Tak ada yang terasa janggal dari adegan seorang istri menghidangkan kopi di pagi hari untuk suaminya. Saking lumrahnya, hal-hal mendasar di balik kelaziman tersebut sering terlewatkan. Apa yang membuatnya terus berulang seperti tak menemukan titik anomali? Siapa yang pertama kali membagi tugas demikian dan mengapa ia bertahan sedemikian lama? Mengapa si suami tak membuat kopinya sendiri saja, bukankah ia bisa lebih mudah menyesuaikan takaran dengan seleranya? Jangan-jangan aktivitas tersebut menyimpan makna lebih dari sekadar kebiasaan, atau pertanyaan-pertanyaan kecil semacam; “mengapa suami tidak melakukan hal serupa kepada istrinya?”

Jawabannya tentu tak sulit dicari. Ada banyak pembenaran untuk membiarkan rutinitas tersebut terus berlangsung, mulai dari argumen konstruk sosial sebagai kebiasaan hingga pemikiran keagamaan. Dibanding yang pertama, argumen kedua tampak lebih dianggap legitimate, meski bukan tidak ada yang mencoba merenungkannya ulang. Sedikitnya, ada tiga konsep kunci di balik pola hubungan yang alih-alih komplementer atau egaliter, tetapi sangat hierarkhis tersebut. Ketiganya adalah konsep taat, bakti, serta rida. Dalam situasi bagaimanapun, suami menjadi pihak yang harus ditaati sehingga isteri dituntut untuk berbakti untuk mendapat rida suami.

Di Madura, adegan semacam ini adalah pemandangan familiar. Apapun situasi fisik maupun batin yang dialami, perempuan Madura biasa menyelesaikan urusan dapur dan berbagai pekerjaan domestik lain. Pada waktu yang sama, para suami menikmati secangkir kopi, seringkali dalam obrolan seru bersama bhala tatanggha (saudara dan tetangga). Begitu kopi tandas, mereka nyaris tidak memikirkan bagaimana cangkir-cangkir kotor sisa kopi menjadi bersih kembali dan bertengger di tempatnya semula atau bagaimana ampas kopi bisa tak menghambat saluran pembuangan. Meski situasi ini bukan tanpa anomali, pola demikian tampak masih mendominasi dengan bertahannya pandangan dan praktik pembagian kerja tradisional. Asumsi bahwa tugas domestik adalah wilayah kerja utama perempuan tetap berlaku betapapun yang bersangkutan telah melakukan ekspansi peran ke wilayah publik hingga berandil dalam pendapatan keluarga. Alih-alih mendapat apresiasi dan pengurangan porsi tugas domesik, kontribusi demikian nyaris tak bernilai apa-apa dibanding ketika suami mengambil alih tugas domestik meski dalam durasi yang tidak seberapa.

Dari sini tampak sekali bagaimana pembagian kerja yang demikian menguntungkan sebelah pihak. Padahal, siapapun tahu bahwa peran-peran biologis kodrati perempuan tidak bisa digantikan. Untuk urusan njamu demi lancarnya proses reproduksi—termasuk kontrasepsi modern—ataupun kesuburan untuk memperoleh keturunan, nyaris hanya perempuan yang dikenai tugas, sementara laki-laki tidak dibebani kewajiban apa-apa. Dengan keadaan semacam itu, perempuan tetap dibebani tugas-tugas non-kodrati yang sebenarnya negotiable dan tidak mutlak menjadi wilayahnya. Sementara tugas suami dianggap tuntas dengan menyediakan kebutuhan finansial, tugas isteri seperti tak ada habisnya. Ia dituntut mapan secara spiritual untuk mendoakan dan nirakati keluarganya, stabil secara emosional, mumpuni secara intelektual, sehat dan berpenampilan menarik, hingga menguasai berbagai basic life skill.

