Tak ada yang terasa janggal dari adegan seorang istri menghidangkan kopi di pagi hari untuk suaminya. Saking lumrahnya, hal-hal mendasar di balik kelaziman tersebut sering terlewatkan. Apa yang membuatnya terus berulang seperti tak menemukan titik anomali? Siapa yang pertama kali membagi tugas demikian dan mengapa ia bertahan sedemikian lama? Mengapa si suami tak membuat kopinya sendiri saja, bukankah ia bisa lebih mudah menyesuaikan takaran dengan seleranya? Jangan-jangan aktivitas tersebut menyimpan makna lebih dari sekadar kebiasaan, atau pertanyaan-pertanyaan kecil semacam; “mengapa suami tidak melakukan hal serupa kepada istrinya?”

Jawabannya tentu tak sulit dicari. Ada banyak pembenaran untuk membiarkan rutinitas tersebut terus berlangsung, mulai dari argumen konstruk sosial sebagai kebiasaan hingga pemikiran keagamaan. Dibanding yang pertama, argumen kedua tampak lebih dianggap legitimate, meski bukan tidak ada yang mencoba merenungkannya ulang. Sedikitnya, ada tiga konsep kunci di balik pola hubungan yang alih-alih komplementer atau egaliter, tetapi sangat hierarkhis tersebut. Ketiganya adalah konsep taat, bakti, serta rida. Dalam situasi bagaimanapun, suami menjadi pihak yang harus ditaati sehingga isteri dituntut untuk berbakti untuk mendapat rida suami.

Di Madura, adegan semacam ini adalah pemandangan familiar. Apapun situasi fisik maupun batin yang dialami, perempuan Madura biasa menyelesaikan urusan dapur dan berbagai pekerjaan domestik lain. Pada waktu yang sama, para suami menikmati secangkir kopi, seringkali dalam obrolan seru bersama bhala tatanggha (saudara dan tetangga). Begitu kopi tandas, mereka nyaris tidak memikirkan bagaimana cangkir-cangkir kotor sisa kopi menjadi bersih kembali dan bertengger di tempatnya semula atau bagaimana ampas kopi bisa tak menghambat saluran pembuangan. Meski situasi ini bukan tanpa anomali, pola demikian tampak masih mendominasi dengan bertahannya pandangan dan praktik pembagian kerja tradisional. Asumsi bahwa tugas domestik adalah wilayah kerja utama perempuan tetap berlaku betapapun yang bersangkutan telah melakukan ekspansi peran ke wilayah publik hingga berandil dalam pendapatan keluarga. Alih-alih mendapat apresiasi dan pengurangan porsi tugas domesik, kontribusi demikian nyaris tak bernilai apa-apa dibanding ketika suami mengambil alih tugas domestik meski dalam durasi yang tidak seberapa.

Dari sini tampak sekali bagaimana pembagian kerja yang demikian menguntungkan sebelah pihak. Padahal, siapapun tahu bahwa peran-peran biologis kodrati perempuan tidak bisa digantikan. Untuk urusan njamu demi lancarnya proses reproduksi—termasuk kontrasepsi modern—ataupun kesuburan untuk memperoleh keturunan, nyaris hanya perempuan yang dikenai tugas, sementara laki-laki tidak dibebani kewajiban apa-apa. Dengan keadaan semacam itu, perempuan tetap dibebani tugas-tugas non-kodrati yang sebenarnya negotiable dan tidak mutlak menjadi wilayahnya. Sementara tugas suami dianggap tuntas dengan menyediakan kebutuhan finansial, tugas isteri seperti tak ada habisnya. Ia dituntut mapan secara spiritual untuk mendoakan dan nirakati keluarganya, stabil secara emosional, mumpuni secara intelektual, sehat dan berpenampilan menarik, hingga menguasai berbagai basic life skill.

Dengan beban demikian, tidak mengherankan jika perempuan nyaris tidak memiliki me-time, seperti momentum lelaki menyeruput kopi di pagi hari. Gejala semacam itu, menariknya, diamini masyarakat sekaligus mandarah daging bagi si perempuan sehingga ia cenderung diliputi rasa bersalah ketika abai atau mereka tidak maksimal melaksanakan tugasnya; sesuatu yang nyaris mustahil terpikir oleh laki-laki terkait perannya dalam tugas-tugas rumah tangga. Hal yang sama berlaku juga untuk keinginan dan angan-angannya sendiri di luar ekspektasi sosial. Anke Niehof bahkan sampai berujar bahwa masa-masa kehamilan (ngidam) adalah satu-satunya momentum di mana ia dapat menyuarakan keinginan secara terang-terangan kepada suaminya.

***

Seperti sosok Rumanti dalam “Perempuan Jogja”, perempuan Madura tidak akan selesai digambarkan dalam satu sosok. Ilustrasi-ilustrasi di atas bisa jadi masih relevan dalam konteks saat ini namun mungkin saja perlu didiskusikan ulang. Bagaimanapun beragamnya fakta di lapangan, perempuan Madura banyak dilekatkan dengan berbagai image dan atau stereotype yang lebih intens melihat sisi buruk dibanding sisi baiknya. Padahal, secara teoretik, penilaian positif berasal dari bare maximum sebuah kelompok atau komunitas, sementara label negatif muncul dari kategori paling bawah di dalamnya.

Berbagai bias dan halangan teknis dalam proses menciptakan image tersebut bahkan berbagai anomalinya juga bukan tak diungkap, tetapi sebagian stereotype masih melekat hingga hari ini. Perempuan Madura, misalnya, dicitrakan sebagai warga kelas dua dalam hal anatomi tubuh, warna kulit, cara berpakaian, bertutur, dan berperilaku dibanding perempuan Jawa. Mereka bahkan dianggap dapat dengan sangat mudah dikenali ketika berbaur dengan perempuan lain karena ketika membawa beban, mereka cenderung menaruhnya di atas kepala (nyunggi), alih-alih di belakang punggung, dengan dua tangan di depan, atau cara-cara lain.

Seperti diakui Hubb de Jonge, stigma-stigma tersebut, betapapun bukan tanpa bukti dan indikator, terkadang muncul tanpa melalui pengamatan langsung dan sangat dipengaruhi pandangan yang berkembang di kalangan etnik lain. Sedikit sekali penilaian yang memperhitungkan bagaimana perempuan Madura mempersepsikan dirinya sendiri. Padahal, suara dari dalam semacam itu, kendatipun dalam beberapa hal seringkali terkesan apologetik, diperlukan tidak sekadar untuk mengimbangi pandangan yang dalam beberapa hal bias, tetapi juga sebagai insight lain dari perspektif yang barangkali jarang terdengar, seperti apa yang direpresentasikan buku ini.

Dalam lingkup lebih luas, karya-karya seputar Madura belum banyak menjadikan perempuan sebagian subyek utama. Dari sedikit karya tersebut, perspektif insider adalah satu celah yang masih banyak menyisakan ruang untuk diisi. Selain saduran dari disertasi Tatik Hidayati (2022) dan Hasanatul Jannah (2020), masih sulit ditemukan suara dan pandangan perempuan Madura terhadap isu-isu emansipasi, kesetaraan gender, keberpihakan akan yang lemah, termasuk potret perempuan Madura dalam lanskap yang lebih mengakar rumput. Agaknya, buku ini mengajukan diri untuk menempati ceruk kecil namun penting tersebut.

***

Di luar image perempuan Madura menurut outsider maupun insider, posisi mereka sebenarnya in between. Di satu sisi, mereka dianggap simbol kehormatan seperti tampak dari tata pemukiman hingga norma sosial yang berlaku. Namun demikian sejarah mencatat bagaimana mereka menjadi barang taruhan/jaminan ketika suami/ayahnya melempar dadu judi. Ketika banyak kasus carok bermula dari sakit hati persoalan asmara, di waktu yang sama perempuan Madura dianggap tidak lebih disayangi dibanding sapi untuk kerapan atau kerbau untuk bercocok tanam. Sementara suara mereka banyak dibungkam dan tidak bebas mengemukakan pandangan, mereka diposisikan sebagai kelompok yang tidak boleh salah, sehingga ketika terlibat skandal, tindak kriminal, atau perilaku asusila, sanksi sosial yang mereka terima cenderung lebih berat dibanding laki-laki.

