Hi, Sartika. First of all, aku gabisa bayangin if I were you. Scene pertama menggambarkan kamu sedang luntang-lantung dengan perut buncit gatau mau ke mana. Kamu diturunin sama sopir yg sempat mengangkutmu abis ban trucknya bocor lalu kamu dituduh pembawa sial oleh teman si sopir. Aku tidak melihat raut sedih atau tertekan di wajahmu pas adegan itu. Kamu sibuk meneruskan perjalanan sambil membawa diri menenteng tas sedang (sepertinya berisi baju seadanya) meski belum punya tujuan. Kamu terlihat capek fisik saja ketika itu. Seperti pasrah dan siap pada apapun yang akan terjadi selanjutnya. Aku tak bisa menebak apa yang terjadi sebelumnya, seperti kemudian ditanyakan Bu Maya, tetapi pastilah bukan adegan-adegan menyenangkan.

Mampir di warung Bu Maya, diajak ke rumahnya, lalu diterima tinggal di situ barangkali adalah kemujuran besar setelah kejadian-kejadian pahit yang menghantammu sebelum sampai di situ. Kau lalu melahirkan Bayu, membesarkannya sambil bekerja jadi buruh tani, hingga Kau memutuskan untuk asin bersama garam di lingkunganmu. Aku inget Kau bukannya tak sangsi untuk memilih jalan itu, tetapi rasanya itu lebih menjanjikan dibanding tetap pada pekerjaanmu sebelumnya. Adegan Kau bekerja di sawah sambil momong Bayu yg saat itu rewel rasanya tak terperikan. Bayaran tampak tak seberapa, sementara Kau tentu tak ingin menjadi beban bagi Bu Maya yang sudah berbaik hati menerimamu seperti anak sendiri. “Ga ada yang maksa,” jawab Bu Maya mendengar kesangsianmu.

Lalu Kaupun berubah; polesan bedak dan gincu seperti melahirkan dirimu yang baru, lebih cantik dan menarik dari sebelumnya dengan tindak tanduk kaku dalam profesi barumu; menemani para pengunjung minum kopi di warung Bu Maya sambil sesekali memijat mereka, seringkali dengan posisi dipangku. Jika Kau sedang bekerja, Bu Maya-lah yang momong Bayu. Di situlah Kau bertemu Hadi, sopir pikap yang oleh Bu Maya dilabeli baik, ganteng, dan belum beristri. Aku merasakan betapa rawan dan rentanya menjadi Kamu. Kamu perempuan beranak satu (tanpa suami, setidaknya yang terlihat di adegan film), jauh dari keluarga, terlihat tidak memiliki keterampilan khusus, dan nyaris tanpa privilege lain, termasuk harta, akses, kesempatan, everything. Jadi ketika Hadi datang, meski dengan gayanya yang tidak agresif dan terang-terangan, Kau sulit sekali berpaling.

Jika Asep menunjukkan ketertarikan padamu secara langsung (meski sebatas transaksional), Hadi melakukannya melalui Bayu. Ia ngiming-ngiming jajan agar Bayu tidak rewel ketika Kau masih ‘bekerja.’ Hadi juga tak banyak omong. Dia sering memberimu ikan yang kemudian digoreng dan disukai Bayu. Lain dari itu, dia tiba-tiba sering mengunjungi warung Bu Maya lalu megajak Kau dan Bayu jalan-jalan. Aku melihat Kamu dan Bayu bahagia sekali di momen jalan-jalan itu, barangkali seperti nemui oase setelah lama nyusuri sahara. Adegan ikonik saat Kau bertanya apakah Hadi sudah beristri juga terjadi di kesempatan itu. Aku sempat terkejut Kau tiba-tiba berada di kamar sempit bersama Hadi dengan peluh bercucuran karena kipas angin kecil di situ tak banyak membantu. Juga Kau yang tiba-tiba pindah dari rumah Bu Maya karena sudah menikah dengan Hadi dan menempati rumah baru.

Barangkali Kau punya banyak alasan membuka lapisan-lapisan pintu untuk Hadi meski aku yakin Kau tak ingin masa lalu yang melahirkan Bayu terulang kembali. Adegan pertama di sekolah Bayu ketika Kau gagal mendaftarkan sekolah untuknya rasanya sangat traumatik tak hanya bagimu, tetapi juga bagi Bayu. Setelah kejadian itu, either Kamu butuh suami sebagai pendamping atau Bayu yang butuh (kehadiran) ayah baik menurutmu atau apa yang ia rasakan sendiri tampak semakin terasa. Akan tetapi, apakah Hadi beneran diam ketika Kaubertanya perihal isterinya? Apakah ia sebenarnya menjawab, entah jujur atau tidak, tetapi akhirnya Kau (tetap) memutuskan untuk menikahinya? Setidaknya, meski Kau dimabuk cinta, Kau masih menanyakan hal penting itu, setidaknya, maksudku, tidakkah Kau traumatik dengan cerita yang memberimu Bayu sehingga Kau akan awas dan hati-hati terhadap siapapun itu? Kau juga memastikan (kepada Bu Maya) bahwa Kau bukannya tak tahu kalau (dipakai atau tidaknya) cincin kawin tidak menunjukkan status pernikahan seseorang.

Dibanding tipikal hidung belang kebanyakan, Hadi terbilang main di zona aman. Dia jarang ngomong, sopan, bertutur dan bertindak seperlunya, serta lebih manifesting dibanding promising. Caranya ga norak dan sangat mungkin itulah yang bikin Kamu ga bisa berpaling darinya, tambah posisimu ibu tunggal, butuh partner untuk membesarkan Bayu (yg sudah bertanya siapa ayahnya), dan semua tugas itu tampak lebih mudah dengan Hadi di sampingmu. Dia menemanimu ke sekolah Bayu memastikan pendaftarannya sukses (dengan membuatkan KK dan akta lahir palsu), menemani Bayu bermain layangan, pokoe wes setingan bapak tiri/sambung idaman. Ia juga menjanjikan masa depan bagimu melalui gerobak mie ayam yang Kaubawa pergi di akhir cerita dengan penuh emosi tanpa menurunkan martabatmu sedikitpun.