Dengan beban demikian, tidak mengherankan jika perempuan nyaris tidak memiliki me-time, seperti momentum lelaki menyeruput kopi di pagi hari. Gejala semacam itu, menariknya, diamini masyarakat sekaligus mandarah daging bagi si perempuan sehingga ia cenderung diliputi rasa bersalah ketika abai atau mereka tidak maksimal melaksanakan tugasnya; sesuatu yang nyaris mustahil terpikir oleh laki-laki terkait perannya dalam tugas-tugas rumah tangga. Hal yang sama berlaku juga untuk keinginan dan angan-angannya sendiri di luar ekspektasi sosial. Anke Niehof bahkan sampai berujar bahwa masa-masa kehamilan (ngidam) adalah satu-satunya momentum di mana ia dapat menyuarakan keinginan secara terang-terangan kepada suaminya.

***

Seperti sosok Rumanti dalam “Perempuan Jogja”, perempuan Madura tidak akan selesai digambarkan dalam satu sosok. Ilustrasi-ilustrasi di atas bisa jadi masih relevan dalam konteks saat ini namun mungkin saja perlu didiskusikan ulang. Bagaimanapun beragamnya fakta di lapangan, perempuan Madura banyak dilekatkan dengan berbagai image dan atau stereotype yang lebih intens melihat sisi buruk dibanding sisi baiknya. Padahal, secara teoretik, penilaian positif berasal dari bare maximum sebuah kelompok atau komunitas, sementara label negatif muncul dari kategori paling bawah di dalamnya.

Berbagai bias dan halangan teknis dalam proses menciptakan image tersebut bahkan berbagai anomalinya juga bukan tak diungkap, tetapi sebagian stereotype masih melekat hingga hari ini. Perempuan Madura, misalnya, dicitrakan sebagai warga kelas dua dalam hal anatomi tubuh, warna kulit, cara berpakaian, bertutur, dan berperilaku dibanding perempuan Jawa. Mereka bahkan dianggap dapat dengan sangat mudah dikenali ketika berbaur dengan perempuan lain karena ketika membawa beban, mereka cenderung menaruhnya di atas kepala (nyunggi), alih-alih di belakang punggung, dengan dua tangan di depan, atau cara-cara lain.

Seperti diakui Hubb de Jonge, stigma-stigma tersebut, betapapun bukan tanpa bukti dan indikator, terkadang muncul tanpa melalui pengamatan langsung dan sangat dipengaruhi pandangan yang berkembang di kalangan etnik lain. Sedikit sekali penilaian yang memperhitungkan bagaimana perempuan Madura mempersepsikan dirinya sendiri. Padahal, suara dari dalam semacam itu, kendatipun dalam beberapa hal seringkali terkesan apologetik, diperlukan tidak sekadar untuk mengimbangi pandangan yang dalam beberapa hal bias, tetapi juga sebagai insight lain dari perspektif yang barangkali jarang terdengar, seperti apa yang direpresentasikan buku ini.

Dalam lingkup lebih luas, karya-karya seputar Madura belum banyak menjadikan perempuan sebagian subyek utama. Dari sedikit karya tersebut, perspektif insider adalah satu celah yang masih banyak menyisakan ruang untuk diisi. Selain saduran dari disertasi Tatik Hidayati (2022) dan Hasanatul Jannah (2020), masih sulit ditemukan suara dan pandangan perempuan Madura terhadap isu-isu emansipasi, kesetaraan gender, keberpihakan akan yang lemah, termasuk potret perempuan Madura dalam lanskap yang lebih mengakar rumput. Agaknya, buku ini mengajukan diri untuk menempati ceruk kecil namun penting tersebut.

***

Di luar image perempuan Madura menurut outsider maupun insider, posisi mereka sebenarnya in between. Di satu sisi, mereka dianggap simbol kehormatan seperti tampak dari tata pemukiman hingga norma sosial yang berlaku. Namun demikian sejarah mencatat bagaimana mereka menjadi barang taruhan/jaminan ketika suami/ayahnya melempar dadu judi. Ketika banyak kasus carok bermula dari sakit hati persoalan asmara, di waktu yang sama perempuan Madura dianggap tidak lebih disayangi dibanding sapi untuk kerapan atau kerbau untuk bercocok tanam. Sementara suara mereka banyak dibungkam dan tidak bebas mengemukakan pandangan, mereka diposisikan sebagai kelompok yang tidak boleh salah, sehingga ketika terlibat skandal, tindak kriminal, atau perilaku asusila, sanksi sosial yang mereka terima cenderung lebih berat dibanding laki-laki.