Dalam situasi serba tidak menentu ini, perempuan Madura membangun agensinya sendiri. Sebagian besar mereka mungkin nyaris tidak mengenal konsep-konsep emansipasi atau kesetaraan gender, tetapi mereka tidak tinggal diam dan mengantisipasi situasi terburuk yang bukan tak mungkin mereka alami. Mereka yang menjadikan dapur sebagai pusat agensi memastikan ketahanan dan kualitas pangan keluarga sambil mencari penghasilan tambahan. Mereka yang bekerja di luar rumah berupaya tetap mendampingi anak tanpa berkompromi terhadap profesionalitas. Perempuan muda Madura melanjutkan pendidikan formal, mempelajari berbagai keterampilan, atau membangun bisnis dan meniti karier sejak dini demi independensinya di masa mendatang. Dengan begitu, mereka cenderung akan dilibatkan dalam pembuatan keputusan dan tidak hanya diperlakukan sebagai konco wingking yang manut-manut saja terhadap apapun yang bahkan menyangkut kehidupan mereka sendiri.

Jika feminisme dimaknai sebagai gerakan pembebasan terhadap yang lemah dan atau tertindas, baik laki-laki atau perempuan, termasuk alam dalam konsep ekofeminisme, maka inisiatif kultural dengan semangat tersebut sudah muncul di Madura. Ini terlihat dari skala individu hingga komunitas, betapapun dengan intensitas yang masih kecil dan kecenderungan untuk tidak menggunakan istilah-istilah tertentu. Hierarkhi ketaatan masyarakat Madura dalam berbagai hal sebenarnya cukup egaliter karena tidak memperlakukan seseorang berdasarkan jenis kelamin, tetapi peran gender-nya dalam masyarakat, yakni orang tua (buppa’, babu), guru (ghuru), dan rato (penguasa). Tentu saja, usaha-usaha menghidupkan semangat keberpihakan terhadap yang lemah perlu terus digencarkan dan dilanjutkan dalam kerja-kerja akademik dan aktivisme sosial, termasuk merenungkan kembali konsep-konsep yang terlanjur dianggap baku dalam diskusi keagamaan maupun fenomena sosial.

CATATAN KAKI

Kurt Stenross, Madurese Seafarers; Prahus, Timber and Illegality on the Margins of the Indonesian State (Singapore: ASAA (Asian Studies Association of Australia), Southeast Asia Publication Series, 2011), 26. Dalam kontes ini, Stenross mengatakan bahwa perempuan Madura berperan dalam money earning, termasuk menjadi kepala desa dan bekerja ke luar negeri/kota. Wilayah yang menurutnya tidak dimasuki perempuan Madura adalah aktivitas membuat perahu dan berlayar. Sementara itu, pilihan perempuan Madura untuk bekerja dianggap sangat masuk akal mengingat kondisi tanah yang tandus, sehingga pemasukan keluarga mau tak mau mengharuskan peran dari suami maupun isteri. Riansyah and Ahmad Zainul Hamdi, “Pandang Dan Memandang Pengrawit Perempuan Sumenep,” Srinthil; Media Perempuan Multikultural (Tandha’; Jungkir Balik Kekuasaan Laki-Laki Madura) 13 (1995): 153. Adapun fenomena perempuan menjadi kepala desa sudah menjadi kebiasaan di Pulau Ra’as, Sumenep. Abd Latif Bustami, “Bukan Karena Ia Perempuan,” Srinthil; Media Perempuan Multikultural (Tandha’; Jungkir Balik Kekuasaan Laki-Laki Madura) 13 (1995); 176.

Anke Niehof, “Traditional Medicine at Pregnancy and Childbirth in Madura, Indonesia,” in The Context of Medicines in Developing Countries; Studies in Pharmaceutical Anthropology, ed. Sjaak van der Geest and Susan Reynolds Whyte (Dordrecht: Kluwer Academic Publishers, 1988), 238, 244.

Niehof, “Traditional Medicine at Pregnancy and Childbirth in Madura, Indonesia,” 240. Sebagaimana dikutip dari Elias dalam Huub de Jonge, “Stereotypes of Madura,” in Across Madura Strait; The Dynamics of an Insular Society, ed. Kees van Dijk, Huub de Jonge, and Elly Touwen Bouwsma (Leiden: KILTV, 1995), 6.

Jonge, “Stereotypes of Madura,” 10.

Bambang Wibisono, “Perilaku Dan Etos Kerja Perempuan Madura,” Srinthil; Media Perempuan Multikultural (Tandha’; Jungkir Balik Kekuasaan Laki-Laki Madura) 013 (2007): 2.

Jonge, “Stereotypes of Madura,” 21–22.

Suhartatik, “Madura: Perempuan Dan Carok Antara Kehormatan Dan Sarkasme Entitas Budaya,” in Perempuan, Kuliner Dan Jamu Madura, ed. Iskandar Dzulkarnain (Yogyakarta: Elmatera, 2017), 55–56.

Sony Rahardja, “Tandha’; Jungkir Balik Kekuasaan Laki-Laki Madura,” Srinthil; Media Perempuan Multikultural (Tandha’; Jungkir Balik Kekuasaan Laki-Laki Madura) 013 (2007): 13–15.

Jonge, “Stereotypes of Madura,” 14.

Jonge, “Stereotypes of Madura,” 17.

Wibisono, “Perilaku Dan Etos Kerja Perempuan Madura,” 132.
Tulisan ini juga dimuat dalam kata pengantar buku Madura Anti-Feminis(me) karya Alya Zahra, Alifba Media, 2026

Dear, Fusun

Aku tak tahu persisnya apakah Engkau sosok nyata yang difiksikan ataukah Engkau sepenuhnya fiksi; termasuk apakah Engkau setengah fiksi dan setengah nyata; campuran dari berbagai kisah yang dijadikan satu, atau kemungkinan lain. Aku hanya melihat, seperti apapun unsur pembentukmu, Engkau adalah gambaran dari banyak situasi perempuan di dunia nyata. Engkau seperti menjadi cermin dari mereka yang bercita-cita besar tetapi lahir dan tumbuh tanpa banyak privilege sehingga harus menciptakan sendiri privilege tersebut dengan kerja keras, rajin belajar dan menempuh banyak cara untuk sampai di tujuan. Tentu saja dalam perjalanan menciptakan privilege sendiri tersebut, ada banyak lompatan dan lekukan yang mungkin tak terprediksi sejak awal. Sebagian sekadar mengubah alur cerita, sebagian sampai berdampak pada ujung cerita.

Akan tetapi Fusun,

Rasanya perasaan banyak memenangkan pertarungan dengan logikamu. Sejak sebelum pertama kali Kau berjumpa Kemal di toko tempatmu bekerja, Kau sudah tahu bahwa ia bukanlah pemuda lajang yang available. Eh Kamu mash nekat main ke apartemen dia di 00000, bahkan kemudian menjadikannya kebiasaan setiap jam dua siang, di sela-sela jam kerjamu di toko, waktu yang seharusnya Kau gunakan untuk memuluskan impianmu meraih nilai aman untuk masuk universitas. Kau malah rajin ke situ dengan kedok belajar matematika. Sampai di sini, Fusun, aku melihat bahwa yang terjadi padamu adalah pembenaran dari isapan jempol bahwa perempuan seringkali kalah oleh perasaannya. Aku tak yakin Kau kehilangan sosok dan kasih sayang seorang ayah sehingga tindakan-tindakan kecil Kemal sangat berkesan di hatimu, tetapi keputusan-keputusanmu bukanlah kecelakaan sekali seperti kunjungan pertama. Kau mengulanginya lagi-lagi, penuh kesadaran dan Kau bahkan tampak menikmatinya. Meski tidak sepenuhnya meninggalkan tujuan belajar matematika untuk persiapan ujian, Engkau sangat terlihat telah melupakan prioritasmu untuk fokus belajar, masuk universitas dan mewujudkan mimpimu. Kau memang bisa berdalih menjadikan Kemal dan pertemuan dengannya alasan untuk makin semangat belajar tetapi Kau justru lupa tujuan awal dan cita-cita besar yang Kaumiliki. Alih-alih makin giat belajar, Kau justru asyik bermain dengan api yang Kau sendiri sangat tau betapa nantinya ia akan membakarmu dan orang-orang sekitarmu.

