri, mb Ria ikut, aku mb Nur dan Rauhia. Sementara Mas Oji dan Mas Umam nunggu di BDK dan akan segera available begitu kami selesai belanja dan akan menggotong barang2 dari mobil. FYI mereka berdua juga ikut membantu pindahin barang dari kamar E9 ke mobil.
***
            Pindahanpun selesai. Kamar Rauhia cukup layak dan ramah anak. Spring bed besar, KM mandi dalam dengan heater, TV dan AC. Ada ruang tamu bersama yang cukup lebar, dapur, kulkas, freezer serta tempat jemuran umum. Meski harus menghabiskan nyaris uang gaji dalam sebulan, itu tak menjadi masalah besar. Toh aku makan enak di BDK 3 kali sehari, coffee break 2 kali sehari dan beberapa kebutuhan dasar sudah terbeli. Aku merasa keadaan mulai membaik dan ramah padaku, meski aku masih harus menghuni kamar E9 seorang diri LITERALLY. Again, itu seperti tak menjadi masalah berarti mengingat Rauhia sudah jauh lebih nyaman dan kooperatif. Ancaman si bapak bengis untuk segera memindahkanku ke kamar reguler bersama dengan teman-teman lain tak terbukti, persis seperti yang aku perkirakan. Rasa lelah dan kantuk setelah seharian beraktivitas mempermudahku untuk segera terlelap tanpa berpikir terlalu banyak perihal beberapa hal di tengah suasana sunyi sendirian semacam itu. 1 kamar besar dengan 4 tempat tidur, satu kamar mandi, lemari, meja dan kursi dengan satu orang penghuni yang keadaan emosinya belum sepenuhnya stabil.
            Keajaiban dan pertolongan Tuhan kembali terjadi. Tak berapa lama dari itu, mb Citra yang pernah menyambangiku setelah tragedi extradition yang sangat traumatik kemudian pindah kamar dan sekamar denganku. Ia ketahuan hamil anak ketiga dan untuk memastikan semuanya baik-baik saja, dia pindah ke kamar E9 yang posisinya di lantai1 sehingga tidak perlu terlalu sering naik turun tangga. Jadilah aku tak sendiri lagi. Ada teman ngobrol dan diskusi, meski memang mb Citra sering tak tinggal sebab di luar jam kelas dan kegiatan formal lain, aku pasti akan ngacir ke kos. FYI untuk bisa bolak-balik ke kos Rauhia sesering mungkin dalam sehari, aku mengurus surat idzin khusus ke Kasi Diklat. Tajuknya, kalau tidak salah, adalah surat idzin menyusui. Di situ terdata beberapa jam kunjungan di mana aku bisa bebas keluar tanpa harus idzin ke Satpam seperti biasa.  Aku kemudian menunjukkan surat itu ke Satpam sehingga ketika akan keluar dan masuk BDK, aku tinggal pasang senyum saja.
            Meski sudah mendaftar kurang lebih 4 jam kunjungan (pagi sebelum apel, siang jam istirahat, sore setelah kelas dan setelah isya atau tarawih, seingatku), ada beberapa kejadian tak terduga. Misalnya adalah saat Rauhia tak bisa dikondisikan tengah malam dan aku harus keluar BDK dini hari itu juga untuk menenangkan Rauhia. Atau ketika aku ketiduran di kos dan malam sudah sangat larut, sehingga sering tak putuskan untuk nginap saja. Awalnya aku backstreet aja tapi lama-lama akhirnya ketahuan. Aku jelaskanlah keadaan seapada adanya mungkin pada pihak-pihak terkait, Kasi Diklat yang memberiku idzin serta bapak-bapak Satpam yang siaganya melebihi McD, 24/7. Akhirnya disepakati bahwa pedoman yang dipakai adalah ‘tidak dengan sengaja’ keluar di jam-jam yang tak tertera di surat idzin. Fair enough. Saking seringnya bolak-balik BDK-kos, aku belakangan lebih suka mandi di kos karena ada fasilitas air hangatnya. Setting KM kos juga memungkinkan Rauhia untuk mandi gaya baru, yakni tidak duduk atau berbaring di atas lincak. Ia bisa berdiri berpegangan kemudian diguyur air hangat. Berkat informasi Bu Lely untuk membawa cebok dan ember kecil, kami bertiga terselamatkan dari cultural shock dalam kamar mandi yang tak menyediakan cebok apalagi bak mandi.
            Hal lain yang berbeda dari kamar kos Rauhia—dibanding kamarnya di rumah—adalah keberadaan TV serta AC. Keluhan Rauhia bangun malam atau dini hari karena kepanasan jadi nyaris tak pernah terjadi karena AC siaga all the time. Keberadaan TV juga sangat membantu mengalihkan perhatiannya ketika aku harus mengendap keluar kamar saat akan ngacir ke BDK. Untukku pribadi, kamar Rauhia juga sangat menyenangkan karnea ada sambungan waifai. Di BDK, waifai hanya menjangkau ruang kelas dan tidak sampai ke kamar. Lain dari itu, yang lebih penting, mb Nur sangat siaga dengan segala kebutuhan Rauhia. Mulai dari makan, diajak main, dikeloni tidur, diajak jalan, digendong dan remeh-temeh lain. Selain seorang ibu dengan dua anak yang sudah beranjak dewasa, dari sono-nya mb Nur memang telaten dan sayang anak kecil. Ia rutin mengajari Rauhia berjalan dan setiap coffee break pertama, ia membawa Rauhia ke BDK untuk kususui. Jadi, hitung-hitungannya, dibandingkan hari-hari kerja biasa, Rauhia sebenarnya lebih intens menyusui selama kami di BDK.   