Dalam situasi serba tidak menentu ini, perempuan Madura membangun agensinya sendiri. Sebagian besar mereka mungkin nyaris tidak mengenal konsep-konsep emansipasi atau kesetaraan gender, tetapi mereka tidak tinggal diam dan mengantisipasi situasi terburuk yang bukan tak mungkin mereka alami. Mereka yang menjadikan dapur sebagai pusat agensi memastikan ketahanan dan kualitas pangan keluarga sambil mencari penghasilan tambahan. Mereka yang bekerja di luar rumah berupaya tetap mendampingi anak tanpa berkompromi terhadap profesionalitas. Perempuan muda Madura melanjutkan pendidikan formal, mempelajari berbagai keterampilan, atau membangun bisnis dan meniti karier sejak dini demi independensinya di masa mendatang. Dengan begitu, mereka cenderung akan dilibatkan dalam pembuatan keputusan dan tidak hanya diperlakukan sebagai konco wingking yang manut-manut saja terhadap apapun yang bahkan menyangkut kehidupan mereka sendiri.

Jika feminisme dimaknai sebagai gerakan pembebasan terhadap yang lemah dan atau tertindas, baik laki-laki atau perempuan, termasuk alam dalam konsep ekofeminisme, maka inisiatif kultural dengan semangat tersebut sudah muncul di Madura. Ini terlihat dari skala individu hingga komunitas, betapapun dengan intensitas yang masih kecil dan kecenderungan untuk tidak menggunakan istilah-istilah tertentu. Hierarkhi ketaatan masyarakat Madura dalam berbagai hal sebenarnya cukup egaliter karena tidak memperlakukan seseorang berdasarkan jenis kelamin, tetapi peran gender-nya dalam masyarakat, yakni orang tua (buppa’, babu), guru (ghuru), dan rato (penguasa). Tentu saja, usaha-usaha menghidupkan semangat keberpihakan terhadap yang lemah perlu terus digencarkan dan dilanjutkan dalam kerja-kerja akademik dan aktivisme sosial, termasuk merenungkan kembali konsep-konsep yang terlanjur dianggap baku dalam diskusi keagamaan maupun fenomena sosial.

CATATAN KAKI

Kurt Stenross, Madurese Seafarers; Prahus, Timber and Illegality on the Margins of the Indonesian State (Singapore: ASAA (Asian Studies Association of Australia), Southeast Asia Publication Series, 2011), 26. Dalam kontes ini, Stenross mengatakan bahwa perempuan Madura berperan dalam money earning, termasuk menjadi kepala desa dan bekerja ke luar negeri/kota. Wilayah yang menurutnya tidak dimasuki perempuan Madura adalah aktivitas membuat perahu dan berlayar. Sementara itu, pilihan perempuan Madura untuk bekerja dianggap sangat masuk akal mengingat kondisi tanah yang tandus, sehingga pemasukan keluarga mau tak mau mengharuskan peran dari suami maupun isteri. Riansyah and Ahmad Zainul Hamdi, “Pandang Dan Memandang Pengrawit Perempuan Sumenep,” Srinthil; Media Perempuan Multikultural (Tandha’; Jungkir Balik Kekuasaan Laki-Laki Madura) 13 (1995): 153. Adapun fenomena perempuan menjadi kepala desa sudah menjadi kebiasaan di Pulau Ra’as, Sumenep. Abd Latif Bustami, “Bukan Karena Ia Perempuan,” Srinthil; Media Perempuan Multikultural (Tandha’; Jungkir Balik Kekuasaan Laki-Laki Madura) 13 (1995); 176.

Anke Niehof, “Traditional Medicine at Pregnancy and Childbirth in Madura, Indonesia,” in The Context of Medicines in Developing Countries; Studies in Pharmaceutical Anthropology, ed. Sjaak van der Geest and Susan Reynolds Whyte (Dordrecht: Kluwer Academic Publishers, 1988), 238, 244.