Susah bagiku melupakan keterkejutan dan raut wajahmu ketika itu. Adegan-adegan pahit sebelumnya serasa menamukan klimaks di situ. Hadi lama tak pulang, Kau lalu mencarinya ke tempat dia bekerja, lalu Kau wadul pada Bu Maya yang sebelumnya mencurigaimu berbadan dua sebab masuk angin yg tak kunjung reda. Belakangan suka banyak adegan istri sah melabrak WIL suaminya tetapi Kau tak menunjukkan gelagat serupa. Kau menanggapi sesuatu di luar kontrolmu itu dengan terhormat dan bermartabat. Kau masih memperlakukan istri Hadi dengan baik, setidaknya menyajikan minum, dan Kau buru-buru pergi dari tempat yang barangkali sempat Kauanggap akan menjadi rumah masa tuamu itu. Tidak digambarkan secara verbal apakah istri Hadi mengusirmu, tetapi Kau seperti tahu diri dan buru-buru melakukan apa yang menurutmu harus Kaulakukan. Kau membawa barang seperlunya, seperti pertama kali Kaumuncul dengan Bayu di perutmu. Seperti tanpa beban, tanpa ketakutan, tanpa penyesalan.

Di adegan itu, Bayu sudah menemanimu, meski ia berjalan belakangan karena masih menghampiri orang yang dipanggilnya 'bapak' dan tiba-tiba datang di adegan menyesakaan itu. Kau melenggang begitu saja di samping Hadi dengan gerobak mie ayam yang kalian rencanakan akan menjadi sumber penghasilan di kemudian hari. Aku tentu luar biasa marah pada Hadi, tetapi itu sedikit terobati dengan sikapmu yang tak memberinya ruang sedikitpun. Aku hakkulyakin sakit yang Kaurasakan tak akan ada apa-apanya dibanding derita dan rasa bersalah yang akan seumur hidup menderanya. Kau menyempurnakan ketimpangan beban itu, Kau tidak kehilangan martabat sebagai seorang perempuan betapapun berbagai nasib buruk menghampirimu. Rasanya puas sekali melihatmu berjalan tanpa keraguan, meski aku bukan tak sedih membayangkan apa jadinya hidupmu setelah itu.

Lalu waktu seperti cepat berlalu. Kau ternyata beneran hamil ketika itu. Bayu punya adik Bernama Sekar yang menemani dan menguatkanmu menjalani hari-hari selanjutnya, termasuk ketika Bu Maya dan suaminya sudah tidak lagi bersama kalian. Sekian belas tahun kemudian, ketika Bayu dan Sekar sudah dewasa, Kau digambarkan masih sehat dan hidup bahagia dengan keduanya. Di antara kesialan-kesialan yang Kautemui, rasanya mengenal Bu Maya adalah alur terbaik yang menyelamatkanmu di banyak momentum. Dialog-dialog dengannya penuh keintiman dan simpati tulus sesama perempuan. "Jangan terlalu dipikirin, Tik," kata Bu Maya saat Kau mengadu sambil nangis di pangkuannya. "Kamu kapan aja bisa pulang ke sini. Ini khan rumahmu juga", ucapnya suatu kali Kau mengunjungi rumah sederhana penuh kehangatan itu." "Sudah tua, sudah gabisa apa-apa," tegasnya sebelum menyuruh suaminya tidur di bawah untuk mempersilakanmu yang sedang hamil tua ketika itu tidur di tempatnya semula, seperti meyakinkanmu bahwa di rumah itu, Kau akan baik-baik saja. Dialog-dialog Bu Maya menjadi ruh penting dalam ceritamu, menyuarakan women support women dari sudut paling real di tempat kita hidup.

Hei, Sartika, terimakasih sudah menunjukkan bagaimana perempuan harus bertahan di semua situasi sulit, melanjutkan hidup dengan apapun keadaan, bertanggungjawab atas pilihan (yg tidak selalut tepat dan kadang disesali), menjaga martabat "di tengah kekalahan", serta menyalakan mimpi di tengah ketidakmungkinan demi ketidakmungkinan.

Long life, Women everywhere!

Dear, Nihal

Nihal Baydemir, I envy you in many things. You are well educated and you have privileges to live your life almost to the fullest version that I can even only imagine. Saat dihadapkan pada situasi di luar kendalimu, orang tuamu bangkrut dan Kamu memutuskan untuk kembali ke kampung halaman, aku dejavu beberapa moment. Surely, I was not as brave as you, mungkin juga aku belum well prepared, or will never be. Kamu Kembali ke Istanbul dengan sekoper pengalaman dan dirimu yang baru. Kamu berpendidikan, berpengalaman, dan dua hal itu menjadikanmu berkarakter. You come to save the boat of your family, meski ini bukan badai pertama yang melanda keluargamu. Sebelumnya, seperti diceritakan Berta, Kau kehilangan ibumu dan sudah harus hidup pas-pasan ketika usaha ayahmu memburuk sedang Kau masih berada dalam masa Pendidikan. Tentu saja, kembali ke Istanbul ketika kariermu sudah terbangun di Prancis bukanlah pilihan mudah.

Kau lalu bertemu dengan orang2 dari masa kecil dan masa remajamu, mulai dari Engin, Berta, hingga Pinar. Juga dengan keluarga Bulut dan anak tengahnya yang tak ramah padamu di awal-awal jumpa. Berbeda dengan Mahir dan Arda yang memperlakukanmu sewajar mungkin, Osman justru banyak menjaga jarak. Sayang, Kau harus lebih banyak berurusan dengan si brewok itu. Berselisih paham, berdamai, menjauh lagi, mendekat, dan begitu seterusnya hingga akhir episode paling buntut menggambarkanmu sudah mendapat stempel imigrasi untuk terbang ke Eropa, sementara Osman sampai di rumahmu hujan2an dan kali itu tanpa payung. Asline aku rodok bosen dan cape alure itu2 terus. You guys two keep changing your mind. Ini maunya apa sih? Kalau profesionalisme dan asmara nyampur jadi satu, begitulah jadinya.

Nihal, aku sangat bangga padamu saat Kau terlihat sangat professional menyampaikan gagasanmu, berdiplomasi, berupaya meyakinkan customer, hingga bekerja membangun kapal tipe yacht itu. Kau juga tak mau memposisikan diri sebagai pihak yang harus selalu manut terhadap alur klien. I would describe how I was satisfied saat Kau menulis nomormu di kantor Osman atau saat Kau tak mengiyakan semua yang dia minta. Kau mengambil pulpen dari tangannya dengan setengah paksa dan menuliskannya dengan penuh emosi di selembar kertas di atas mejanya. Itu semacam perilaku tidak sopan yang pantas diberikan pada seorang kolega yang mengatakan tak butuh tukeran nomor hape saat kalian terlibat sebuah transaksi. Juga saat Kau menceritakan bahwa Kau adalah ahli di bidangmu, bahwa Kau dapat memberikan hasil terbaik, dan sikapmu yang, instead of arrogant, tetapi lebih ke professional dan sewajarnya. Im very much proud of that!