            Dari sekian banyak hal itu, aku merasa keadaan benar-benar semakin membaik. Di kamar BDK, aku banyak mendapatkan obrolan bernas dengan mb Citra. Aku juga bisa sedikit membantunya melewati masa-masa morning sickness dengan membawakannya makanan atau cemilan saat yang bersangkutan sedang tidak dalam kondisi sehat dan memungkinkan beraktivitas terlalu berat. Sementara itu di kelas, suasana tak kalah menyennagkan; keakraban yang perlahan mulai terjalin, keseruan saat diskusi dan presentasi, tugas-tugas di lapangan maupun di kelas dan banyak lagi yang pada akhirnya membuatku merasa, masio 5 pekan adalah waktu yang lama, terasanya tetap seru dan memorable. Kami tak hanya ‘dimanjakan’ oleh fasilitas di BDK, mulai dari layanan kesehatan gratis hingga konsumsi yang—meski didominasi sayur kuah—turah-turah, tapi juga dibikin enjoyable dengan jadwal tentatif monoton dengan sedikit variasi di antaranya; wiken boleh pulang, Stula dua kali, materi bela Negara dari Kodim Brawijaya, obrolan di luar kelas, rujakan, keroyokan oleh-oleh dari yang baru pulang, olahraga Jumat pagi, hingga benih-benih cinta lokasi.  
***
            Soal extradition yang kualami sempat aku ceritakan pada Kepala BDK, Pak Thaha yang kalau kasih ceramah/amanah apel benar-benar mengaduk-aduk emosi kami para pendengarnya. Momentumnya-pun tak terencana; malam itu aku baru pulang dari kos dan mendapati Pak Thaha sedang berjalan santai sambil melihat suasana BDK. Kalau aku tak salah ingat, ia menginap di BDK malam itu setelah paginya ada kejadian bom bunuh diri di tiga titik di Surabaya. Ia menegurku yang pulang malam tergesa lalu kuceritakan semua yang kualami. Bagusnya Pak Thaha, ia nyaris tak berkomentar apapun tapi ia mampu membuatku menumpahkan segala hal yang aku ingin utarakan. Otomatis, dia juga tak menyalahkan siapa-siapa. Ia cukup mendengar semua yang tak sampaikan tanpa ada kesan kalau dia melewatkan apa-apa yang kusampaikan atau tidak memerhatikan. Minimal, setidaknya menurutku, yang juga kusampaikan implisit padanya, jika kebijakan soal larangan membawa anak ini belum bisa ditinjau ulang, setidaknya tidak ada kasus yang sama atau lebih buruk seperti yang kualami.
            Sampai tulisan ini akan aku akhiri, aku belum tau pasti mengapa sempat ada miskomunikasi yang sesistematis seperti yang kualami. Ibu-ibu resepsionis yang tetap ramah padaku, belakangan, sempat mengatakan bahwa aku dikenakan kebijakan yang berbeda dari yang diinformasikan sejak awal (kebolehan membawa anak ke kamar khusus) untuk menghindari kecemburuan sosial di antara busui-busui lain yang tidak mendapatkan informasi ini sejak awal (should I be victimized then?). Sementara itu, sehari setelah kasus pengusiran anak dan rewang-ku, ketika apel (pagi sebelum sorenya aku pindah kos), pembina apel mengatakan dalam amanahnya bahwa alasan mengapa membawa anak tidak diperbolehkan adalah karena kekhawatiran BDK dianggap day care atau yang semacamnya (segitu amat ya, mikirnya?)
            Padahal, sepembacaanku, masalah ini sebenarnya masih furu’iyyah sebab suatu ketika, dalam adegan buru-buru balik BDK juga sepulangnya dari kos, seorang bapak-bapak (dia juga pejabat, Kasi Rumah Tangga kalau tidak salah gt nomenklaturnya) menanyaiku; baru dari mana dan lain sebagainya. Setelah kuceritakan kejadian yang kualami, dia menyayangkan mengapa alurnya harus demikian. Menurutnya, anak dan rewang-ku sebenarnya bisa tinggal di BDK, toh banyak kamar nganggur, dengan membayar biaya khusus. Keterangannya jauh berbalik dengan alasan bapak bengis yang mengusir anak dan rewang-ku dengan mengatakan bahwa alasannya adalah karena BDK mau kedatangan banyak peserta dan kekurangan kamar. Saat itu, sayangnya, Rauhia dan mb Nur sudah nyaman tinggal di kos dan akupun sudah membayar biaya kos untuk sebulan. Meski demikian, setidaknya, aku menyimpulkan, bahwa tidak semua pejabat di BDK tidak peka. Beberapa di antaranya masih ada yang sangat sensitif terhadap kebutuhan seluruh peserta dengan berbagai ragamnya, tidak strict terhadap aturan jika sudah jelas-jelas tidak relevan dan tidak suka membikin persoalan yang sederhana jadi ribet dengan bumbu ini dan itu di sana-sini.  
            Dan yang terakhir, yang mungkin juga terpenting, aku demikian bersyukur sebab dengan alur yang awalnya banyak suspense itu, aku berhasil menyelesaikan masa pendidikan di Latsar. Dibanding nakal dan bolosnya, aku lebih banyak muthi’ dan disiplinnya hehe. Meski tidak rutin jemaat di masjid dan tarawih langganan ambil yang paket cepat 8 raka’at, aku baru bolos sekali untuk apel (kalau telat pernah beberapa kali) dan tidak pernah bolos kelas. Laporan Stula 1, 2, rancangan serta laporan aktualisasi aku tulis dengan sedikit sekali copy paste. Aku benar-benar starting from the sketch dan meskipun aku harus mengubah nyaris semua rancangan aktualisasi, selalu gugup saat presentasi tapi diuntungkan karena jadi anak asuhnya Bu Fika, nilai yang tertera di sertifikat kelulusanku cukup memuaskan; yah bagiku, di balik semua drama, itu adalah capaian! Bonusnya lagi, aku dengan tim di Latsar 1 dan 2 lolos ke panel AICIS 2018 di Palu. What could be more lesson learned than those!
Pamekasan, 18-19 Agustus 2019