Niehof, “Traditional Medicine at Pregnancy and Childbirth in Madura, Indonesia,” 240. Sebagaimana dikutip dari Elias dalam Huub de Jonge, “Stereotypes of Madura,” in Across Madura Strait; The Dynamics of an Insular Society, ed. Kees van Dijk, Huub de Jonge, and Elly Touwen Bouwsma (Leiden: KILTV, 1995), 6.

Jonge, “Stereotypes of Madura,” 10.

Bambang Wibisono, “Perilaku Dan Etos Kerja Perempuan Madura,” Srinthil; Media Perempuan Multikultural (Tandha’; Jungkir Balik Kekuasaan Laki-Laki Madura) 013 (2007): 2.

Jonge, “Stereotypes of Madura,” 21–22.

Suhartatik, “Madura: Perempuan Dan Carok Antara Kehormatan Dan Sarkasme Entitas Budaya,” in Perempuan, Kuliner Dan Jamu Madura, ed. Iskandar Dzulkarnain (Yogyakarta: Elmatera, 2017), 55–56.

Sony Rahardja, “Tandha’; Jungkir Balik Kekuasaan Laki-Laki Madura,” Srinthil; Media Perempuan Multikultural (Tandha’; Jungkir Balik Kekuasaan Laki-Laki Madura) 013 (2007): 13–15.

Jonge, “Stereotypes of Madura,” 14.

Jonge, “Stereotypes of Madura,” 17.

Wibisono, “Perilaku Dan Etos Kerja Perempuan Madura,” 132.
Tulisan ini juga dimuat dalam kata pengantar buku Madura Anti-Feminis(me) karya Alya Zahra, Alifba Media, 2026

Dear, Fusun

Aku tak tahu persisnya apakah Engkau sosok nyata yang difiksikan ataukah Engkau sepenuhnya fiksi; termasuk apakah Engkau setengah fiksi dan setengah nyata; campuran dari berbagai kisah yang dijadikan satu, atau kemungkinan lain. Aku hanya melihat, seperti apapun unsur pembentukmu, Engkau adalah gambaran dari banyak situasi perempuan di dunia nyata. Engkau seperti menjadi cermin dari mereka yang bercita-cita besar tetapi lahir dan tumbuh tanpa banyak privilege sehingga harus menciptakan sendiri privilege tersebut dengan kerja keras, rajin belajar dan menempuh banyak cara untuk sampai di tujuan. Tentu saja dalam perjalanan menciptakan privilege sendiri tersebut, ada banyak lompatan dan lekukan yang mungkin tak terprediksi sejak awal. Sebagian sekadar mengubah alur cerita, sebagian sampai berdampak pada ujung cerita.

Akan tetapi Fusun,

Rasanya perasaan banyak memenangkan pertarungan dengan logikamu. Sejak sebelum pertama kali Kau berjumpa Kemal di toko tempatmu bekerja, Kau sudah tahu bahwa ia bukanlah pemuda lajang yang available. Eh Kamu mash nekat main ke apartemen dia di Merhamet Apt, bahkan kemudian menjadikannya kebiasaan setiap jam dua siang, di sela-sela jam kerjamu di toko, waktu yang seharusnya Kau gunakan untuk memuluskan impianmu meraih nilai aman untuk masuk universitas. Kau malah rajin ke situ dengan kedok belajar matematika. Sampai di sini, Fusun, aku melihat bahwa yang terjadi padamu adalah pembenaran dari isapan jempol bahwa perempuan seringkali kalah oleh perasaannya. Aku tak yakin Kau kehilangan sosok dan kasih sayang seorang ayah sehingga tindakan-tindakan kecil Kemal sangat berkesan di hatimu, tetapi keputusan-keputusanmu bukanlah kecelakaan sekali seperti kunjungan pertama. Kau mengulanginya lagi-lagi, penuh kesadaran dan Kau bahkan tampak menikmatinya. Meski tidak sepenuhnya meninggalkan tujuan belajar matematika untuk persiapan ujian, Engkau sangat terlihat telah melupakan prioritasmu untuk fokus belajar, masuk universitas dan mewujudkan mimpimu. Kau memang bisa berdalih menjadikan Kemal dan pertemuan dengannya alasan untuk makin semangat belajar tetapi Kau justru lupa tujuan awal dan cita-cita besar yang Kaumiliki. Alih-alih makin giat belajar, Kau justru asyik bermain dengan api yang Kau sendiri sangat tau betapa nantinya ia akan membakarmu dan orang-orang sekitarmu.