Kaujuga tampak loss dengan situasimu karena fokusmu adalah pada pekerjaan. Kauingin menyelamatkan keluargamu, rumah masa kecilmu, juga puing-puing dari bisnis ayahmu. Itu sepertinya menjauhkanmu dari tendensi dan distraksi lain, tidak seperti Osman yang sejak awal sudah terlihat observe Kamu. Jadi ketika malam itu kamu menyapanya *are you avoiding me?* jelas sekali bahwa Osman terintimidasi. Dia bahkan sampai menggagalkan acaranya malam itu dan memilih bergabung menyambutmu makan malam. Meski Osman beberapa kali mendelegasikan Arda untuk menemui dan menghubungimu, itu tak menutupi gelagat bahwa sejak awal, dia sudah tertarik padamu. Hanya saja, ia mungkin bingung bagaimana menjaga image-nya tanpa mengkompromikan tujuannya mendapatkanmu.

Aku melihatmu tidak menyerah pada Osman bukan karena Kau tertarik sejak awal padanya, tetapi karena Kau tau bahwa ia adalah decision maker dalam tender yg begitu Kauinginkan. Kalian bersitegang, beradu mulut, Osman tak membalas pesanmu (let alone menghubungimu duluan setelah Kau memberinya nomor teleponmu), tapi Kamu tebal muka aja meminta bertemu dengan Arda (meski ia sempat meng-cancel di telepon) lalu makan malam di . Dengan Osman yang makin agresif, Kau mau tak mau terbawa pada situasi asmara. Sejak Osman mengajakmu bicara setelah makan malam itu, menjamumu dengan gelas ekskslusif keluarga, mengikatkan tali sendal dan membukakanmu pintu mobil, mau tak mau Kau terdistraksi dengan act of service-nya yang sangat melenakan.

Tetapi Osman tetaplah Osman. Bahkan setelah adegan-adegan manis itu, dia lalu mengurangi tenggat waktu pengerjaan kapal hingga 4 bulan. Hal yang sangat berat tetapi akhirnya Kau iyakan. Aku melihat ada tarik ulur di dalam kepala Osman; antara ketertarikannya padamu, demarkasi antara old money dan new money, termasuk soal Engin yang sukanya provokatif, juga karakternya yang sangat kuat menjaga image tetapi tidak ingin kehilangan apa yang diinginkan. Karena itulah, beberapa gebrakan Osman juga kadang tampak kurang masuk akal dan mbingungke, seperti gayanya datang ke depan rumahmu tetapi tidak mampir dan hanya melihat dari jarak pandang yang sangat dekat (meski mungkin karena ada Engin mendekat). Kaya ingin tetapi tak ingin. Di situ Kau tampak sekali terdistraksi, tetapi Kau fokus pada tujuan utamamu. The one I need to learn a lot from you, Nihal!

Ketika Osman terlihat sangat menahan diri untuk tidak mendatangimu duluan, seperti percakapan di teks telepon hingga undangan ke pub yang dengan penuh suka cita ia penuhi, Kau dengan tanpa beban mendekatinya dan bernegosiasi padanya. Tarik ulur Kembali terjadi di pub itu karena bahasa tubuh Osman yang ambigu banget. Nyentuh2 rambutmu dari belakang posisi kalian lagi duduk di bar itu kaya apa sih, maunya? Aku merasa ketika itu, Kau tengah terbang keawan karena sosok dingin yang membuatmu frustasi belakangan tiba2 bisa sehangat itu, sehingga Kau perlu a little space to breath dan when you did it, ijin sebentar ke belakang, Osman tiba-tiba sudah pulang. Plot twist banget. Sedalam apa Kau jatuh kecewa ketika itu, Nihal?  Osman kembali menjauhimu dengan tidak menghampirimu saat Arda menjemput Berta ke rumahmu, padahal dia ada di mobil yang sama, sehingga Arda-lah yang tampak lebih loss berinteraksi denganmu, meski Mahir bukan tak memperlakukanmu baik.

Di belakangmu, Osman adalah yang paling lega mendengar ucapan Berta bahwa Kau dan Engin tidaklah ‘bersama.’ Dia juga merekayasa soal pinjaman untuk pendanaan pembuatan kapal, meski akhire Kau berhasil mengetahuinya setelah agak telat. Di sini aku melihat rasionalitasmu terasa dan stay awake. Bahkan beberapa detik setelah ciuman kalian yang pertama, Kau sudah menduga bahwa Osman-lah yang mengatur semua skenario pinjaman yang akhirnya dikabulkan itu. Pada adegan itu, aku melihat Osman tak bisa lagi menyembunyikan perasaannya padamu. Kalian terlibat suatu dialog sarat emosional yang seperti membuat Osman lupa akan citra diri yang tengah dibangun dan dipertahankannya di depanmu. Ia seperti dituntun untuk memotivasimu secara langsung, bukan dengan setingan scenario seperti yang sudah dia lakukan sebelumnya.

Kalimat2 Osman ketika itu juga kaya freak banget diucapkan seorang yang terlanjur dipanggil monster oleh para pebisnis di sekitarnya. Things like; let me in, pasrahkan padaku, itu bukan Osman sekali. Biasanya dia bilang, “look at yourself. You engage with everyone except for me”. Makanya, jika ciuman Osman ketika itu adalah ekspresi perasaannya, aku melihat Kau melakukannya dengan pikiran akan kelelahan (dengan seluruh drama yang dia bikin), kemarahan (in a positive tone,

> juga kelegaan mengetahui bahwa the complicated story comes to an end yang mungkin sangat impredictable. Dan ciuman pertama itu hanya awal perseteruan karena sensormu yang bekerja mengetahui perihal pinjaman yang diseting Osman. Meski akhirnya Kau mengambil pinjaman tersebut, aku melihat betapa Kau berupaya tidak berada di bawah control-nya dan tidak ingin dikasihani karena situasimu. It is very good point I will barely find in another scene. Abis ciuman ga bikin Kamu buta mata dan hati melihat keadaan dan mengamati gelagat semesta.

Tetapi aku tau bahwa no matter chaos the situation after the kiss, it gave you something. Kamu jadi kepo sama kisah cinta lama Osman, dan inilah yang justeru membuatmu tak bisa lagi berpikir rasional. Kau dan Osman kembali bertemu di forum resmi, mungkin semacam progress report dari proyek yg sedang dikerjakan. Kalian hanya saling menatap; Kau yang tengah demam dan Osman yang tampak dengan genangan air di matanya namun menolak untuk jatuh. Lalu setelah pertemuan itu, Osman mendatangimu secara pribadi ke kediamanmu, dan adegan-adegan itu kembali tak terhindarkan. Osman barangkali tidak ingin banyak mengutarakan perasaannya secara verbal, tetapi Kau terlihat tak bisa lagi mengelak sejak di kursi dermaga itu, ke dalam rumah, ke kamar tidurmu, ke bath tub, lalu ke dapur. Di tengah keterkejutan dan barangkali ketidakpercayaan akan yang terjadi, Kau tampak menikmati setiap inci detailnya. You deserve it, aku pikir. You did nothing wrong, sebelum adegan di pesta itu.