Awal bulan depan Rauhia genap berumur dua tahun. Itu berdasarkan perhitungan kalender Masehi. Kalau Kalander Hijriyah, hari pertama di usia keduanya sudah sejak beberapa pekan yang lalu. Jika tidak ada perubahan, ulang tahun keduanya juga akan bertepatan dengan hari pertama puasa Ramadhan. Aku masih no idea soal weaning with love dan atau toilet training, lebih tepatnya belum ingin memikirkan dua hal menakutkan tersebut. Selain mengotak-atik rencana selebrasi ulang tahunnyatentu dengan versiku, aku lebih dibuat sibuk dengan pikiran soal dua tahun pertama yang ia lewati, so far, bersamaku dan orang-orang di sekitarnya.



          Barangkali karena sempat menulis soal golden age dua tahun pertama anak lalu membaca buku 1000 Hari Pertama Ananda which is kumpulan tulisan para pemenang sayembara yang diadakan GNFI akhir tahun kemarin, aku jadi tergoda untuk berpikir lebih jauh. Rasanya ingin men-scoring diri sendiri meski tidak adadan males bikinkomponen-komponen penilaiannya. Tapi barangkali keisengan itu jadi tidak begitu penting jika mengingat bahwa intinya, di sana-sini memang banyak yang harus aku perbaiki. Pola makan, aktivitas, interaksi, sanitasi, 'kurikulum', targetted timelines, dos dan donts dan lain-lain. Yang terasa penting untuk saat ini, as far as I can tell you, Rauhia sekarang cukup berbeda dengan dia pada Mei 2017 juga pada Mei 2018.

         Pada Mei 2017, sehari setelah Hari Bidan Nasional ketika itu, ia masihlah bayi merah yang bisanya menangis, buang air, dan minum. Literally itu saja, selain bergerak dan bernafas tentu saja. Kehadirannya membuat ritme hidupku berubah drastis bahkan total. Dia benar-benar menjadi pusat dan nyaris satu-satunya obyek perhatian. Meski saat itu suka menebak-nebak, sampai saat ini aku belum yakin soal mana di antara kelima inderanya yang lebih dulu berfungsi paling maksimal. Meski matanya terbuka dan bagian hitamnya suka pindah kanan pindah kiri, ketika itu aku tak yakin dia bisa melihat dengan jelas seperti manusia dewasa. Belakangan, kuperhatikan indera pendengarannya berfungsi dengan baik ketika ia sering terkejut ketika ada suara nyaring semisal knalpot bodong, klakson yang berlebihan atau petasan.

Seperti adegan yang sering kulihat di TV atau media sosial, aku juga suka memberikan telunjukku untuk ia genggam pada hari-hari pertamanya lahir ke dunia. Ia manut saja dan kuperhatikan jari-jemarinya yang masih merah begitu kuat menggenggam telunjukku. Kuku-kukunya cepat sekali panjang akan tetapi hal itu tidak menjadi persoalan serius karena ia masih menggunakan kaus tangan. Aksesoris ini biasanya dilepas ketika ia mandi sehingga waktu memotong kuku paling tepat adalah setelah ia mandi. Kurang lebih dalam 40 hari pertamanya, Rauhia dimandikan oleh dua dukun bayi. Pertama dukun di rumah Pamekasan dan kedua dukun di rumah Sumenep. Aku nyaris tidak pernah menyaksikan ia dimandikan oleh dukun pertama sebab aku masih dalam masa recovery, sementara scene-scene dengan dukun kedua nyaris tak pernah kulewatkan. Meski, ketika itu, aku ingat sekali, aku hanya bisa bantu menyisir rambutnya yang tebal sejak lahir.

     Setahun setelahnya, Mei 2018, aku memboyong Rauhia bersama rewang-nya ke Surabaya ketika aku harus mengikuti Pelatihan Dasar (Latsar, versi barunya Prajab) fase pertama selama lima pekan. Ulang tahun pertamanya ketika itu hari Ahad, kalau tidak salah Ahad pertama di Surabaya. Sebagian besar peserta Latsar izin pesiar dan akupun juga demikian. Aku izin pesiar ke kamar kos Rauhia yang bisa ditempuh dengan perjalanan kaki kurang lebih 3-5 menit dari kamarku di E9. Tak ada selebrasi apa-apa ketika itu, meski dari jauh hari aku sudah menyiapkan hadiah kecil untuknya. Rauhia ketika itu adalah bayi kecil yangjika dibandingkan hari inimasih cooperative ketika waktunya meal. Ia baru belajar berdiri, telah fasih merangkak, dan baru bisa mengucap satu dua kata. Panggilannya padaku ketika itu masihlah ama, bukan mama.