Apa yang Kaucari dari Kemal sementara Kau sendiri tahu betapa ia terikat dengan Sibel seperti semua orang di lingkunganmu memuja-muja kisah cinta mereka? Kau boleh mengatakan bahwa Kemal tak main-main mencintaimu. Ia membuktikan banyak hal nyaris di seluruh episode cerita. Dalam beberapa hal ia bahkan tampak terobsesi padamu; sesuatu yang belakangan menjadi cikal-bakal museum yang hingga kini berdiri di Istanbul tersebut. Akan tetapi, tidakkah Kaujuga tahu bahwa sedari awal, Kemal banyak berbohong padamu dan celakanya, Kau percaya-percaya saja padanya. Harusnya Kau bisa lebih curiga pada saudara jauhmu tersebut; mustahil rasanya jika Kamu adalah yang pertama baginya seperti dia adalah pertama bagimu sementara semua orang tahu bahwa Kemal tak lama lagi akan meresmikan pertunangannya dengan Sibel. Selain bahwa Kau telah menempati posisinya di hati Kemal, harusnya Kau banyak belajar dari resiliensi dia sebagai perempuan. Aku tak mengatakan soal privilege yang barangkali ia miliki; lulusan Sorbonne atau apalah itu, tetapi cara dia menghadapi situasi dan persoalan menandakan bahwa ia perempuan matang. Perkara Kemal akhirnya memilihmu dan bukan dia, itu adalah hal lain di luar kontrol Sibel yang tak sama sekali mengurangi nilai dia sebagai seorang perempuan berkarakter. Tetapi bahwa sebagai seorang perempuan, pasangan, ia cukup paripurna. At least she has tried her best. Aku sering merasa bahwa di hadapanmu, Kemal lebih bebas mendominasimu sementara ketika bersama Sibel, ia menghadapi perempuan yang setara sehingga ego maskulinitasnya terancam dan dia merasa lebih nyaman--dan akhirnya memilih--denganmu.

Fusun, Kau sangat mengecewakanku ketika akhirnya Kau datang ke pertunangan Kemal dan Sibel. Padahal, esoknya Kau ujian dan Kau tahu bahwa hadir ke sana tak memberi input positif apapun terhadap persiapanmu untuk hari besar itu. Apa bagusnya Kau menampakkan diri kepada Kemal di malam Kau tengah patah hati karena dirinya? Apa Kau ingin menyempurnakan patah hatimu sehingga esok hari Kau siap berperang dan memenangkan ujian? Kau bisa saja berniat begitu, tetapi akhirnya patah yang Kaualami jauh berlipat dibanding apa yang mungkin sempat Kaubayangkan. Informasi dari asisten Kemal perihal pasangan yg tampak tengah berbahagia tersebut pasti sangat mengejutkanmu sebab Kau terlalu percaya pada Kemal. Cinta yang Kausadari belakangan telah terlebih dahulu membutakan mata dan hatimu sehingga Kau jadi permisif dengan hal-hal yang Kau tahu tak seharusnya Kau lakukan. Bagaimana mungkin Kau menyerahkan ‘hidup’mu pada orang yang telah terikat dengan orang lain dan bersikap seolah Kau adalah satu-satunya dunia yang dia miliki ketika kalian berdua? Tidakkah seharusnya Kau berpikir bahwa Kau adalah second choice, pelarian, atau apapun yang disembunyikan Kemal dari dunia begitu Kau keluar dari kamar itu? Bahkan setelah sama-sama keluar dari bangunan bertingkat itu, Kalian berubah menjadi dua orang asing yang hanya bisa berjalan di sisi berseberangan sambil saling menatap dan tersenyum, padahal sebelumnya bergumul tanpa busana disaksiksan burung gagak di bawah suara riuh anak laki-laki bermain bola.