Setelah malam hujan saat Osman mendatangi rumahmu berpayung dan black pepper untuk merdakan demammu, Osman tampak tak ingin menutupi hubungan kalian lagi. I mean, there is no contract or oath. You guys just kissed, just slept together, just fell for each others, but everything seems to happen in a good way. Osman yang memang tipenya act of service jadi seperti punya lebih banyak kesempatan menunjukkan kecenderungannya, menjemputmu di depan banyak orang, menggandengmu di pesta, menyilakanmu tetap di sampingnya meski ia tengah bertemu kolega bisnis, hingga membuatkan minuman dan memberi semacam selimut tipis untukmu menghalau dingin (ini adegan kedua sih, kayanya dengan kain serupa dengan sebelumnya). Kupikir cerita akan berakhir di situ, sebelum suatu tikungan muncul; Arda meminta Osman mencarikan hotel di sebuah kota yang menjadi semacam kartu merah dari kisah cinta Osman yg lama. Ketika mendengar itu, Kau tak berpikir lain kecuali bahwa Osman akan bertemu dengan perempuan tersebut. Barangkali beginilah jadinya ketika sosok rasional tengah dimabuk cinta; logikanya tidak berfungsi seperti biasa. Dan di sinilah drama menjadikan segala hal tak mungkin menjadi terjadi. Ketika Osman patah hati banget, kalian gada yang kontak via HP takon iki asline onok opo? Kalian jadi gada yang inisiatif apalagi agresif, bikin penonton gregetan mergo situasi itu bertahan sampai di akhir serial.

Apakah kalian akhirnya tidak bertemu lagi? Oh bertemu, tentu dalam situasi formal. Aku kembali menyukai sosokmu, Nihal, sebab dua kali Kau bertemu Osman, Kau tampak professional dan mampu menyembunyikan perasaanmu, setidaknya dibanding Osman yang masih curi-curi lirik. Meski kalian berdua tampak terluka, kalian berusaha professional dan menyelesaikan apa yang sudah dimulai. Aku beberapa kali merinding melihat dua adegan ini, termasuk ketika ada flashback soal warna magenta, yang kuharap akan membuat salah satu atau keduanya membuang jauh2 gengsi sebab di situ kalian memang literally hanya berdua. Meski Osman tampak lebih rapuh dan beberapa kali ketahuan curi pandang, Nihal-lah yang sempat bertanya perihal satu kata kunci yang meruntuhkan alur cerita bahagia itu. Osman terlihat tidak mengerti dan Nihal tidak memperpanjangnya lagi. Tidak ada lagi inisiatif dan keberanian yang bisa meruntuhkan gengsi dua orang ini, sampai di pertemuan ketiga. Hanya air mata yang menggenang dan ga jadi jatuh; saling tahu tetapi malah adu gengsi. Ya wes. Ada dialog yg sangat aku inget di situ; Oke, you have no time, you don’t understand, you are not curious. No problem. Asline masalah kesalahpahaman, tetapi diplesetin ke soal kapal. Saling nunggu akhire ya sama-sama ga dapat apa2. 

One last time ketika mereka dijadwalkan tak akan bertemu lagi, Kau sudah berusaha menyampaikan duduk persoalan ke Osman (setelah mendengar dari Berta), tetapi situasi seperti sudah tak sama lagi. Osman yang awalnya memaksa tampak tak lagi ingin tahu sementara alur lain di luar kalian berdua berjalan begitu saja. Kesepakatan ayah Nihal dengan Engin, kunjungan ayah Nihal ke keluarga Bulut, hingga kebohongan ayah Nihal pada putrinya. Lalu kalian tak lagi bertemu sebelum Kau tiba di bandara dan Osman mendapat kunci rumahmu tanpa Kamu lagi di situ. Aku sempat berharap kisah kalian akan berakhir Bahagia seperti Mahir dan Arda dengan kekasihnya masing-masing, tetapi tidak semua kisah memang harus sama. Overall, thank you, Nihal. You did very best and give so much inspiration. Semoga serial dua lebih greget menampilkan sosok perempuan berkarakter sepertimu.

Kata Bu Eva, cerita seperti ini ada di semua zaman, semua situasi, semua tempat. Tentang perempuan dengan perasaan dan keinginannya dan lelaki yang sulit sekali memahaminya. Soal perasaan, keinginan maupun pemahaman akan orang lain sebenarnya bukan domain khusus masing-masing, tetapi terlanjur diatributkan seolah-olah terkotak pada gender tertentu. Toh laki-laki juga punya keinginan dan perempuan juga harus bisa memahami. Kita manusia memang bisa berpikir akan mengakali takdir, tetapi waktu punya perhitungannya sendiri. Dari sekian macam tarik ulur dalam diri, ujungnya adalah waktu dan kesempatan yang tak selalu ada dan terprediksi, seperti ia yang tak disadari keberadaannya sebelum tak bisa digenggam lagi.

Tak ada yang terasa janggal dari adegan seorang istri menghidangkan kopi di pagi hari untuk suaminya. Saking lumrahnya, hal-hal mendasar di balik kelaziman tersebut sering terlewatkan. Apa yang membuatnya terus berulang seperti tak menemukan titik anomali? Siapa yang pertama kali membagi tugas demikian dan mengapa ia bertahan sedemikian lama? Mengapa si suami tak membuat kopinya sendiri saja, bukankah ia bisa lebih mudah menyesuaikan takaran dengan seleranya? Jangan-jangan aktivitas tersebut menyimpan makna lebih dari sekadar kebiasaan, atau pertanyaan-pertanyaan kecil semacam; “mengapa suami tidak melakukan hal serupa kepada istrinya?”

Jawabannya tentu tak sulit dicari. Ada banyak pembenaran untuk membiarkan rutinitas tersebut terus berlangsung, mulai dari argumen konstruk sosial sebagai kebiasaan hingga pemikiran keagamaan. Dibanding yang pertama, argumen kedua tampak lebih dianggap legitimate, meski bukan tidak ada yang mencoba merenungkannya ulang. Sedikitnya, ada tiga konsep kunci di balik pola hubungan yang alih-alih komplementer atau egaliter, tetapi sangat hierarkhis tersebut. Ketiganya adalah konsep taat, bakti, serta rida. Dalam situasi bagaimanapun, suami menjadi pihak yang harus ditaati sehingga isteri dituntut untuk berbakti untuk mendapat rida suami.