     Mumpung lagi di Surabaya, aku sempatkan untuk mengajaknya berkunjung ke tempat-tempat yang akan susah dijangkau begitu kami pulang ke Madura. Pusat perbelanjaan, rumah saudara hingga tempat jajanan dan menu kuliner yang bisa jadi langka di Madura. Aku tak yakin apakah ketika besar nanti, ia akan mengingat lima pekan di Surabaya itu. Beberapa momen sempat aku abadikan, barangkali suatu saat Rauhia akan menikmatinya betapapun ingatan otak mungkin tak banyak mendukung. Aku sendiri tidak banyak mengingat adegan-adegan masa kecilku, semantara poto-poto jadul yang tersisa nyaris tak mendukung ingatan akan adegan di sekitarnya. Karena itulah, aku merasa harus menuliskan ini, betapapun sederhana dan pendek, agar di kemudian hari, when shes growing up, she knows how much she is loved.

*** 
   
       Dann Rauhia hari ini sudah bisa berjalan dan berbicara, tapi mulai susah diajak kerjasama saat meal time dan kadangkala susah diarahkanuntuk tidak mengatakan diatur. Sesekali ia terjatuh ketika berjalan terlalu kencang atau terantuk benda yang ia tak sadari menghalangi langkahnya. Ia juga mulai fasih berbicara meski sebagian kecil bahasanya susah difahami orang lain. Kadangkali ia menirukan omongan orang lain dan bergumam seperti tengah bercerita dan minta tanggapan, meski lawan bicaranya harus mencoba memahami maksudnya melalui beberapa kata kunci yang jelas ia ucapkan dan dimengerti artinya namun jumlahnya seringkali tidak banyak. Selain kemampuan berjalan dan berbicara, ia mulai tampak terampil mengekspresikan perasaan, termasuk yang berhubungan dengan meal atau snack.

Dulu saat ia baru MPASI, bahkan ketika berumur setahun, ia nyaris selalu ok dengan menu apapun yang disajikan untuknya. Karbo ok, sayur ok, buah ok, protein ok, kudapan juga ok. E belakangan, aku lihat ia mulai picky bersamaan dengan kemampuannya menunjukkan emoh baik melalui perkataan, isyarat dan bahasa tubuh. Selera makannya juga, sependek perhatianku yang tak bisa 24 jam sehari dan 7 hari sepekan bersamanya secara fisik, mengikuti keadaan mood-nya. Kalau lagi baik, dan menunya cocok, dia akan lahap. Otherwise, dia bisa absen dari meal time seharian penuh dengan beragam dalih dan ekspresi. Pola lain yang tampak dari Rauhia adalah kecenderungannya yang cepat bosan. Memberinya menu meal yang sama setiap hari sama sekali bukan pilihan yang baik karena nyaris bisa dipastikan ia tidak akan antusias melahapnya. Dari beberapa adegan, terbukti ia sangat lahap menyantap makanan, baik meal atau snack, yang sudah lama tak dimakannya.

Rauhia juga cenderung menyukai makanan yang tidak begitu manis atau asin sekalian. Barangkali turunan genetis dari aku atau faktor lain, tapi sejauh ini begitulah yang dapat aku simpulkan dari beberapa sample adegan. Dia prefers keju daripada coklat dan lebih menyukai cemilan gurih dibanding cemilan manis. Ada juga hal-hal yang kadang susah dimengerti dan dinalar, semisal mengapa ia terlihat lebih antusias ketika nebeng menu makanan orang lain dibanding menu makanannya sendiri (padahal si ibu sudah semangat 45 perabotan makan beliin Tupperware biar eating menjadi fun learning). Jika toples kudapan atau kulkas tak berisi, dia juga sudah mulai komplen meski dengan satu atau dua kata kunci, beyi jajan (beli jajan), namun bermakna permintaan agar ruang-ruang tersebut segera diisi. Dalam beberapa moment aku sering melihatnya memeluk toples sambil duduk santai sementara mulutnya asyik mengunyah kudapan.
***
Well, Nak, menceritakan dua tahun pertamamu rasanya tak akan pernah selesai. Meski begitu, aku ingin menuliskan beberapa hal semampuku sebagai ikhtiar kecil bagaimana aku mensyukuri kehadiranmu dan mencintaimu dengan ketidaksempurnaanku di sana-sini.

Setelah sejak umur setahun Kau berpindah tempat mandi ke kamar mandi, bukan lagi di lincak yang outdoor, beberapa pekan yang lalu kita memulai fase baru, yakni mandi dengan air dingin alias air bak mandi tanpa terlebih dahulu dijerang seperti biasanya. Ini bukanlah inisiatifku, sebab aku meneruskan apa yang sudah dimulai oleh rewang-mu (rewang kedua yang membantuku menjaga dan mengurus keperluan Rauhia). Aku lihat Kau belajar beradaptasi meski tampak juga bahwa Kau masih mengira guyuran air dingin itu adalah guyonan, sebab kami terbiasa memperlakukanmu demikian ketika sebelum-sebelumnya, Kau tak juga mau entas dari Kamar Mandi karena keasyikan main. Satu tugas berkurang sebab aku nyaris tak pernah absen menjerangkanmu air termasuk ketika gas habis dan belum diisi ulangsehingga harus nebeng ke dapur sebelah. Tentu ini tidak diberlakukan ketika Kau sedang unwell seperti beberapa waktu yang lalu.