Apa yang Kaucari dari Kemal sementara Kau sendiri tahu betapa ia terikat dengan Sibel seperti semua orang di lingkunganmu memuja-muja kisah cinta mereka? Kau boleh mengatakan bahwa Kemal tak main-main mencintaimu. Ia membuktikan banyak hal nyaris di seluruh episode cerita. Dalam beberapa hal ia bahkan tampak terobsesi padamu; sesuatu yang belakangan menjadi cikal-bakal museum yang hingga kini berdiri di Istanbul tersebut. Akan tetapi, tidakkah Kaujuga tahu bahwa sedari awal, Kemal banyak berbohong padamu dan celakanya, Kau percaya-percaya saja padanya. Harusnya Kau bisa lebih curiga pada saudara jauhmu tersebut; mustahil rasanya jika Kamu adalah yang pertama baginya seperti dia adalah pertama bagimu sementara semua orang tahu bahwa Kemal tak lama lagi akan meresmikan pertunangannya dengan Sibel. Selain bahwa Kau telah menempati posisinya di hati Kemal, harusnya Kau banyak belajar dari resiliensi dia sebagai perempuan. Aku tak mengatakan soal privilege yang barangkali ia miliki; lulusan Sorbonne atau apalah itu, tetapi cara dia menghadapi situasi dan persoalan menandakan bahwa ia perempuan matang. Perkara Kemal akhirnya memilihmu dan bukan dia, itu adalah hal lain di luar kontrol Sibel yang tak sama sekali mengurangi nilai dia sebagai seorang perempuan berkarakter. Tetapi bahwa sebagai seorang perempuan, pasangan, ia cukup paripurna. At least she has tried her best. Aku sering merasa bahwa di hadapanmu, Kemal lebih bebas mendominasimu sementara ketika bersama Sibel, ia menghadapi perempuan yang setara sehingga ego maskulinitasnya terancam dan dia merasa lebih nyaman--dan akhirnya memilih--denganmu.

Fusun, Kau sangat mengecewakanku ketika akhirnya Kau datang ke pertunangan Kemal dan Sibel. Padahal, esoknya Kau ujian dan Kau tahu bahwa hadir ke sana tak memberi input positif apapun terhadap persiapanmu untuk hari besar itu. Apa bagusnya Kau menampakkan diri kepada Kemal di malam Kau tengah patah hati karena dirinya? Apa Kau ingin menyempurnakan patah hatimu sehingga esok hari Kau siap berperang dan memenangkan ujian? Kau bisa saja berniat begitu, tetapi akhirnya patah yang Kaualami jauh berlipat dibanding apa yang mungkin sempat Kaubayangkan. Informasi dari asisten Kemal perihal pasangan yg tampak tengah berbahagia tersebut pasti sangat mengejutkanmu sebab Kau terlalu percaya pada Kemal. Cinta yang Kausadari belakangan telah terlebih dahulu membutakan mata dan hatimu sehingga Kau jadi permisif dengan hal-hal yang Kau tahu tak seharusnya Kau lakukan. Bagaimana mungkin Kau menyerahkan ‘hidup’mu pada orang yang telah terikat dengan orang lain dan bersikap seolah Kau adalah satu-satunya dunia yang dia miliki ketika kalian berdua? Tidakkah seharusnya Kau berpikir bahwa Kau adalah second choice, pelarian, atau apapun yang disembunyikan Kemal dari dunia begitu Kau keluar dari kamar itu? Bahkan setelah sama-sama keluar dari bangunan bertingkat itu, Kalian berubah menjadi dua orang asing yang hanya bisa berjalan di sisi berseberangan sambil saling menatap dan tersenyum, padahal sebelumnya bergumul tanpa busana disaksiksan burung gagak di bawah suara riuh anak laki-laki bermain bola.

Aku pikir Kausudah jera dan menghapus Kemal dari kepalamu ketika akhirnya Kaumenghilang dan pindah rumah tanpa berkirim kabar atau pesan apapun untuk Kemal. Ujian masuk universitasmu gagal dan meski pada akhirnya Kemal juga gagal mempertahankan pertunangannya, ia sempat memulai kehidupan baru bersama Sibel. Ia pernah benar-benar ingin melupakanmu, mengaku kesalahannya pada Sibel dan meminta pertolongannya, meski belakangan ia tahu bahwa obsesinya terhadapmu mengalahkan semua pertimbangan dan kalkulasi logis. Ia tak bisa berbohong terlalu lama tinggal bersama Sibel sementara pikirannya terisi sosokmu. Setidaknya, Kau perlu juga sadar bahwa ia tidak sebegitunya mencintaimu. Engkau tidak benar-benar menjadi satu-satunya di hati Kemal. Ketika ia mencarimu ke sana ke mari berbekal informasi dari karibmu perihal keberadaanmu di Istanbul, Kemal memang tampak seperti Qais. Untungnya, Kau bukanlah Laila dan belakangan aku tahu bahwa Kemal sebenarnya tidak benar-benar mencintaimu; ia sepertinya hanya mencintai egonya sendiri yang terwujud dalam sosokmu.

Ketika aku sudah mulai bangga padamu karena Kau berani meninggalkan Kemal tanpa kabar apapun, Kau malah mengirim sepucuk surat undangan makan malam. Sebelum akhirnya kalian bertemua kembali dengan potongan rambut pendekmu, aku sempat berbahagia membayangkan kisah kalian akan berakhir indah; seperti cerita-cerita lain yang memang digariskan untuk bermula dari sebuah kesalahan. Kemal berniat langsung melamarmu sebelum ia tahu bahwa Kautelah menikah. Dalam 6 bulan ia mencarimu, 5 bulan di antaranya Kau sudah berstatus isteri orang. Dan inilah bagian paling membosankan bagiku. Kemal rajin bertandang ke rumahmu, membawakan makanan, seringkali uang, bahkan membantu karier suamimu, Ferdun, juga dirimu sendiri, dengan modal dana yang dimilikinya sebagai salah satu pewaris kerajaan bisnis keluarga.

Kauternyata tak bahagia dengan Ferdun dan undanganmu kepada Kemal tak lebih dari upaya memanfaatkan kedermawanan Kemal serta perasaannya yang masih tertaut padamu. Aku tak tahu siapa yang berinisiatif akan hal ini, tetapi di sini aku merasa cerita tak lagi mengasyikkan. Kau bertemu Kemal hampir tiap malam di rumahmu ketika Ferdun sedang di luar. Kalian juga beberapa kali jalan keluar bertiga dan beberapa adegan ganjil jadi tak terhindarkan. Aku sering melihat Ferdun sengaja menjualmu pada Kemal, agar karier filmnya lancar dan Kemal mau menjadi produser untuk naskah cerita yang ditulisnya. Baik Kemal atau Ferdun tak pernah benar-benar ingin mewujudkan mimpimu menjadi pemain film, dengan pertimbangan dan kepentingan mereka masing-masing. Puncaknya, Ferdun menceraikanmu dengan syarat perusahaan tempat Kemal berinvestasi—yang diberi nama dengan nama jenis burung kesukaanmu—beralih kepemilikan padanya. Bener-bener menyebalkan!

Lalu Kau dan Kemalpun seperti menemukan momentum yang sudah lama ditunggu. Aku kembali sempat bahagia membayangkan akhir cerita indah kalian berdua, setelah segala hal yang dilalui dan kejanggalan-kejanggalan yang bagiku sangat merugikanmu. Ketika Kaumengajukan beberapa syarat kepada Kemal, untuk keliling Eropa pakai mobil, dilamar langsung oleh ibu Kemal, tidak ada sexual intercourse sebelum pernikahan, juga menggelar pesta di tempat Kemal dan Sibel dulu bertunangan, aku melihatmu bukan lagi sebagai Fusun belia dengan pikiran-pikiran polos dan sederhana (seperti permintaanmu mengunjungi apartemen Kemal begitu Kau selesai mengikuti ujian; keinginan yang tidak sempat Kautuntaskan karena Kauterlanjur mengetahui kebohongan Kemal dan pergi sejenak dari hidupnya). Tetapi di sisi lain, aku melihat Kau terlalu menggantungkan mimpimu pada Kemal, meski Kau bisa saja berdalih ini semua adalah pelipur dari segala sakit yang Kaudera sejak malam itu di Hilton. Kau juga menjadi lebih agresif, berapi-api, dan mode senggol bacok, seperti kejadian ketika membuat passport di kantor imigrasi. Di tahap itu, Kemal masih tampak bersabar dengan sikap-sikapmu yang barangkali sangat jauh berbeda dengan Kamu sekian tahun sebelumnya. Adegan Kau belajar mengemudi juga menunjukkan betapa Kau benar-benar telah menjadi Fusun yang baru. Kau mewujudkan salah satu mimpi kecilmu dan ngotot mendapat SIM meski harus bolak-balik test hingga 3 kali. Tetapi, Kemal rasanya tak bisa menahanmu lagi ketika di akhir cerita, Kau mengendara ugal-ugalan dan tampak sengaja membawa mobil melintasi kebun bunga matahari; visual yang Kautemukan di pikiranmu ketika menikmati momentum klimaks di apartemen Kemal.