Di Madura, adegan semacam ini adalah pemandangan familiar. Apapun situasi fisik maupun batin yang dialami, perempuan Madura biasa menyelesaikan urusan dapur dan berbagai pekerjaan domestik lain. Pada waktu yang sama, para suami menikmati secangkir kopi, seringkali dalam obrolan seru bersama bhala tatanggha (saudara dan tetangga). Begitu kopi tandas, mereka nyaris tidak memikirkan bagaimana cangkir-cangkir kotor sisa kopi menjadi bersih kembali dan bertengger di tempatnya semula atau bagaimana ampas kopi bisa tak menghambat saluran pembuangan. Meski situasi ini bukan tanpa anomali, pola demikian tampak masih mendominasi dengan bertahannya pandangan dan praktik pembagian kerja tradisional. Asumsi bahwa tugas domestik adalah wilayah kerja utama perempuan tetap berlaku betapapun yang bersangkutan telah melakukan ekspansi peran ke wilayah publik hingga berandil dalam pendapatan keluarga. Alih-alih mendapat apresiasi dan pengurangan porsi tugas domesik, kontribusi demikian nyaris tak bernilai apa-apa dibanding ketika suami mengambil alih tugas domestik meski dalam durasi yang tidak seberapa.

Dari sini tampak sekali bagaimana pembagian kerja yang demikian menguntungkan sebelah pihak. Padahal, siapapun tahu bahwa peran-peran biologis kodrati perempuan tidak bisa digantikan. Untuk urusan njamu demi lancarnya proses reproduksi—termasuk kontrasepsi modern—ataupun kesuburan untuk memperoleh keturunan, nyaris hanya perempuan yang dikenai tugas, sementara laki-laki tidak dibebani kewajiban apa-apa. Dengan keadaan semacam itu, perempuan tetap dibebani tugas-tugas non-kodrati yang sebenarnya negotiable dan tidak mutlak menjadi wilayahnya. Sementara tugas suami dianggap tuntas dengan menyediakan kebutuhan finansial, tugas isteri seperti tak ada habisnya. Ia dituntut mapan secara spiritual untuk mendoakan dan nirakati keluarganya, stabil secara emosional, mumpuni secara intelektual, sehat dan berpenampilan menarik, hingga menguasai berbagai basic life skill.

Dengan beban demikian, tidak mengherankan jika perempuan nyaris tidak memiliki me-time, seperti momentum lelaki menyeruput kopi di pagi hari. Gejala semacam itu, menariknya, diamini masyarakat sekaligus mandarah daging bagi si perempuan sehingga ia cenderung diliputi rasa bersalah ketika abai atau mereka tidak maksimal melaksanakan tugasnya; sesuatu yang nyaris mustahil terpikir oleh laki-laki terkait perannya dalam tugas-tugas rumah tangga. Hal yang sama berlaku juga untuk keinginan dan angan-angannya sendiri di luar ekspektasi sosial. Anke Niehof bahkan sampai berujar bahwa masa-masa kehamilan (ngidam) adalah satu-satunya momentum di mana ia dapat menyuarakan keinginan secara terang-terangan kepada suaminya.

***

Seperti sosok Rumanti dalam “Perempuan Jogja”, perempuan Madura tidak akan selesai digambarkan dalam satu sosok. Ilustrasi-ilustrasi di atas bisa jadi masih relevan dalam konteks saat ini namun mungkin saja perlu didiskusikan ulang. Bagaimanapun beragamnya fakta di lapangan, perempuan Madura banyak dilekatkan dengan berbagai image dan atau stereotype yang lebih intens melihat sisi buruk dibanding sisi baiknya. Padahal, secara teoretik, penilaian positif berasal dari bare maximum sebuah kelompok atau komunitas, sementara label negatif muncul dari kategori paling bawah di dalamnya.

Berbagai bias dan halangan teknis dalam proses menciptakan image tersebut bahkan berbagai anomalinya juga bukan tak diungkap, tetapi sebagian stereotype masih melekat hingga hari ini. Perempuan Madura, misalnya, dicitrakan sebagai warga kelas dua dalam hal anatomi tubuh, warna kulit, cara berpakaian, bertutur, dan berperilaku dibanding perempuan Jawa. Mereka bahkan dianggap dapat dengan sangat mudah dikenali ketika berbaur dengan perempuan lain karena ketika membawa beban, mereka cenderung menaruhnya di atas kepala (nyunggi), alih-alih di belakang punggung, dengan dua tangan di depan, atau cara-cara lain.

Seperti diakui Hubb de Jonge, stigma-stigma tersebut, betapapun bukan tanpa bukti dan indikator, terkadang muncul tanpa melalui pengamatan langsung dan sangat dipengaruhi pandangan yang berkembang di kalangan etnik lain. Sedikit sekali penilaian yang memperhitungkan bagaimana perempuan Madura mempersepsikan dirinya sendiri. Padahal, suara dari dalam semacam itu, kendatipun dalam beberapa hal seringkali terkesan apologetik, diperlukan tidak sekadar untuk mengimbangi pandangan yang dalam beberapa hal bias, tetapi juga sebagai insight lain dari perspektif yang barangkali jarang terdengar, seperti apa yang direpresentasikan buku ini.

Dalam lingkup lebih luas, karya-karya seputar Madura belum banyak menjadikan perempuan sebagian subyek utama. Dari sedikit karya tersebut, perspektif insider adalah satu celah yang masih banyak menyisakan ruang untuk diisi. Selain saduran dari disertasi Tatik Hidayati (2022) dan Hasanatul Jannah (2020), masih sulit ditemukan suara dan pandangan perempuan Madura terhadap isu-isu emansipasi, kesetaraan gender, keberpihakan akan yang lemah, termasuk potret perempuan Madura dalam lanskap yang lebih mengakar rumput. Agaknya, buku ini mengajukan diri untuk menempati ceruk kecil namun penting tersebut.

***

Di luar image perempuan Madura menurut outsider maupun insider, posisi mereka sebenarnya in between. Di satu sisi, mereka dianggap simbol kehormatan seperti tampak dari tata pemukiman hingga norma sosial yang berlaku. Namun demikian sejarah mencatat bagaimana mereka menjadi barang taruhan/jaminan ketika suami/ayahnya melempar dadu judi. Ketika banyak kasus carok bermula dari sakit hati persoalan asmara, di waktu yang sama perempuan Madura dianggap tidak lebih disayangi dibanding sapi untuk kerapan atau kerbau untuk bercocok tanam. Sementara suara mereka banyak dibungkam dan tidak bebas mengemukakan pandangan, mereka diposisikan sebagai kelompok yang tidak boleh salah, sehingga ketika terlibat skandal, tindak kriminal, atau perilaku asusila, sanksi sosial yang mereka terima cenderung lebih berat dibanding laki-laki.