Sejauh yang kuingat, Kau selalu menyambut kedatanganku dengan bahagia dan suka cita, bahkan girang, sejak di Surabaya. Ketika itu Kau juga selalu menangis dan berteriak protes tatkala aku berangkat sehingga begitu melihatku, bahkan orang lain yang berpakaian sama denganku, Kau akan senang bukan main. Hal tersebut berlangsung hingga hari ini meski dalam satu-dua moment, Kau pernah cuek akan kedatanganku karena terlalu asyik bermain. Akan tetapi di sebagian besar moment saat aku pulang kerja dan baru sampai rumah, Kau selalu menyambutku dengan penuh excitement, terburu-buru untuk menghambur ke pelukan, bersegera mengajak ke kamar, mencari-cari celah untuk menemukan kulit yang kaucari atau tak sabar membuka bungkusan oleh-oleh yang kubawa. Ekspresi sederhanameski kadang kala hebohitulah yang selalu kurindukan dan membayang di pelupuk mata nyaris seharian di jam dan hari kerja.

Sejak diwarai soal copa bhaceng, aku selalu membiasakan diri meneguk air putih begitu bangun tidur. Betapapun sedikitnya tegukanku, tetap kuupayakan konsisten agar efeknya terasa dan longlasting. Belakangan aku juga membiasakan ini padamu, meski keseringan, minuman yang Kau teguk begitu bangun tidur adalah ASI. Setelah itu, begitu keluar dari kamar, aku biasa langsung membawamu ke meja makan dan menyodorkan segelas air untuk Kautandaskan. Usaha kecil itu mulai menampakkan hasil ketika, selain di waktu-waktu random Kau suka tiba-tiba minta mimik aing (seperti yang biasa Kaulafalkan), nyaris tiap bangun tidur, tak peduli itu dini hari, Kau meminta hal yang sama. Jika sudah demikian, maka lelah dan kantuk harus langsung tak lawan. Aku akan ke meja makan dan membawakanmu segelas air. Begitu melihatku datang, Kau akan bangun dari posisi tidur, berganti duduk dan meraih gelas yang kusodorkan. Kadangkala Kau memintaku untuk meneguk air setelahmu lalu Kau akan kembali berbaring dan melanjutkan aktivitas tidur, bermain, menggumam atau skin to skin denganku. Harapanku, semoga kebiasaan ini tetap Kaujaga, termasuk juga perihal mindset bahwa tak ada yang lebih baik untuk diminum selain plain water.

Soal yang satu ini aku tidak ingat sejak kapan. Hanya saja belakangan, bersamaan dengan kemampuan motorik halusmu yang semakin baik, Kau sering tampak asyik melakukan sesuatu sesukamu SAMBIL melakukan sesuatu yang lain, which is bergumam mengikuti gerakan tangan. Jika Kau tengah mencorat-coret di kertas, mengambil baju dari lemari lalu membuka lipatannya dan berusaha melipat kembali, bermain di atas papan ajaib, mengacak-acak beras atau apapun yang bisa Kaulakukan, akan terdengar gumaman dari mulutmu yang entah bagaimana menjadi ciri khas sekaligus kebiasaan. Jika kusela dengan dialog untuk memancingmu berkomentar, Kau biasanya akan memberi tanggapan singkat kemudian kembali lagi pada aktivitas utama serta gumamanmu itu. Entah apa maksudnya. Atau jika tidak, maka aktivitasmu ini akan dimanfaatkan dengan menyuapimu makan. Most of the time, it works. Kausibuk dengan aktivitasmu sehingga tidak terlalu memedulikan menu makanan, selera makan atau mood­-mu. Seperti reflek, saat sendok didekatkan, Kau akan membuka mulut dan mengunyahnya. Begitu seterusnya hingga menu di piring habis dan seringkali Kau meminta tambahan. 

Dalam perjalanan ke tukang pijat langgananku, di suatu malam di atas sepeda motor, sejauh yang bisa kuingat, untuk pertama kalinya Kau menunjukkan ekspresi yang kurang lebih berarti, pardon, could you repeat your speaking please? Ekspresi itu belakangan sering Kaupakai ketika menanggapi orang lain yang mencoba berkomunikasi denganmu. Aku sendiri kadangkala mencurigai apakah ekspresi aaaa? itu benar-benar untuk meminta orang lain mengulang ucapannya atau hanya manuvermu saja untuk bemain-main. Meski tidak selalu kuucapkan secara verbal, sejak jantungmu masih berdenyut di perutku, aku sering mengajakmu bicara. Termasuk dalam hati yang kusampaikan lewat sentuhan di perut. Belakangan aku merasa betapa kebiasaan itu benar-benar melekat sehingga meski bahasa verbalmu kadang tak kupahami, aku terbiasa menebak apa yang Kauinginkan dan seringkali tidak meleset. Memahami bayi, barangkali memang memahami sebuah ketidakteraturan, seperti belajar bahasa. Learning English is learning irregularities. Hanya saja tentu, ada pola yang bisa dipahami dan dijadikan pegangan.

Kemampuan berkomunikasimu yang semakin baik belakangan diimbangi dengan istilah-istilah versimu yang seperti tak ingin Kauubah meski orang di sekitarmu bukan tak memberitahu it was incorrect. Kasus pertama adalah kakak untuk menyebut sandal dan yang kedua adalah kaki untuk menyebut celana. Tentu perbedaannya sangat mendasar sehingga penyebutan yang demikian bukan karena faktor usia atau cadel, seperti jilbab yang Kaubahasakan mbaj. Mengapa kakak disebut sandal bermula dari beberapa adegan ketika Kau, yang suka sekali mengenakan sandal, tak peduli milik siapapun, diberitahu bahwa beberapa sandal yang ditemui adalah sandal milik Fatin, sepupu yang ia sebut kakak. Dari situ Rauhia barangkali menyimpulkan bahwa benda yang biasa dijadikan alas kaki ketika berjalan disebut kakak. Ia salah menentukan definisi di antara dua kata kunci . Sementara yang kedua adalah istilah yang barangkali ia simpulkan dari adegan mengenakan celana which is dipasangnya dari kaki. Jadilah ia mengatakan kaki untuk menyebut celana panjang, celana selutut hingga celana dalam. 