Sebelumnya, Kau melanggar sendiri syarat yang Kauajukan untuk Kemal. Setelah resmi bertunangan, dalam perjalanan menuju Eropa, Kau justru mendatangi kamar Kemal dengan berbohong bahwa ibumu mengunci kamar yang kalian berdua tempati. Meski bahagia, Kau seperti terpaksa datang ke kamar Kemal dan di situlah adegan tersebut terjadi lagi. Kemal tampak bukan tak menginginkannya sejak awal (konon ia tak pernah lagi bisa melakukannya dengan Sibel setelah denganmu), hanya saja ia menahannya karena syarat dan janji yang diberikannya padamu. Setelah semua itu, Kau malah melanggar janji sendiri lalu esoknya seperti marah karena hal itu terjadi lagi. Tetapi Fusun, aku rasanya tau bahwa intinya bukan di situ, tetapi ucapan Kemal yang seperti menyudutkanmu ke sudut paling gelap; sesuatu yang barangkali pernah terpikir di kepalamu tetapi Kemal malah memverbalkan di depanmu langsung sehingga Kau mau tak mau tersinggung, lalu meledak dan seperti tak berpikir panjang. Kemal ketika itu mengatakan kalimat semacam bahwa Engkau tak akan pernah bisa maju tanpa pria kuat, which is tanpa Kemal atau Ferdun, sebab ketika itu konteksnya adalah perihal cita-citamu untuk menjadi bintang film; suatu keinginan yang semakin jauh dari jangkauan sejak sederet kejadian dengan Ferdun dan kekhawatiran Kemal bahwa Kau tidak akan bertahan di dunia yang menurutnya penuh jebakan hitam dan berbahaya bagi seorang perempuan. Kau seperti berpikir bahwa kekayaan Kemal dan cintanya yang tumpah-tumpah tidak akan cukup membahagiakanmu sebab cita-citamu tidak menjadi prioritas Kemal, setidaknya dalam kecenderungan yang nyata dan bukan hanya di omon-omon seperti kebiasan Kemal berbohong untuk mengamankan situasi.

Sampai di sini rasanya belum sanggup untuk bikin concluding remarks.

Tiba di Freiburg pada musim gugur mungkin bukan waktu yang tepat. Suasana jadi gloomy dan intensitas untuk overthinking atau males2an seperti lebih tinggi dari biasanya. Akan tetapi, timing berdasarkan musim barangkali hanya menjadi satu dari sekian pertimbangan dan kalkulasi semesta. Setelah berbagai tahapan, ups and downs, akhirnya aku sampai di Freiburg siang itu, di stasiun tram yang bernama Freiburg (Breisgau) Hbf. Aku inget banget nurunin kopor bagasi dari tram ke pijakan stasiun dibantu seorang pria yang sedang mengantri untuk masuk tram. Mungkin tidak tega, seperti dua pria lain yang membantuku ketika menaikkan kopor di stasiun bandara Frankfurt dan merapikan kopor di atas tram ketika kendaraan itu sudah berjalan. Sebelumnya ketika baru masuk pesawat menuju Frankfurt, seorang bapak yang duduk di kursi dua baris di belakangku juga membantuku mengangkat kopor kabin untuk meletakkannya di tempat ia seharusnya berada. Sekian menit menunggu di situ, aku masih kekeh gamau kontak Mas Zaman yang berjanji menjemputku. Aku lebih fokus mengamati suasana sambil mbatin duh dingin banget. Beberapa perlengkapan sudah tak pakai sejak di bandara Hongkong hingga Frankfurt, seperti syal, kaus tangan, hingga topi hangat. Aku merasa things are set tetapi ternyata dingine di luar perkiraanku.

Aku melihat seorang permepuan dengan stroller dan anak laki2 di atasnya melintas. Aku perhatikan wajah dan posturnya lalu begitu ia semakin men dekat, aku yakin dia adalah isteri Mas Zaman. Aku sapa dia duluan dan kamipun berkenalan. Tak lama, Mas Zaman datang dan kami bergeser untuk berganti tram ke arah apartemen mereka. Aku diajari cara mbayar ongkos tram pakai mesin otomatis yang menggunakan koin tetapi sayangnya it doesn't work, jadi bayare di atas tram; bukan ke petugas, tetapi ke mesin juga. Aku lalu tinggal di apartement mereka kisaran 26jaman lebih karena keesokan harinya, malam setelah maghrib, mereka bertiga, Mas Zaman, Mb Nida, dan Ahimsa, anak sulungnya, mengantarku ke flat atau kosku. Kami kembali naik tram (aku utang ongkos tram dua kali which is 6 yuro) lalu jalan ke tujuan. Belakangan aku tau kayanya kami salah pilih tram stop. Jadi kami berhenti di sebuah stop yang gelap banget, dan untuk mencapai tujuan harus naik tangga yang pake undakan. Ini kedua kalinya harus lewat tangga undakan yang ga berjalan sendiri alias bukan eskalator. Pertama di Bandara Frankfurt pas abis turun dari pesawat. Kesian dan ga enak banget rasanya liat Mas Zaman dan mb Nida geret koporku di spot itu.

Setelah itu, kami melewati perumahan dan ternyata cukup jauh jaraknya dengan lokasi tujuan. Meski pedestrian facilitynya enak, ttp aja kerasa jauh. Mungkin karena belum terbiasa atau aku terlanjur ga enak sama orang2 yang mengantarkanku atau karena pas itu gerimis mulai turun. Syukurlah akhirnya kami sampai sebelum deras, dibukakan pintu oleh landlord, dan bersama menuju kamarku di upstair. Meski tidak seperti dugaan pertama bahwa aku akan di downstair nempati kamar yang pernah dipake suaminya Mb Yulia, Mas Burhan, kamarnya juga luas dan dapat view bagus. Full furnished. Kami berbasa-basi sebentar sebelum aku mengantar tiga pengantarku itu pulang. I owe them a lot. Uda dikasih tumpangan gratis, dibikin nyaman dan feel at home pas hari2 pertama di Freiburg, masih juga dianter dan dijemput ke dari dan tempat tujuan. Sending them the best prayer ever. Sebelum pulang, Mas Zaman sesumbar, nangis aja kalau ingin nangis (karena rindu keluarga).It is very common and totally ok, aku tafsirinnya begitu.

Nah aku memulai hidup baru, seperti kata mb Yulia. Aku ngobrol sama Anne, landlordku, kenalan sama Killie dan Matthew, dan mulai unpack barang2. Malam itu aku ga makan lagi karena sudah makan di apartemen Mas Zaman. Abis itu aku keburu tidur meski jam biologisku masih belum sepenuhnya ala Freiburg. Jam 12 aku bangun, saat di Indonesia sudah jam 6-7. Anak2 wedok sudah di sekolah ketika aku baru bangun, sementara Gio sudh mandi. Aku memasak nasi dan menyantapnya dengan bekal lauk yang kubawa dari Indonesia. Ada melas2nya pasti. Setiap kali mau feeling down, aku diingatkan betapa hari2 ini sudah lama aku nantikan, upayakan, dan doakan. Ada juga support system di sana yang memintaku fokus berdoa dan melaksanakan tugasku, instead of meker jeru atau overthinking. Karena hari itu sunny day, alhamdulillah, aku memberanikan diri eksplore Freiburg seorang diri untuk keperluan ambil duit cash di ATM dan belanja di supermarket. Baru belanja buah segar aja karena aku pikir belum saatnya belanja agak banyak untuk survival mode. Alhamdulillah ga nyasar meski sudah merasa sedikit ngos2an jalan agak jauh.

Rumah Anne tidak terlalu berbentuk flat kaya di hotel2. Seperti rumah biasa, ada dapur dan kamar mandi umum. Mungkin karena itu juga penghuni jadi punya space untuk talking each others and killing time together. Aku gatau usia Anne berapa, tetapi anak sulungnya berusia 21 tahun. Anne masih bekerja dan dia bisa reach out upstairs dengan baik. Ada banyak hal yang harus aku pelajari, mulai mengguakan mesin penghisap debu, cuci, pencuci piring, penghangat ruangan, hingga kompor tanam. Pengalaman di Australia cukup membantu mengurangi cultural shock, kaya cebok ga pake air atau minum dari keran. Yang baru kerasa mungkin adalah udara yang masyaAllah dingin sekali sama lantai kamar mandi yang gada saluran air. Artinya emang dikondisikan untuk kering. Aku mulai belajar Bahasa Jerman, mau gamau, sambil mengamati pola dan mencari persamaannya dengan Bahasa Inggris. Kepikiran harus beli ATK; kemarin hanya bawa pulpen dua biji dari Indonesia. Lupa ga bawa buku.