Dalam situasi serba tidak menentu ini, perempuan Madura membangun agensinya sendiri. Sebagian besar mereka mungkin nyaris tidak mengenal konsep-konsep emansipasi atau kesetaraan gender, tetapi mereka tidak tinggal diam dan mengantisipasi situasi terburuk yang bukan tak mungkin mereka alami. Mereka yang menjadikan dapur sebagai pusat agensi memastikan ketahanan dan kualitas pangan keluarga sambil mencari penghasilan tambahan. Mereka yang bekerja di luar rumah berupaya tetap mendampingi anak tanpa berkompromi terhadap profesionalitas. Perempuan muda Madura melanjutkan pendidikan formal, mempelajari berbagai keterampilan, atau membangun bisnis dan meniti karier sejak dini demi independensinya di masa mendatang. Dengan begitu, mereka cenderung akan dilibatkan dalam pembuatan keputusan dan tidak hanya diperlakukan sebagai konco wingking yang manut-manut saja terhadap apapun yang bahkan menyangkut kehidupan mereka sendiri.

Jika feminisme dimaknai sebagai gerakan pembebasan terhadap yang lemah dan atau tertindas, baik laki-laki atau perempuan, termasuk alam dalam konsep ekofeminisme, maka inisiatif kultural dengan semangat tersebut sudah muncul di Madura. Ini terlihat dari skala individu hingga komunitas, betapapun dengan intensitas yang masih kecil dan kecenderungan untuk tidak menggunakan istilah-istilah tertentu. Hierarkhi ketaatan masyarakat Madura dalam berbagai hal sebenarnya cukup egaliter karena tidak memperlakukan seseorang berdasarkan jenis kelamin, tetapi peran gender-nya dalam masyarakat, yakni orang tua (buppa’, babu), guru (ghuru), dan rato (penguasa). Tentu saja, usaha-usaha menghidupkan semangat keberpihakan terhadap yang lemah perlu terus digencarkan dan dilanjutkan dalam kerja-kerja akademik dan aktivisme sosial, termasuk merenungkan kembali konsep-konsep yang terlanjur dianggap baku dalam diskusi keagamaan maupun fenomena sosial.

CATATAN KAKI

Kurt Stenross, Madurese Seafarers; Prahus, Timber and Illegality on the Margins of the Indonesian State (Singapore: ASAA (Asian Studies Association of Australia), Southeast Asia Publication Series, 2011), 26. Dalam kontes ini, Stenross mengatakan bahwa perempuan Madura berperan dalam money earning, termasuk menjadi kepala desa dan bekerja ke luar negeri/kota. Wilayah yang menurutnya tidak dimasuki perempuan Madura adalah aktivitas membuat perahu dan berlayar. Sementara itu, pilihan perempuan Madura untuk bekerja dianggap sangat masuk akal mengingat kondisi tanah yang tandus, sehingga pemasukan keluarga mau tak mau mengharuskan peran dari suami maupun isteri. Riansyah and Ahmad Zainul Hamdi, “Pandang Dan Memandang Pengrawit Perempuan Sumenep,” Srinthil; Media Perempuan Multikultural (Tandha’; Jungkir Balik Kekuasaan Laki-Laki Madura) 13 (1995): 153. Adapun fenomena perempuan menjadi kepala desa sudah menjadi kebiasaan di Pulau Ra’as, Sumenep. Abd Latif Bustami, “Bukan Karena Ia Perempuan,” Srinthil; Media Perempuan Multikultural (Tandha’; Jungkir Balik Kekuasaan Laki-Laki Madura) 13 (1995); 176.

Anke Niehof, “Traditional Medicine at Pregnancy and Childbirth in Madura, Indonesia,” in The Context of Medicines in Developing Countries; Studies in Pharmaceutical Anthropology, ed. Sjaak van der Geest and Susan Reynolds Whyte (Dordrecht: Kluwer Academic Publishers, 1988), 238, 244.

Niehof, “Traditional Medicine at Pregnancy and Childbirth in Madura, Indonesia,” 240. Sebagaimana dikutip dari Elias dalam Huub de Jonge, “Stereotypes of Madura,” in Across Madura Strait; The Dynamics of an Insular Society, ed. Kees van Dijk, Huub de Jonge, and Elly Touwen Bouwsma (Leiden: KILTV, 1995), 6.

Jonge, “Stereotypes of Madura,” 10.

Bambang Wibisono, “Perilaku Dan Etos Kerja Perempuan Madura,” Srinthil; Media Perempuan Multikultural (Tandha’; Jungkir Balik Kekuasaan Laki-Laki Madura) 013 (2007): 2.

Jonge, “Stereotypes of Madura,” 21–22.

Suhartatik, “Madura: Perempuan Dan Carok Antara Kehormatan Dan Sarkasme Entitas Budaya,” in Perempuan, Kuliner Dan Jamu Madura, ed. Iskandar Dzulkarnain (Yogyakarta: Elmatera, 2017), 55–56.

Sony Rahardja, “Tandha’; Jungkir Balik Kekuasaan Laki-Laki Madura,” Srinthil; Media Perempuan Multikultural (Tandha’; Jungkir Balik Kekuasaan Laki-Laki Madura) 013 (2007): 13–15.

Jonge, “Stereotypes of Madura,” 14.

Jonge, “Stereotypes of Madura,” 17.

Wibisono, “Perilaku Dan Etos Kerja Perempuan Madura,” 132.
Tulisan ini juga dimuat dalam kata pengantar buku Madura Anti-Feminis(me) karya Alya Zahra, Alifba Media, 2026

Dear, Fusun

Aku tak tahu persisnya apakah Engkau sosok nyata yang difiksikan ataukah Engkau sepenuhnya fiksi; termasuk apakah Engkau setengah fiksi dan setengah nyata; campuran dari berbagai kisah yang dijadikan satu, atau kemungkinan lain. Aku hanya melihat, seperti apapun unsur pembentukmu, Engkau adalah gambaran dari banyak situasi perempuan di dunia nyata. Engkau seperti menjadi cermin dari mereka yang bercita-cita besar tetapi lahir dan tumbuh tanpa banyak privilege sehingga harus menciptakan sendiri privilege tersebut dengan kerja keras, rajin belajar dan menempuh banyak cara untuk sampai di tujuan. Tentu saja dalam perjalanan menciptakan privilege sendiri tersebut, ada banyak lompatan dan lekukan yang mungkin tak terprediksi sejak awal. Sebagian sekadar mengubah alur cerita, sebagian sampai berdampak pada ujung cerita.