Kasus yang serupa tapi tak sama adalah soal pemahaman Rauhia perihal sayur. Karena sejak awal MPASI aku membiasakan lidahnya mengenal berbagai rasa makanan, termasuk yang asem (barangkali ini jadi salah satu alasan mengapa ia suka meneguk Yakult) dan beberapa jenis sayur, belakangan dia tidak terlalu sulit beradaptasi ketika harus ikutan minum jamu atau berhadapan dengan sayur di piringnya. Seringkali, ia malah lebih memilih sayur dibanding karbo dan protein. Tapi yang bikin lucu, Rauhia tampaknya memahami bahwa sayur hanya terbatas pada kuah bening bayam serta kuah sup. Selain itu, semisal tumis bayam, apalagi tumis kacang panjang, tidak ia akui sebagai sayur sehingga pernah dalam suatu adegan,  ia masih meminta sayur meski di piringnya sudah ada tumis oyong.

Ada beberapa kejadian mengejutkanindeed menggembirakanyang semakin menyadarkanku bahwa daya rekam anak bayi tak bisa diremehkan, sehingga apa-apa yang mampir ke inderanya mesti benar-benar lulus sensor. Suatu ketika Rauhia kuperkenalkan dengan sosok kartun Hello Kitty yang karakternya tampak di baju tidurku serta beberapa mainan yang dimilikinya. Barangkali selain itu, ketika tak bersamaku, dia juga bertemu karakter Hello Kitty di tempat dan barang lain lain. E suatu ketika, sore menjelang senja saat itu, aku bersamanya dan bapaknya tengah cuci mata di kota. Di daerah seberang Kantor Capil Pamekasan, tempat mobil-mobil bakul sticker biasanya buka lapak saat siang hari, ia melihat sticker Hello Kitty tertempel di tembok trotoar lalu dengan heboh memberitahuku. Kasus nyaris serupa juga terjadi pada tokoh kartun Doraemonyang kuajari untuk menyebutnya Emon, to make it simpleyang dihafalnya di luar kepala sehingga setiap dia bertemu karakter ini, ia akan memberitahu padaku atau orang yang bersamanya as if, look, thats Emon.

Di waktu lain, kami tengah berkendara dan lewat di depan supermarket tempat kami biasa berbelanja bulanan dan kadang kala mengajaknya dengan iming-iming ayo ikut, mau beli popok. Kendaraan melaju agak kencang akan tetapi radar Rauhia tetap on melihat logo toko tersebutdalam neon box yang menyala dan iapun bersorak popok, popok! Seperti biasa tingkahnya tersebut selalu mengundang tawa, tak peduli belanja bulanan terakhir kami lakukan setelah ia terlelap untuk menghindari kekacauan kecil yang biasa ditimbulkan Rauhia di toko atau swalayan, seperti ngotot mau beli sesuatu atau tidak mau meminjamkan barang yang ingin diambilnya ke tante/om kasir untuk dipindai dan dipastikan harganya. Dalam beberapa kunjungan ke supermarket, Rauhia memang sempat menunjukkan gejala tantrum, meski tidak dalam skala mengkhawatirkan. Dalam suatu moment dia malah dengan gesit memberi instruksi untuk membuka kulkas dan berdiam lama di situ, seperit mencari tempat adem setelah kepanasan di perjalanan.

Rauhia tampak tidak seintrovert aku meski tidak seekstrovert bapaknya, tentu dengan syarat dan ketentuan yang berlaku. Meski sudah jarang membawa Rauhia ke kampus, belakangan aku cukup sering membawanya ketika bepergian di luar jam dan hari kantor ke tempat-tempat umum. Di situ, be it tempat makan, rumah saudara atau teman, tempat umum lain, Rauhia tampak cukup bersahabat dengan orang asing yang baru pertama kali ditemuinya, asal yang bersangkutan adalah anak kecil. Beberapa kali ia terlihat proaktif mendekati anak kecil yang seusianya, seperti ingin mengajak atau ikut bermain. Nah beda lagi ceritanya ketika yang ditemuinya adalah orang dewasa. Jika tak mengenal yang bersangkutan, nyaris bisa dipastikan Rauhia tidak akan ramah dan cenderung tidak mau dekat  Dulu sewaktu belum menikah hingga belum punya anak, aku sering heran dengan anak-anak yang terlihat xenophobia dengan gejala demikian. Tapi ketika menghadapi situasi tersebut by myself, aku jadi sadar bahwa anak kecil memiliki logikanya sendiri. Aku bisa saja mengatakan bahwa om ini, tante ini, baik dan sayang padanya akan tetapi, mana mau dia percaya. Yang dilihatnya, barangkali, adalah bahwa aku lebih suka dekat dengan orang yang selalu bersama denganku.

Among others, ini mungkin the worst news! Rauhia yang belum genap berumur dua tahun sudah sangat fasih sekali melafalkan hape dan yutub dengan kecadelan di sana-sini. Ia juga tampak bisa membedakan bahwa yang pertama adalah barang, sedang yang kedua adalah bagian dari yang pertama. Ketika bangun tidur dan mendapati suara yang pertama kali didengarnya adalah alarm yang kuatur untuk menyala setiap jam 6 pagi, ia biasanya langsung tanggap dan berujar hape. Dan itu belum seberapa. Dia juga sudah biasa dan terlatih memainkan jemarinya di atas layar sentuh gawaiku. Literally aku tak mengajari dia secara langsung, tapi dia learning by imitating. Karena pemandangan yang dominan dari ibunya adalah memainkan jari di atas layar, iapun tinggal meniru dan mempraktikkan hal yang sama. Turning out that it works! Meski gawaiku dikunci dengan sandi tertentu, jeda waktu untuk kekunci lagi cukup lama sehingga ia tetap bisa menggunakan gawai dengan memencet satu-satunya tombol yang bisa dipencet di layar bagian bawah, yakni tombol standby. Setelah itu dia akan swipping up, down, left and right dengan sangat fasih dan mahir.