Aku bayangin akan belajar banyak hal di sini, life skill dan academic skill harus sama2 ditorture. Bayangannya begitu. Semoga aman terkendali semua. Besok mau ke kampus ketemu Bu Pink dan ikut colocium. Can't wait!

Penerjemah: Masyithah Mardhatillah


Dalam sebuah wawancara dengan Courier UNESCO, Yuval Noah Harari, ahli sejarah Israel dan penulis Sapiens, Homo Deus serta 21 Lessons for the 21st Century, menganalisis berbagai konsekuensi dari krisis kesehatan Covid-19. Ia juga menggarisbawahi kebutuhan akan kerjasama ilmiah internasional dan keterbukaan informasi antarnegara.

Apa bedanya pandemi kesehatan global yang saat ini tengah kita hadapi dengan krisis-krisis kesehatan yang sudah pernah terjadi? Apa pula yang sebenarnya ingin ditunjukkan pandemi satu ini?

Saya tidak yakin pandemi ini merupakan ancaman kesehatan terparah yang pernah kita hadapi. Epidemi influenza pada 1918-1919 tampaknya lebih buruk, epidemi AIDS juga mungkin demikian. Begitu juga dengan beberapa pandemi terakhir yang tentunya jauh lebih mengkhawatirkan. Di antara pandemi-pandemi tersebut, pandemi inilah yang terbilang jinak. Pada awal dasawarsa] 980-an, jika Anda terkena AIDS, Anda akan meninggal dunia. Black Death (Kematian Hitam, wabah yang menyerang Eropa antara 1347-1351) membunuh sekitar seperdelapan dari populasi terdampak. Sementara itu, wabah influenza pada 1918 membunuh lebih dari 10 persen populasi di beberapa negara. Sebaliknya, Covid-19 membunuh tak lebih dari 5 % di antara pasien yang terinfkesi dan jika mutasi yang mengerikan tidak terjadi, rasanya virus ini tidak akan mampu membunuh lebih dari 1% populasi negara manapun. 

Apalagi, berbeda dengan masa-masa sebelumnya, saat ini kita memiliki seluruh pengetahuan ilmiah dan perangkat teknologi yang dibutuhkan untuk mengatasi wabah ini. Ketika Black Death terjadi, masyarakat benar-benar tak berdaya. Mereka tidak pernah mengetahui apa yang tengah mengancam di depan mata dan bagaimana harus menghadapinya. Pada 1348, Fakultas Kesehatan Universitas Paris meyakini bahwa epidemi tersebut disebabkan kesialan astrologi—yakni gesekan besar antara tiga planet di Aquarius yang menyebabkan pencemaran udara mematikan (dikutip dalam Rosemary Horrox (peny). The Black Death, Manchester University Press, 1994, h. 159). 


Sebaliknya, ketika Covid-19 merebak, para ilmuwan hanya membutuhkan waktu dua pekan untuk bisa mengenali persis virus yang bertanggungjawab di balik epidemi ini, merangkai seluruh genomnya dan mengembangkan uji coba penyakit terpercaya. Dari situ, kita semua jadi tahu apa yang harus dilakukan untuk menghentikan penyebaran pandemi ini. Sepertinya dalam satu atau dua tahun ke depan, kita juga akan memiliki vaksin penyakit ini.

Namun demikian, Covid-19 bukan saja merupakan krisis kesehatan. Ia juga mengakibatkan krisis ekonomi dan politik yang luar biasa. Dibanding virus yang menyebabkan wabah ini, saya lebih mengkhawatirkan iblis dalam diri manusia: kebencian, ketamakan dan kebodohan. Jika masyarakat menyalahkan orang lain atau kelompok minoritas atas terjadinya epidemi ini; jika bisnis yang serakah hanya mementingkan keuntungan yang akan diraupnya; dan jika kita mempercayai semua ragam teori konspirasi—epidemi ini akan semakin sulit diatasi. Tak sampai di situ, masa depan kita juga akan diracuni dengan kebencian, ketamakan dan kebodohan semacam ini. Sebaliknya, jika kita menyikapi epidemi ini dengan solidaritas global dan kedermawanan serta lebih mempercayai ilmu pengetahuan dibanding teori-teori konspirasi, saya yakin kita tidak hanya akan dapat mengatasi dan melewati krisis ini dengan baik, akan tetapi juga menjadi pribadi yang lebih kuat begitu pandemi ini berakhir. 

Dalam hal apa penjarakan sosial bisa menjadi norma? Efek apa pula yang akan terasa di masyarakat?


Selama krisis ini terjadi, penjarakan sosial menjadi tak terhindarkan. Virus ini menyebar dengan mengeksploitasi insting terbaik kita sebagai manusia. Kita adalah mahluk sosial yang suka melakukan kontak dengan orang lain, utamanya di waktu-waktu sulit. Ketika para kerabat, sahabat dan tetangga sedang sakit, kita akan merasa kasihan dan segera berkunjung untuk membantu mereka. Inilah yang digunakan virus Corona untuk menyerang kita. Begitulah persisnya ia menyebar. Karena itu dalam bertindak, kita harus  mengedepankan pikiran dibanding perasaan dan terlepas dari semua kesulitan yang ada, kita harus mengurangi kontak satu sama lain. Jika virus adalah kepingan genetik yang tak bisa berpikir, kita manusia memiliki pikiran untuk menganalisis situasi apapun secara rasional kemudian menentukan tindakan yang akan diambil. Saya pribadi percaya bahwa begitu krisis ini berlalu, tidak akan ada efek jangka panjang apapun terkait insting dasar kita sebagai manusia. Kita akan tetap menjadi mahluk sosial. Kita masih akan senang melakukan kontak dengan sahabat dan keluarga serta saling berkunjung dan membantu satu sama lain. 


Ingat, misalnya, apa yang terjadi pada komunitas LGBT begitu wabah AIDS muncul. AIDS adalah epidemi yang menakutkan, dan kaum gay seringkali diabaikan sepenuhnya oleh pemerintah. Namun demikian, epidemi tersebut tidak menyebabkan disintegrasi dalam komunitas ini. Yang terjadi jusrtu sebaliknya. Ketika krisis memburuk, para sukarelawan LGBT mendirikan beberapa organisasi baru untuk membantu orang-orang sakit dan menyebar informasi yang bisa dipercaya sembari memperjuangkan hak politiknya. Pada dasawarsa 1990-an, setelah tahun-tahun terburuk karena epidemi AIDS berlalu, komunitas LGBT di beberapa negara justru jauh lebih kuat dibanding sebelumnya. 

Bagaimana pandangan Anda seputar kerjasama ilmiah dan keterbukaan nformasi antarnegara setelah krisis ini selesai? UNESCO dibentuk setelah Perang Dunia Kedua untuk mempromosikan kerjasama ilmiah dan intelektual melalui prinsip kebebasan berpendapat. Bisakah ‘kebebasan’ ini dan kerjasama antarnegara diperkuat sebagai hikmah dari krisis ini? 

Kelebihan utama kita dibanding virus adalah kemampuan bekerjasama dengan efektif. Virus di China dan Amerika tidak dapat bertukar tips bagaimana menyerang manusia. Namun begitu, Tiongkok dapat mengajari Amerika berbagai hal tentang virus ini dan bagaimana mengatasinya. Lebih dari itu—Tiongkok bisa langsung mengirim ahli dan peralatan kesehatan untuk membantu Amerika, sementara Amerika pun juga dapat melakukan hal yang sama untuk membantu negara-negara lain. Virus tak bisa melakukan hal demikian. 

Di antara berbagai bentuk kerjasama, kerjasama dalam berbagi informasi barangkali merupakan bagian terpenting, sebab Anda tidak bisa melakukan apapun tanpa informasi yang akurat. Anda tidak dapat mengembangkan obat-obatan dan vaksin tanpa informasi terpercaya. Bahkan, isolasi yang kita jalani juga bermula dari informasi. Jika Anda tidak memahami bagaimana cara virus ini menyebar, mana mungkin Anda dapat meyakinkan masyarakat untuk mengkarantina diri dalam rangka memerangi virus ini? 