Akan tetapi Fusun,

Rasanya perasaan banyak memenangkan pertarungan dengan logikamu. Sejak sebelum pertama kali Kau berjumpa Kemal di toko tempatmu bekerja, Kau sudah tahu bahwa ia bukanlah pemuda lajang yang available. Eh Kamu mash nekat main ke apartemen dia di Merhamet Apt, bahkan kemudian menjadikannya kebiasaan setiap jam dua siang, di sela-sela jam kerjamu di toko, waktu yang seharusnya Kau gunakan untuk memuluskan impianmu meraih nilai aman untuk masuk universitas. Kau malah rajin ke situ dengan kedok belajar matematika. Sampai di sini, Fusun, aku melihat bahwa yang terjadi padamu adalah pembenaran dari isapan jempol bahwa perempuan seringkali kalah oleh perasaannya. Aku tak yakin Kau kehilangan sosok dan kasih sayang seorang ayah sehingga tindakan-tindakan kecil Kemal sangat berkesan di hatimu, tetapi keputusan-keputusanmu bukanlah kecelakaan sekali seperti kunjungan pertama. Kau mengulanginya lagi-lagi, penuh kesadaran dan Kau bahkan tampak menikmatinya. Meski tidak sepenuhnya meninggalkan tujuan belajar matematika untuk persiapan ujian, Engkau sangat terlihat telah melupakan prioritasmu untuk fokus belajar, masuk universitas dan mewujudkan mimpimu. Kau memang bisa berdalih menjadikan Kemal dan pertemuan dengannya alasan untuk makin semangat belajar tetapi Kau justru lupa tujuan awal dan cita-cita besar yang Kaumiliki. Alih-alih makin giat belajar, Kau justru asyik bermain dengan api yang Kau sendiri sangat tau betapa nantinya ia akan membakarmu dan orang-orang sekitarmu.

Apa yang Kaucari dari Kemal sementara Kau sendiri tahu betapa ia terikat dengan Sibel seperti semua orang di lingkunganmu memuja-muja kisah cinta mereka? Kau boleh mengatakan bahwa Kemal tak main-main mencintaimu. Ia membuktikan banyak hal nyaris di seluruh episode cerita. Dalam beberapa hal ia bahkan tampak terobsesi padamu; sesuatu yang belakangan menjadi cikal-bakal museum yang hingga kini berdiri di Istanbul tersebut. Akan tetapi, tidakkah Kaujuga tahu bahwa sedari awal, Kemal banyak berbohong padamu dan celakanya, Kau percaya-percaya saja padanya. Harusnya Kau bisa lebih curiga pada saudara jauhmu tersebut; mustahil rasanya jika Kamu adalah yang pertama baginya seperti dia adalah pertama bagimu sementara semua orang tahu bahwa Kemal tak lama lagi akan meresmikan pertunangannya dengan Sibel. Selain bahwa Kau telah menempati posisinya di hati Kemal, harusnya Kau banyak belajar dari resiliensi dia sebagai perempuan. Aku tak mengatakan soal privilege yang barangkali ia miliki; lulusan Sorbonne atau apalah itu, tetapi cara dia menghadapi situasi dan persoalan menandakan bahwa ia perempuan matang. Perkara Kemal akhirnya memilihmu dan bukan dia, itu adalah hal lain di luar kontrol Sibel yang tak sama sekali mengurangi nilai dia sebagai seorang perempuan berkarakter. Tetapi bahwa sebagai seorang perempuan, pasangan, ia cukup paripurna. At least she has tried her best. Aku sering merasa bahwa di hadapanmu, Kemal lebih bebas mendominasimu sementara ketika bersama Sibel, ia menghadapi perempuan yang setara sehingga ego maskulinitasnya terancam dan dia merasa lebih nyaman--dan akhirnya memilih--denganmu.

Fusun, Kau sangat mengecewakanku ketika akhirnya Kau datang ke pertunangan Kemal dan Sibel. Padahal, esoknya Kau ujian dan Kau tahu bahwa hadir ke sana tak memberi input positif apapun terhadap persiapanmu untuk hari besar itu. Apa bagusnya Kau menampakkan diri kepada Kemal di malam Kau tengah patah hati karena dirinya? Apa Kau ingin menyempurnakan patah hatimu sehingga esok hari Kau siap berperang dan memenangkan ujian? Kau bisa saja berniat begitu, tetapi akhirnya patah yang Kaualami jauh berlipat dibanding apa yang mungkin sempat Kaubayangkan. Informasi dari asisten Kemal perihal pasangan yg tampak tengah berbahagia tersebut pasti sangat mengejutkanmu sebab Kau terlalu percaya pada Kemal. Cinta yang Kausadari belakangan telah terlebih dahulu membutakan mata dan hatimu sehingga Kau jadi permisif dengan hal-hal yang Kau tahu tak seharusnya Kau lakukan. Bagaimana mungkin Kau menyerahkan ‘hidup’mu pada orang yang telah terikat dengan orang lain dan bersikap seolah Kau adalah satu-satunya dunia yang dia miliki ketika kalian berdua? Tidakkah seharusnya Kau berpikir bahwa Kau adalah second choice, pelarian, atau apapun yang disembunyikan Kemal dari dunia begitu Kau keluar dari kamar itu? Bahkan setelah sama-sama keluar dari bangunan bertingkat itu, Kalian berubah menjadi dua orang asing yang hanya bisa berjalan di sisi berseberangan sambil saling menatap dan tersenyum, padahal sebelumnya bergumul tanpa busana disaksiksan burung gagak di bawah suara riuh anak laki-laki bermain bola.

Aku pikir Kausudah jera dan menghapus Kemal dari kepalamu ketika akhirnya Kaumenghilang dan pindah rumah tanpa berkirim kabar atau pesan apapun untuk Kemal. Ujian masuk universitasmu gagal dan meski pada akhirnya Kemal juga gagal mempertahankan pertunangannya, ia sempat memulai kehidupan baru bersama Sibel. Ia pernah benar-benar ingin melupakanmu, mengaku kesalahannya pada Sibel dan meminta pertolongannya, meski belakangan ia tahu bahwa obsesinya terhadapmu mengalahkan semua pertimbangan dan kalkulasi logis. Ia tak bisa berbohong terlalu lama tinggal bersama Sibel sementara pikirannya terisi sosokmu. Setidaknya, Kau perlu juga sadar bahwa ia tidak sebegitunya mencintaimu. Engkau tidak benar-benar menjadi satu-satunya di hati Kemal. Ketika ia mencarimu ke sana ke mari berbekal informasi dari karibmu perihal keberadaanmu di Istanbul, Kemal memang tampak seperti Qais. Untungnya, Kau bukanlah Laila dan belakangan aku tahu bahwa Kemal sebenarnya tidak benar-benar mencintaimu; ia sepertinya hanya mencintai egonya sendiri yang terwujud dalam sosokmu.