Aku pikir Kausudah jera dan menghapus Kemal dari kepalamu ketika akhirnya Kaumenghilang dan pindah rumah tanpa berkirim kabar atau pesan apapun untuk Kemal. Ujian masuk universitasmu gagal dan meski pada akhirnya Kemal juga gagal mempertahankan pertunangannya, ia sempat memulai kehidupan baru bersama Sibel. Ia pernah benar-benar ingin melupakanmu, mengaku kesalahannya pada Sibel dan meminta pertolongannya, meski belakangan ia tahu bahwa obsesinya terhadapmu mengalahkan semua pertimbangan dan kalkulasi logis. Ia tak bisa berbohong terlalu lama tinggal bersama Sibel sementara pikirannya terisi sosokmu. Setidaknya, Kau perlu juga sadar bahwa ia tidak sebegitunya mencintaimu. Engkau tidak benar-benar menjadi satu-satunya di hati Kemal. Ketika ia mencarimu ke sana ke mari berbekal informasi dari karibmu perihal keberadaanmu di Istanbul, Kemal memang tampak seperti Qais. Untungnya, Kau bukanlah Laila dan belakangan aku tahu bahwa Kemal sebenarnya tidak benar-benar mencintaimu; ia sepertinya hanya mencintai egonya sendiri yang terwujud dalam sosokmu.

Ketika aku sudah mulai bangga padamu karena Kau berani meninggalkan Kemal tanpa kabar apapun, Kau malah mengirim sepucuk surat undangan makan malam. Sebelum akhirnya kalian bertemua kembali dengan potongan rambut pendekmu, aku sempat berbahagia membayangkan kisah kalian akan berakhir indah; seperti cerita-cerita lain yang memang digariskan untuk bermula dari sebuah kesalahan. Kemal berniat langsung melamarmu sebelum ia tahu bahwa Kautelah menikah. Dalam 6 bulan ia mencarimu, 5 bulan di antaranya Kau sudah berstatus isteri orang. Dan inilah bagian paling membosankan bagiku. Kemal rajin bertandang ke rumahmu, membawakan makanan, seringkali uang, bahkan membantu karier suamimu, Ferdun, juga dirimu sendiri, dengan modal dana yang dimilikinya sebagai salah satu pewaris kerajaan bisnis keluarga.

Kauternyata tak bahagia dengan Ferdun dan undanganmu kepada Kemal tak lebih dari upaya memanfaatkan kedermawanan Kemal serta perasaannya yang masih tertaut padamu. Aku tak tahu siapa yang berinisiatif akan hal ini, tetapi di sini aku merasa cerita tak lagi mengasyikkan. Kau bertemu Kemal hampir tiap malam di rumahmu ketika Ferdun sedang di luar. Kalian juga beberapa kali jalan keluar bertiga dan beberapa adegan ganjil jadi tak terhindarkan. Aku sering melihat Ferdun sengaja menjualmu pada Kemal, agar karier filmnya lancar dan Kemal mau menjadi produser untuk naskah cerita yang ditulisnya. Baik Kemal atau Ferdun tak pernah benar-benar ingin mewujudkan mimpimu menjadi pemain film, dengan pertimbangan dan kepentingan mereka masing-masing. Puncaknya, Ferdun menceraikanmu dengan syarat perusahaan tempat Kemal berinvestasi—yang diberi nama dengan nama jenis burung kesukaanmu—beralih kepemilikan padanya. Bener-bener menyebalkan!