Apalagi, isolasi melawan AIDS, misalnya, sangat berbeda dengan isolasi melawan Covid-19. Dalam isolasi menghindari AIDS, Anda harus menggunakan kondom ketika berhubungan seksual sementara kontak langsung, mengobrol, hingga bersalaman atau memeluk penderita AIDS tidak menimbulkan masalah atau risiko apapun. Namun demikian, Covid-19 sama sekali berbeda. Untuk mengetahui bagaimana cara tepat mengisolasi diri dari epidemi tertentu, hal pertama yang Anda butuhkan adalah informasi terpercaya soal penyebab epidemi. Apakah virus atau bakteri? Apakah menular melalui darah atau nafas? Apakah membahayakan anak kecil atau lansia? Apakah hanya ada satu jenis keturunan virus, atau beberapa mutan?

Pada tahun-tahun belakangan, para politisi otoriter namun terkenal berupaya sedemikian rupa tidak hanya untuk menghalangi laju informasi yang melimpah, namun juga untuk meruntuhkan kepercayaan publik terhadap ilmu pengetahuan. Beberapa di antara politisi tersebut menggambarkan ilmuwan sebagai kaum elit yang jahat dan jauh dari ‘masyarakat’. Mereka memperdaya para pendukungnya untuk tak lagi mempercayai apa yang dikatakan ilmuwan soal perubahan iklim bahkan vaksinasi. Harusnya, masa krisis semacam ini dapat membuka mata siapapun betapa bahayanya pesan-pesan populis semacam itu. Di masa krisis, kita begitu membutuhkan keterbukaan informasi seluas-luasnya. Kita juga harus mampu meyakinkan masyarakat untuk lebih mempercayai ilmuwan dibanding pemimpin politik. 

Untungnya pada masa darurat ini, sebagian besar pihak tampak begitu mengandalkan ilmu pengetahuan. Gerja Katolik memerintahkan jemaatnya untuk menjauhi gereja. Israel menutup sinagog. Republik Islam Iran menghukum masyarakat yang mengunjungi masjid. Candi-candi dan semacamnya menangguhkan upacara-upcara publik. Semua terjadi karena para ilmuwan membuat kalkulasi dan rekomendasi untuk menutup tempat-tempat suci tersebut. 

Saya berharap masyarakat akan selalu mengingat pentingnya informasi ilmiah yang terpercaya bahkan setelah krisis ini berlalu. Lebih jauh, jika kita ingin mendapatkan informasi ilmiah terpercaya dalam masa-masa krisis apapun, kita harus berinvestasi pada sektor ini jauh-jauh hari di waktu normal. Informasi ilmiah tidak begitu saja turun dari langit atau bersemi sedemikian rupa dari dari kepala orang-orang genius. Ia  sangat bergantung pada lembaga-lembaga otonom yang kuat semisal kampus, rumah sakit dan surat kabar. Lembaga-lembaga tersebut harusnya tidak hanya melakukan penelitian untuk menemukan kebenaran, akan tetapi juga dapat dengan bebas menyajikan informasi apapun pada masyarakat tanpa takut dihukum oleh pemerintah otoriter. Butuh sekian tahun untuk membangun lembaga-lembaga semacam ini, namun kehadirannya demikian berharga. Negara yang menyediakan pendidikan yang baik kepada warganya melalui lembaga-lembaga mandiri yang kuat akan dapat menghadapi epidemi apapun jauh lebih baik dibanding pemerintah diktator yang brutal dan hanya bisa mengawasi warganya yang tidak tahu apa-apa. 

Contoh kecilnya adalah soal bagaimana Anda dapat membuat jutaan orang mau mencuci tangan dengan sabun setiap hari. Cara pertama adalah dengan menempatkan polisi atau mungkin kamera di setiap toilet lalu menghuum siapapun yang tidak mencuci tangan. Cara lainnya adalah mengajari siswa di sekolah soal virus dan bakteri, menjelaskan bahwa sabun dapat membuang atau membunuh berbagai patogen tertentu dan meyakini bahwa masyarakat dapat mengambil keputusan yang tepat. Menurut Anda, metode mana yang lebih efisien? 

Seberapa penting negara-negara di dunia harus bekerjasama satu sama lain dalam menyebarkan informasi yang terpercaya?

Negara-negara harus berbagi informasi terpercaya tidak hanya soal isu-isu kesehatan, akan tetapi juga isu-isu lain—dari dampak ekonomi krisis ini hingga kondisi psikologis masyarakatnya. Katakan misalnya negara X tengah berdebat soal kebijakan lockdown jenis apa yang akan diterapkan. Harusnya, negara tersebut tidak hanya mempertimbangkan soal penyebaran virus, akan tetapi juga akibat ekonomi dan psikologis dari lockdown yang akan diberlakukan. Dalam hal ini, negara-negara lain sudah pernah menghadapi dilema serupa dan mencoba kebijakan yang berbeda-beda. Daripada bertindak murni berdasarkan spekulasi dan mengulang kesalahan lama, negara X tersebut dapat mengkaji konsekuensi nyata dari perbedaan kebijakan lockdown yang diambil Tiongkok, Korea, Swedia, Italia dan Inggris. Dari situlah sebuah keputusan yang lebih tepat dapat dihasilkan. Ini hanya mungkin terjadi jika negara-negara yang sudah mengalami hal tersebut mau dengan jujur membagika informasi tak hanya soal jumlah warga yang sakit dan meninggal dunia, akan tetapi juga apa yang terjadi pada kehidupan ekonomi hingga kesehatan mental warganya. 

Munculnya AI dan kebutuhan akan solusi teknis telah menuntun berbagai perusahaan swasta bergerak maju. Dalam konteks ini, masihkah mungkin mengembangkan prinsip etika global dan memulihkan kerjasama internasional?

Seiring dengan keterlibatan perusahaan swasta, kebutuhan untuk membuat prinsip-prinsip etis global dan memulihkan kerjasama internasional semakin terasa. Beberapa perusahaan swasta mungkin lebih terdorong alasan keuntungan dibanding solidaritas, sehingga harus ada aturan cermat terkait ini. Apalagi, mereka yang cenderung berlagak baik ini tidak harus bertanggungjawab secara langsung kepada publik, sehingga memberi mereka terlalu banyak akses dan kekuatan bisa jadi sangat membahayakan. 

Ini khususnya berlaku ketika kita berbicara soal pengintaian. Saat ini kita menyaksikan proses pembuatan sistem pengintaian baru di seluruh dunia baik oleh pemerintah maupun perusahaan swasta. Krisis ini agaknya menandai babak penting dalam sejarah pengintaian. Pertama karena ia mungkin membenarkan dan menormalisasi digunakannya perangkat pengintaian massal di negara-negara yang pernah menolak terobosan ini. Kedua dan yang lebih penting adalah karena ia menandai transisi dramatis dari pengintaian ‘di atas kulit’ menjadi ‘di bawah kulit’. 

Sebelum masa krisis ini, baik pemerintah maupun perusahaan umumnya memonitor tindakan fisik yang Anda lakukan—ke mana Anda pergi dan siapa yang Anda temui. Saat ini mereka lebih tertarik pada apa yang terjadi dalam tubuh Anda; pada kondisi kesehatan, suhu tubuh, dan tekanan darah. Informasi biometrik semacam ini dapat memberi keduanya limpahan informasi yang jauh lebih banyak dibanding sebelumnya. 

Bisakah Anda menyarankan prinsip-prinsip etis soal bagaimana seharusnya aturan dalam sistem pengintaian ini?

Idealnya, sistem pengintaian ini harus dijalankan dan dikelola oleh sebuah otoritas layanan kesehatan khusus, bukan perusahaan swasta apalagi layanan keamanan. Otoritas tersebut harus fokus untuk mencegah epidemi tanpa kepentingan politik atau komersial apapun. Saya sangat gelisah ketika mendengar selentingan kabar yang membandingkan krisis Covid-19 dengan perang sehingga meminta layanan keamanan untuk  turun tangan. Yang kita hadapi saat ini bukanlah perang. Ini adalah krisis layanan kesehatan. Tidak ada musuh berupa manusia yang harus dibunuh. Yang kita hadapi adalah soal merawat manusia. Bayangan dominan dalam perang adalah seorang tentara dengan bedil mencorong ke depan. Dalam epidemi ini, bayangan kita harus beralih pada seorang perawat yang mengganti sprei rumah sakit. Tentara dan perawat memiliki cara pandang yang sama sekali berbeda. Jika Anda inigin menugaskan seseorang untuk pandemi ini, jangan kirim seorang prajurit. Kirimlah seorang perawat. 

Selanjutnya, otoritas layanan kesehatan tersebut harus mengumpulkan data minimal yang dibutuhkan demi misi mencegah epidemi. Ia tak boleh membagikannya pada badan-badan lain—utamanya polisi ataupun perusahaan swasta. Harus dipastikan juga bahwa data yang terkumpul tidak digunakan untuk membahayakan atau memanipulasi orang-orang yang datanya masuk dalam daftar tersebut—misalnya, menyebabkan mereka kehilangan pekerjaan atau asuransi. 