Ketika aku sudah mulai bangga padamu karena Kau berani meninggalkan Kemal tanpa kabar apapun, Kau malah mengirim sepucuk surat undangan makan malam. Sebelum akhirnya kalian bertemua kembali dengan potongan rambut pendekmu, aku sempat berbahagia membayangkan kisah kalian akan berakhir indah; seperti cerita-cerita lain yang memang digariskan untuk bermula dari sebuah kesalahan. Kemal berniat langsung melamarmu sebelum ia tahu bahwa Kautelah menikah. Dalam 6 bulan ia mencarimu, 5 bulan di antaranya Kau sudah berstatus isteri orang. Dan inilah bagian paling membosankan bagiku. Kemal rajin bertandang ke rumahmu, membawakan makanan, seringkali uang, bahkan membantu karier suamimu, Ferdun, juga dirimu sendiri, dengan modal dana yang dimilikinya sebagai salah satu pewaris kerajaan bisnis keluarga.

Kauternyata tak bahagia dengan Ferdun dan undanganmu kepada Kemal tak lebih dari upaya memanfaatkan kedermawanan Kemal serta perasaannya yang masih tertaut padamu. Aku tak tahu siapa yang berinisiatif akan hal ini, tetapi di sini aku merasa cerita tak lagi mengasyikkan. Kau bertemu Kemal hampir tiap malam di rumahmu ketika Ferdun sedang di luar. Kalian juga beberapa kali jalan keluar bertiga dan beberapa adegan ganjil jadi tak terhindarkan. Aku sering melihat Ferdun sengaja menjualmu pada Kemal, agar karier filmnya lancar dan Kemal mau menjadi produser untuk naskah cerita yang ditulisnya. Baik Kemal atau Ferdun tak pernah benar-benar ingin mewujudkan mimpimu menjadi pemain film, dengan pertimbangan dan kepentingan mereka masing-masing. Puncaknya, Ferdun menceraikanmu dengan syarat perusahaan tempat Kemal berinvestasi—yang diberi nama dengan nama jenis burung kesukaanmu—beralih kepemilikan padanya. Bener-bener menyebalkan!

Lalu Kau dan Kemalpun seperti menemukan momentum yang sudah lama ditunggu. Aku kembali sempat bahagia membayangkan akhir cerita indah kalian berdua, setelah segala hal yang dilalui dan kejanggalan-kejanggalan yang bagiku sangat merugikanmu. Ketika Kaumengajukan beberapa syarat kepada Kemal, untuk keliling Eropa pakai mobil, dilamar langsung oleh ibu Kemal, tidak ada sexual intercourse sebelum pernikahan, juga menggelar pesta di tempat Kemal dan Sibel dulu bertunangan, aku melihatmu bukan lagi sebagai Fusun belia dengan pikiran-pikiran polos dan sederhana (seperti permintaanmu mengunjungi apartemen Kemal begitu Kau selesai mengikuti ujian; keinginan yang tidak sempat Kautuntaskan karena Kauterlanjur mengetahui kebohongan Kemal dan pergi sejenak dari hidupnya). Tetapi di sisi lain, aku melihat Kau terlalu menggantungkan mimpimu pada Kemal, meski Kau bisa saja berdalih ini semua adalah pelipur dari segala sakit yang Kaudera sejak malam itu di Hilton. Kau juga menjadi lebih agresif, berapi-api, dan mode senggol bacok, seperti kejadian ketika membuat passport di kantor imigrasi. Di tahap itu, Kemal masih tampak bersabar dengan sikap-sikapmu yang barangkali sangat jauh berbeda dengan Kamu sekian tahun sebelumnya. Adegan Kau belajar mengemudi juga menunjukkan betapa Kau benar-benar telah menjadi Fusun yang baru. Kau mewujudkan salah satu mimpi kecilmu dan ngotot mendapat SIM meski harus bolak-balik test hingga 3 kali. Tetapi, Kemal rasanya tak bisa menahanmu lagi ketika di akhir cerita, Kau mengendara ugal-ugalan dan tampak sengaja membawa mobil melintasi kebun bunga matahari; visual yang Kautemukan di pikiranmu ketika menikmati momentum klimaks di apartemen Kemal.

Sebelumnya, Kau melanggar sendiri syarat yang Kauajukan untuk Kemal. Setelah resmi bertunangan, dalam perjalanan menuju Eropa, Kau justru mendatangi kamar Kemal dengan berbohong bahwa ibumu mengunci kamar yang kalian berdua tempati. Meski bahagia, Kau seperti terpaksa datang ke kamar Kemal dan di situlah adegan tersebut terjadi lagi. Kemal tampak bukan tak menginginkannya sejak awal (konon ia tak pernah lagi bisa melakukannya dengan Sibel setelah denganmu), hanya saja ia menahannya karena syarat dan janji yang diberikannya padamu. Setelah semua itu, Kau malah melanggar janji sendiri lalu esoknya seperti marah karena hal itu terjadi lagi. Tetapi Fusun, aku rasanya tau bahwa intinya bukan di situ, tetapi ucapan Kemal yang seperti menyudutkanmu ke sudut paling gelap; sesuatu yang barangkali pernah terpikir di kepalamu tetapi Kemal malah memverbalkan di depanmu langsung sehingga Kau mau tak mau tersinggung, lalu meledak dan seperti tak berpikir panjang. Kemal ketika itu mengatakan kalimat semacam bahwa Engkau tak akan pernah bisa maju tanpa pria kuat, which is tanpa Kemal atau Ferdun, sebab ketika itu konteksnya adalah perihal cita-citamu untuk menjadi bintang film; suatu keinginan yang semakin jauh dari jangkauan sejak sederet kejadian dengan Ferdun dan kekhawatiran Kemal bahwa Kau tidak akan bertahan di dunia yang menurutnya penuh jebakan hitam dan berbahaya bagi seorang perempuan. Kau seperti berpikir bahwa kekayaan Kemal dan cintanya yang tumpah-tumpah tidak akan cukup membahagiakanmu sebab cita-citamu tidak menjadi prioritas Kemal, setidaknya dalam kecenderungan yang nyata dan bukan hanya di omon-omon seperti kebiasan Kemal berbohong untuk mengamankan situasi.

Sampai di sini rasanya belum sanggup untuk bikin concluding remarks.

MARI themes

Diberdayakan oleh Blogger.