Lalu Kau dan Kemalpun seperti menemukan momentum yang sudah lama ditunggu. Aku kembali sempat bahagia membayangkan akhir cerita indah kalian berdua, setelah segala hal yang dilalui dan kejanggalan-kejanggalan yang bagiku sangat merugikanmu. Ketika Kaumengajukan beberapa syarat kepada Kemal, untuk keliling Eropa pakai mobil, dilamar langsung oleh ibu Kemal, tidak ada sexual intercourse sebelum pernikahan, juga menggelar pesta di tempat Kemal dan Sibel dulu bertunangan, aku melihatmu bukan lagi sebagai Fusun belia dengan pikiran-pikiran polos dan sederhana (seperti permintaanmu mengunjungi apartemen Kemal begitu Kau selesai mengikuti ujian; keinginan yang tidak sempat Kautuntaskan karena Kauterlanjur mengetahui kebohongan Kemal dan pergi sejenak dari hidupnya). Tetapi di sisi lain, aku melihat Kau terlalu menggantungkan mimpimu pada Kemal, meski Kau bisa saja berdalih ini semua adalah pelipur dari segala sakit yang Kaudera sejak malam itu di Hilton. Kau juga menjadi lebih agresif, berapi-api, dan mode senggol bacok, seperti kejadian ketika membuat passport di kantor imigrasi. Di tahap itu, Kemal masih tampak bersabar dengan sikap-sikapmu yang barangkali sangat jauh berbeda dengan Kamu sekian tahun sebelumnya. Adegan Kau belajar mengemudi juga menunjukkan betapa Kau benar-benar telah menjadi Fusun yang baru. Kau mewujudkan salah satu mimpi kecilmu dan ngotot mendapat SIM meski harus bolak-balik test hingga 3 kali. Tetapi, Kemal rasanya tak bisa menahanmu lagi ketika di akhir cerita, Kau mengendara ugal-ugalan dan tampak sengaja membawa mobil melintasi kebun bunga matahari; visual yang Kautemukan di pikiranmu ketika menikmati momentum klimaks di apartemen Kemal.

Sebelumnya, Kau melanggar sendiri syarat yang Kauajukan untuk Kemal. Setelah resmi bertunangan, dalam perjalanan menuju Eropa, Kau justru mendatangi kamar Kemal dengan berbohong bahwa ibumu mengunci kamar yang kalian berdua tempati. Meski bahagia, Kau seperti terpaksa datang ke kamar Kemal dan di situlah adegan tersebut terjadi lagi. Kemal tampak bukan tak menginginkannya sejak awal (konon ia tak pernah lagi bisa melakukannya dengan Sibel setelah denganmu), hanya saja ia menahannya karena syarat dan janji yang diberikannya padamu. Setelah semua itu, Kau malah melanggar janji sendiri lalu esoknya seperti marah karena hal itu terjadi lagi. Tetapi Fusun, aku rasanya tau bahwa intinya bukan di situ, tetapi ucapan Kemal yang seperti menyudutkanmu ke sudut paling gelap; sesuatu yang barangkali pernah terpikir di kepalamu tetapi Kemal malah memverbalkan di depanmu langsung sehingga Kau mau tak mau tersinggung, lalu meledak dan seperti tak berpikir panjang. Kemal ketika itu mengatakan kalimat semacam bahwa Engkau tak akan pernah bisa maju tanpa pria kuat, which is tanpa Kemal atau Ferdun, sebab ketika itu konteksnya adalah perihal cita-citamu untuk menjadi bintang film; suatu keinginan yang semakin jauh dari jangkauan sejak sederet kejadian dengan Ferdun dan kekhawatiran Kemal bahwa Kau tidak akan bertahan di dunia yang menurutnya penuh jebakan hitam dan berbahaya bagi seorang perempuan. Kau seperti berpikir bahwa kekayaan Kemal dan cintanya yang tumpah-tumpah tidak akan cukup membahagiakanmu sebab cita-citamu tidak menjadi prioritas Kemal, setidaknya dalam kecenderungan yang nyata dan bukan hanya di omon-omon seperti kebiasan Kemal berbohong untuk mengamankan situasi.

Sampai di sini rasanya belum sanggup untuk bikin concluding remarks.

MARI themes

Diberdayakan oleh Blogger.