Akan tetapi, otoritas kesehatan yang berkewenangan tersebut dapat membagi data yang dimilikinya untuk kepentingan penelitian ilmiah meski harus dipastikan terlebih dahulu bahwa hasil penelitian tersebut dapat diakses cuma-cuma oleh publik. Atau jika tidak, akses ini berlaku jika keuntungan insidental dari penelitian tersebut dapat kembali diinvestasikan untuk layanan kesehatan yang lebih baik. 

Berbeda dengan semua pembatasan akses data di atas, orang-orang yang datanya terekam dalam daftar besar tersebut harus diberi sebanyak mungkin kontrol terhadap datanya sendiri. Mereka harus bisa bebas mengamati data pribadi masing-masing dan memanfaatkannya.

Akhirnya, kendatipun sistem pengintaian semacam ini mungkin akan sangat nasionalis dari segi karakter dan karenanya bisa berbeda antartiap negara, untuk benar-benar dapat mencegah epidemi, seluruh otoritas kesehatan dari berbagai negara harus saling bekerjasama satu dan lainnya. Wabah tidak mengenal batas negara sehingga jika kita tidak memadukan data dari berbagai negara, akan sangat sulit melacak dan menghentikan epidemi. Apalagi, ketika pengintaian nasional dilakukan oleh sebuah otoritas layanan kesehatan yang independen dan bebas dari kepentingan politik serta komersial, akan jauh lebih mudah bagi otoritas nasional untuk bekerjasama secara global. 

Anda pernah menyampaikan bahwa baru-baru ini, terjadi penurunan tajam dalam kepercayaan terhadap sistem internasional. Bagaimana Anda menanggapi perubahan yang amat besar ini dalam hubungannya dengan kerjasama antarnegara di masa depan?

Saya tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Ini bergantung pada pilihan yang kita ambil hari ini. Negara-negara di dunia bisa memilih untuk saling berebut sumber daya yang langka dan memburu kebijakan yang egois dan isolasionis, namun mereka juga bisa memilih untuk saling membantu sama lain dengan semangat solidaritas global. Pilihan ini akan menentukan laju krisis yang tengah kita hadapi dewasa ini sekaligus masa depan sistem internasional di tahun-tahun mendatang. 

Saya sendiri mengharapkan seluruh negara di dunia akan cenderung pada solidaritas dan kerjasama global. Kita tidak bisa menghentikan epidemi ini tanpa kerjasama yang kuat antarnegara seluruh dunia. Bahkan jika sebuah negara tertentu berhasil menghentikan epidemi ini di wilayahnya untuk sementara waktu, selama epidemi ini masih menyebar di wilayah lain, ia bisa kembali dan muncul lagi di manapun. Kemungkinan lebih buruknya adalah sifat virus yang dapat bermutasi secara konstan. Sebuah mutasi virus di belahan dunia manapun dapat membuatnya lebih mudah menular dan lebih mematikan hingga membahayakan ras manusia. Satu-satunya cara yang dapat dilakukan untuk melindungi diri sendiri adalah membantu melindungi seluruh manusia.

Hal yang sama terjadi dalam krisis ekonomi. Jika masing-masing negara hanya memikirkan kepentingan dan keuntungannya sendiri, ini hanya akan menghasilkan resesi global yang berdampak pada semua orang. Negara-negara kaya seperti Amerika, Jerman dan Jepang akan mampu mengatasi ini dengan berbagai cara. Akan tetapi, negara-negara yang lebih miskin di Afrika, Asia dan Amerika Latin mungkin akan benar-benar lumpuh. Amerika mampu menggelontorkan 2 triliun dolar untuk memulihkan ekonomi negaranya. Namun demikian, Ekuador, Nigeria dan Pakistan tidak memiliki sumber daya serupa. Kita membutuhkan rencana penyelamatan ekonomi global.

Sayangnya, sejauh ini, belum tampak suatu kepemimpinan global kuat yang kita butuhkan. Amerika yang menjadi pimpinan dunia selama epidemi Ebola 2014 lalu dan krisis finansial pada 2008 tidak lagi menjalankan peran ini. Tata pemerintahan Trump sangat jelas menunjukkan bahwa Amerika hanya peduli terhadap negaranya sendiri. Ia bahkan telah memutus ikatan dengan sekutu-sekutu terdekatnya di Eropa Barat. Bahkan jika saat ini Amerika tiba-tiba mengumumkan rencana globalnya, siapa yang akan mempercayai dan mengikuti arahannya? Apa Anda akan mengikuti seorang pemimpin yang mottonya adalah “Aku Dulu?”

Namun demikian, setiap krisis sebenarnya juga menghadirkan kesempatan. Semoga pandemi yang tengah kita hadapi ini akan membantu manusia menyadari bahaya akut dari perpecahan global. Jika pada akhirnya epidemi ini benar-benar menghasilkan kerjasama global yang semakin inten, ini tidak hanya menunjukkan kemenangan melawan virus Corona, akan tetapi juga melawan bahaya-bahaya lain yang mengancam ras manusia—dari perubahan iklim hingga perag nuklir.  

Anda berbicara soal bagaimana pilihan yang kita ambil hari ini akan berpengaruh terhadap kehidupan di masa mendatang dalam aspek ekonomi, politik, dan budaya. Apa saja pilihan-pilihan tersebut dan siapa yang bertanggungjawab menentukannya?

Kita dihadapkan pada banyak pilihan. Tak hanya pilihan antara isolasi nasionalistik dan solidaritas global. Pertanyaan penting lain adalah soal apakah masyarakat akan mendukung munculnya rezim diktator ataukah mereka akan tetap ngotot menghadapi keadaan darurat ini di bawah pemerintahan demokrasi? Saat pemerintah menggelontorkan milyaran uang untuk memulihkan bisnis, apakah mereka menyasar perusahaan besar ataukah bisnis kecil keluarga? Begitu masyarakat beralih pada pola bekerja dari rumah dan berkomunikasi secara daring, apakah ini akan meruntuhkan perserikatan buruh atau justru membaiknya perlindungan terhadap hak mereka?

Semua ini merupakan pilihan politis. Kita harus sadar bahwa yang kita hadapi saat ini bukanlah sekadar krisis kesehatan, akan tetapi juga krisis politik. Media maupun masyarakat tidak boleh membiarkan epidemi ini berhasil sepenuhnya mengalihkan dan menggesert fokus. Tentu saja penting untuk tetap mengikuti perkembangan berita terbaru soal, misalnya, berapa banyak orang meninggal dunia hari ini dan berapa banyak yang terinfeksi. Namun, hal yang juga penting adalah memperhatikan perkembangan politik dan menuntut para politisi mengambil tindakan yang tepat. Masyarakat harus menekan politisi-politisi tersebut untuk menyalakan solidaritas global dalam tindakan-tindakannya; bekerjasama dengan negara-negara lain dan bukan justru saling menyalahkan; membagi bantuan dana secara adil dan tetap mempertahankan mekanisme check and balance dalam demokrasi—bahkan di saat2 darurat seperti saat ini.

Waktu untuk melakukan itu semua adalah saat ini. Siapapun yang kita pilih dalam tahun-tahun mendatang tidak akan bisa membalik keputusan yang kita ambil hari ini. Jika Anda menjadi presiden pada 2021, Anda ibarat datang ke sebuah pesta saat acara telah usai dan pekerjaan yang tersisa hanya mencuci piring kotor. Jika Anda menjadi presiden pada 2021, Anda akan mendapati kenyataan bahwa pemerintah sebelumnya telah membagikan puluhan milyar dolar—dan Anda menanggung gunung hutang yang harus dibayar. Pemerintah sebelumnya juga telah menyusun kembali job market—dan Anda tidak bisa memulai dari awal lagi. Yang juga penting, pemerintah sebelumnya telah memperkenalkan sistem pengintaian baru—yang tidak dapat langsung dilumpuhkan dalam waktu satu malam. Jadi jangan tunggu hingga 2021. Perhatikan apa yang dilakukan politisi saat ini.

PS; Gagasan dalam wawancara ini bersumber dari penulis dan bukan representasi dari UNESCO maupun organsisasi yang menaunginya.

Original Version: https://en.unesco.org/courier/news-views-online/yuval-noah-harari-every-crisis-also-opportunity






























Ebrahim Moosa, profesor studi Islam di University of Notre Dame 



Penerjemah: Masyithah Mardhatillah


“Keberadaan jutaan jemaah haji di Mekkah dan Madinah akan membawa dampak yang mematikan.”