Di antara beberapa menu aplikasi yang ada di gawaiku, Yutub adalah yang paling Rauhia suka. Tapi aku tidak memberinya fasilitas dalam jaringan. Video-video yang bisa ia tonton hanyalah video yang aku unduh ketika daring dan bisa dinikmati luring. Aku pikir ini bagus untuk filter materi meski kadang ia suka menonton video-video yang aku unduh untuk kebutuanku, seperti video konser musik, lagu dengan lirik, video tutorial Bahasa Inggris atau video lain yang sifatnya tidak berbahaya untuk anak kecil. Karena itu aku pastikan, sebelum gawai berpindah ke tangan kecilnya, paket data sudah aku off sehingga keadaan dapat terkendali. Kejadian yang terlanjur demikian bergulir bukan karena aku tak mengetahui bahwa gawai tidak baik untuk anak, tapi yang kualami adalah sulitnya menjauhkan anak dari gawai ketika dua orang tuanya juga tidak lepas dari gawai. 

Meski sudah full gawai selama hari dan jam kerja, aku tetap susah lepas dari benda kecil itu begitu sampai di rumah dan idealnya semua waktu dan energi aku prioritaskan untuk Rauhia, setelah meninggalkannya seharian penuh. Beberapa kali kucoba lepas dari gawai untuk fokus menemani Rauhia bermain, makan atau menghabiskan waktu, dan memang ketika itu Rauhia juga lupa dengan yang namanya hape. Tapi begitu aku menyelinap menghampiri hape yang tengah tak sembunyikan agar tak terlacak dia lalu dia mencari dan memergokiku sebelum aku berhasil mengondisikan keadaan, dia akan meminta hape berpindah tangan dan begitulah seterusnya. Sebagai ibu-ibu yang tidak kudet-kudet amat, tentu aku juga bukan tak tahu ada beberapa permainan alternatif yang digadang-gadang bisa menggantikan gawai dengan spesifikasi konten islami dan edukatif, anti radiasi dan lain-lain. Hanyas aja, selain persoalan anggaran yang tak jadi-jadi aku sisihkan, aku juga tidak mudah percaya iklan. Lagian, meski apologi ini sama sekali tidak heroik, aku melihat ada gunanya juga Rauhia mengenal gawai dan salah satu konten di dalamnya, meski kendali tetap harus aku pegang dan skala kompromi tidak bisa aku bikin elastis terus-terusan.

Manfaat yang paling kurasakan adalah bahwa Rauhia tidak ngeyel lagi bahwa setelah SATU dan DUA ada bilangan bernama TIGA which is posisinya sebelum angka EMPAT. Sebelumnya aku sempat kelimpungan memberi pemahaman padanya perihal angka 3 yang ia loncati begitu menyebut angka 1 hingga 10. Selalu hitungannya 1, 2 kemudian 4 dan seterusnya. Nah begitu aku mengunduhkan video dengan kata kunci lagu angka untuk anak dan membiarkannya saja di list offline videos, to let her watch it by herself, (soalnya kalau dikondisikan sekalian biasanya jadi angel untuk diajak kerjasama), dia mulai mengurangi ke-ngotot-annya dan perlahan mulai percaya bahwa ada angka 3 setelah 2 dan sebelum 4. Sehingga, meski angka-angka belasan belum dikuasainya, ia sudah fasih menghafal angka 1 hingga 10 versi dia sendiri; bahasa yang juga difahami oleh orang-orang terdekatnya dan tidak terlalu jauh dengan versi aslinya.

Sejak dulu, melalui beberapa observasi terhadap anak-anak kecil, aku jadi bercita-cita untuk mengajarkan anak-(anakku) tidak takut terhadap hal-hal yang biasa ditakuti (atau dijadikan hantu) oleh orang dewasa, seperti imunisasi, minum jamu, ketemu dokter, ketemu dukun pijat dan seterusnya. Aku sangat terganggu dengan omongan semisal Kalau nakal nanti tak kasih jamu. Padahal, jamu itu baik dan anak seharusnya dikondisikan agar mengetahui hal ini dengan jalan yang tepat, bukan dengan menjadikannya sebagai momok. Maksudnya kalau terpaksa harus mengancam, jangan seperti itu bentuknya. Karena itu begitu Rauhia tampak bisa diajak berkomunikasi, aku selalu mengatakan padanya bahwa meski minum jamu, diimunisasi atau dipijat itu sakit di awal, dampaknya akan luar biasa besar dan positif baginya belakangan. Sejauh ini aku lihat rencana dan angan-angan itu berjalan seperti yang kuinginkan, meski aku sadar bahwa intervensi orang lain tak bisa terhindarkan. Minimal, aku sudah punya sikap dan harus konsisten di situ sehingga kalaupun Rauhia mendapatkan hal berbeda dari orang lain, ia mendapatkan hal yang sama dariku bahwa hal-hal tersebut bukan untuk ditakuti atau dijadikan bahan ancaman.

Ini sebenarnya cukup menyedihkan, tapi sekaligus menjadi penting dan layak untuk diceritakan agar suatu saat Rauhia bisa tahu. Soal body shaming. Interaksi yang cukup dekat dan intim kadang kala memang menghilangkan sekat-sekat privasi atau kesopanan. Tak sedikit orang yang menganggap body shaming sebagai ekspresi keakraban, bahkan tanpa rasa bersalah menjadikannya panggilan. Rauhia sempat menjadi korban kesalahkaprahan yang sangat buruk itu dan aku, celakanya, sempat bingung mau bersikap bagaimana karena kalau aku frontal, itu akan sangat melanggar norma-norma kesopanan keluarga. Tapi, karena tak diemin malah semakin menjadi dan dalam kacamata paling jahat, aku melihatnya malah dijadikan bulan-bulanan, aku tak bisa mengerem lagi. Aku akhirnya frontal meski tidak secara verbal namun kupastikan semua orang yang bersangkutan tahu akan posisiku yang merasa this is a big deal that everyone could not just make it a joke. So far aku melihat keadaan teratasi meski aku tidak tahu apa yang terjadi di belakangaku, atau sejauh mana aku menjadi obyek berita. Believe me I do not even care about it. Kadangkala aku merasa harus angkuh just to make sure mental anakku sejak kecil tidak dirusak oleh kebiasaan yang seharusnya tidak dibiasakan. Tulisan point ini cukup emosional karena memang masalah terjadi cukup berlarut karena keraguanku untuk bertindak dan pertimbangan yang terlalu banyak. Juga rasa sungkan dan takut akan hal-hal yang mungkin terjadi, tapi semuanya tak tepis. Barangkali karena naluri keibuan atau egoisme pribadi. I dont know for sure.

Barangkali, peribahasa buah jatuh tak jauh dari pohonnya benar. Ada banyak hal dari Rauhia yang nurun dari orang tua ataupun anggota keluarga dekatnya. Selain soal komposisi wajah yang nyaris sepenuhnya mengeliminasi unsur dariku, Rauhia memiliki banyak kesamaan dengan romo-nya. Gaya tidur dengan lutut tertekuk yang jatuh bangun, kesukaannya mengonsumsi mentimun dan ketikdasukaannya diganggu ketika tengah asyik melakukan sesuatu. Porsi minum yang banyak, ekspresi ketika marah dan tertawa serta kulitnya yang sensitif dan maunya digaruk terus bahkan di tengah-tengah jam tidur ketika matanya masih terpejam. Persis sekali. Kebiasan orang-orang terdekatnya yang tak bisa tenang kalau stock kudapan habis juga begitu tampak di Rauhia. Lain dari itu, nyaris seperti adik bungsuku yang konon memiliki kesamaan wajah dengannya, Rauhia suka mengonsumsi telur rebus dengan mengeliminir bagian merahnya. 

Rauhia aku cita-citakan menjadi anak yang tidak cengeng. Barangkali semua orang tua punya harapan yang sama. Teknik spesifiknya adalah dengan tidak menunjukkan ekspresi terkejut ketika ia terjatuh. It implies, kalau menurutku sih, orang tua mendidik anak untuk tidak gampang sambat dan menangis untuk hal-hal yang masih bisa ditoleransi. So far ini juga berjalan, meski lagi-lagi, tidak hanya aku yang berada di sampinya ketika ia terjatuh saat berjalan atau terantuk batu saat tengah berlari. Karena itu aku sering mendukung dan mensugestinya secara verbal dengan mengatakan bahwa anak mama tidak cengeng, tidak nangis kalau tidak benar-benar sakit. Di imunisasi terakhirnya, in which aku berkesempatan menemani, ia tak sama sekali menangis begitu dan setelah jarum sunti kecil menancap di lengannya. Tapi ketika bermain ia terjatuh, ia menangis. Barangkali rasa sakit dari kejadian kedua lebih serius dibanding yang pertama. Soal tegel ini, Rauhia sebenarnya cukup terlatih oleh keadaan ketika di bulan-bulan pertamanya, ia harus merasakan senut-senut di kepala saat menderita borok dan berkali-kali harus dioperasi kecil-kecilan dengan teknik manual. Setelah berapa kali eksekusi, ia bahkan tak menangis meski darah nanah segar keluar dari borok di kepalanya.      
Seperti salah satu versi namanya, nyali, aku berharap dia memiliki much bravery in a good time and place. Karenanya aku tak ragu membawa Rauhia dekat dengan hewan-hewan yang ada di sekitar rumah sambil mengenalkan namanya masing-masing. Kucing, sapi, ayam, kambing, kelinci, belalang dan lain sebagainya. E begitu tahu kosata baru, takut, dan entah barangkali ada sebab lain lagi, Rauhia belajar merangkai kata takut kucing. Tak hanya kata-kata, ia bahkan menunjukkan gelagat nyata bahwa dirinya tak mau dekat-dekat dengan kucing yang dulu ia sukai. Aku bahagia sekaligus terkejut dengan perkembangan ini, sambil iseng mengingat salah satu meme yang mengatakan bahwa orang jadi banyak baper setelah ada istilah baper. Barangkali hal yang sama terjadi pada Rauhia.
***
Dear, Rauhia..
Someday if you grow up.
You might surpass any limit I could not even reach, as I wish you will do.
You would meet many people and much values in life.
You may change your mindset, perspective on life, relationship, love, family and anything as the time goes by.
You may do and get many more things than what I did.
For me, however, you would always be my baby.

(ending mekso)  

Foto: Dokumentasi pribadi
Caption: Duduk santai 

MARI themes

Diberdayakan oleh Blogger.