Meskipun pandemi Corona tengah mengguncang dunia, ibadah haji tahunan Muslim ke Mekkah, tempat tersuci dalam agama Islam, masih dijadwalkan pada akhir Juli. Kerajaan Arab Saudi memang telah meminta Muslim seluruh dunia menangguhkan perjalanan haji namun tanpa penangguhan resmi, risiko kesehatan yang dipertaruhkan sangat besar.

Setiap tahun, lebih dari dua juta Muslim melaksanakan ibadah haji. Bersama-sama, mereka melakukan serentetan ritual di Mekkah, mengunjungi beberapa situs di pinggiran kota lalu bertolak ke kota suci Madinah, tempat Nabi Muhammad dikebumikan, yang jauhnya 300 mil.

Haji merupakan salah satu rukun Islam selain syahadat (pengakuan akan keesaan Tuhan), salat lima waktu dalam sehari, zakat tahunan dan puasa di Bulan Ramadhan yang dimulai hari Jum’at yang lalu. Setiap Muslim taat yang secara ekonomi mampu membayar ongkos perjalanan haji dan secara fisik dapat melakukan serangkaian kegiatan di dalamnya diharuskan melaksanakan haji paling sedikit sekali seumur hidup. Para jemaah biasanya telah menabung sejak lama dan melakukan persiapan panjang sebelum berangkat ke Mekkah.

Pernah menjadi seorang jemaah haji, saya ingat betul bagaimana hebatnya pelaksanaan ibadah tersebut. Sejak sampai di Arab Saudi, melakukan serentetan ritual haji hingga kembali ke kampung halaman, jutaan jemaah dari seantero dunia saling berdesak dan berjejal satu sama lain. Mereka memuji dan melantunkan pujaan kepada Tuhan Ibrahim, Isa, dan Muhammad sebanyak yang mereka bisa. 

Penjarakan sosial dan isolasi merupakan antitesis dari irama haji yang sangat padat. Vaksinasi wajib, sanitasi lingkungan yang baik dan tempat tinggal khusus jemaah telah berhasil secara drastis menahan penyebaran penyakit-penyakit menular seperti tipoid dan kolera selama musim haji, namun belum ditemukan terobosan efektif untuk virus Corona.
Otoritas Saudi telah menunjukkan kesadaran akan bahaya kematian yang sangat mungkin diakibatkan pandemi ini. Pada 4 Maret kemarin, mereka telah membatalkan umrah, sebuah ziarah mulya yang sifatnya sukarela, bagi warganya sendiri. Adapun warga negara asing sudah sebelumnya dilarang mengunjungi Arab Saudi untuk keperluan yang sama.

Saudi Arabia harus segera mengumumkan penangguhan haji tahun ini karena pandemi virus Corona. Deklarasi demikian menekankan prioritas aspek keselamatan dalam etika Islam sehingga Muslim seluruh dunia diharapkan dapat membatasi pertemuan-pertemuan keagamaan yang melibatkan banyak orang.

Namun demikian, penangguhan haji merupakan perkara sensitif dan karenanya membutuhkan landasan kuat berupa konsensus ilmiah dari para pemimpin politik maupun tokoh-tokoh Muslim. Apalagi, keberadaan masjid-masjid suci Makkah dan Madinah yang belakangan sepi pengunjung menimbulkan kesedihan mendalam di kalangan Muslim taat. Arab Saudi sendiri masih ragu menangguhkan pelaksanaan haji karena mengkhawatirkan reaksi dunia.

Di dunia Muslim maupun level internasional, reputasi kerajaan Arab Saudi tengah menghadapi pukulan bertubi-tubi pada tahun-tahun terakhir. Ini di antaranya dipicu kerusuhan karena naik tahtanya Putra Mahkota Muhammed bin Salman, perang di Yaman yang penuh malapetaka dan pembunuhan mengerikan Jamal Khashoggi. Dari sinilah Arab Saudi tampak sangat berhati-hati.  

Akan tetapi, penangguhan ibadah haji merupakan keputusan yang harus diambil pemerintah Saudi dan para pemuka agama sebab selama perang, epidemi dan bahaya yang mengerikan, kewajiban melaksanakan ibadah haji tak berlaku lagi. Al-Qur’an secara jelas menyebutkan; “Dan jangan menjatuhkan dirimu sendiri dalam kebinasaan.” Nabi Muhammad juga mengajarkan bahwa siapapun harus menghindari penularan penyakit selama terjadi epidemi.      


Dalam situasi semacam ini, Islam membolehkan segelintir orang tetap melaksanakan ibadah haji seperti biasa di bawah pengawasan yang ketat. Otoritas Saudi harusnya dapat memenuhi persyaratan tersebut dengan membolehkan beberapa warga lokalnya beribadah haji di bawah protokol penjarakan sosial dan penggunaan alat pelindung. 

Sejak ibadah haji diadopsi Islam, para sejarawan mencatat pernah terjadi sekitar 40 kali penangguhan. Wabah di Kesultanan Usmani membuat pelaksanaan haji pada 1814 begitu terganggu karena tiadanya jemaah.


Para ahli etika Muslim juga telah lama menjelaskan dengan gamblang bahwa keselamatan jiwa manusia selama pandemi merupakan hal yang harus diprioritaskan dibanding pelaksanaan ritual-ritual keagamaan. Cendekiawan Muslim Mesir abad ke-15, Ibnu Hajar al-Asqalani, mencatat perihal mudarat yang disebabkan pelaksanaan salat jama’ah besar-besaran ketika sebuah wabah terjadi. Pada Desember 1429, menurutnya, wabah tersebut menyebabkan 40 kematian setiap harinya di Kairo.


Sebulan kemudian, ketika orang-orang kembali dari perkumpulan massal di sebuah padang pasir untuk melaksanakan puasa dan salat taubat agar wabah tersebut segera diangkat, angka kematian justru meroket hingga 1000 perhari. Tak hanya itu, kegagalan menentukan tindakan tepat melawan penyebaran penyakit dalam masa wabah juga dialami Damaskus seabad sebelumnya yang menggiring negara tersebut pada sebuah bencana demikian besar, tulis Al-Asqalani.


Cendekiawan senior Ibnu Rusyd (bapak para filsuf, fisikawan serta ahli hukum yang juga dikenal dengan nama Averroes) berargumen bahwa perjalanan berisiko dan berbahaya yang dilakukan seorang Muslim merupakan perbuatan dosa. Ini merupakan peringatan keras pada siapapun yang mengabaikan bahaya pandemi yang tengah terjadi.


Para pemimpina agama seluruh dunia yang peka terhadap persoalan ini telah menutup masjid-masjid selama nyaris satu bulan. Para ulama juga mengimbau kaum Mukmin untuk melaksanakan ritual shalat sunnah di malam Ramadhan, tarawih, di rumah masing-masing. 

Raja Salman Abdul Aziz yang digelari “Pemelihara Dua Tempat Suci” akan berperan besar terhadap keselamatan global jika segera mengumumkan penangguhan haji kepada Muslim seluruh dunia. Musyawarah antara pihak kerajaan dan perwakilan negara-negara Muslim akan membantu penyusunan konsensus perihal keharusan penangguhan kewajiban haji di musim haji tahun ini.


Keputusan dini yang demikian juga akan menyelamatkan banyak nyawa karena secara empatik, ia menekankan bahwa pertemuan keagamaan apapun di negara manapun, selama krisis ini belum teratasi, akan sangat berbahaya.


Pamekasan, 28-29 April 2020


Penerjemah Inggris-Indonesia: Masyithah Mardhatillah 
Penerjemah Turki-Inggris: Ekin Olkap

Orang-orang selalu merespon epidemi dengan menyebar desas-desus dan berita bohong, menganggap penyakit layaknya mahluk asing yang datang karena dibawa maksud jahat.  
ISTANBUL-Empat tahun belakangan saya tengah menulis novel sejarah dengan latar tahun 1901 ketika apa yang dikenal dengan wabah pandemi ketiga tengah terjadi, sebuah wabah penyakit pes yang membunuh jutaan orang di Asia dan segelintir di Eropa. Selama dua bulanan terakhir, para teman dan saudara, editor dan jurnalis yang terlanjur mengetahui judul novel tersebut, “Malam-malam Wabah”, terus mengajukan rentetan pertanyaan tentang pandemi.
Hal yang paling ingin mereka ketahui adalah kesamaan antara virus Corona yang tengah melanda kita saat ini dengan sejarah serta wabah kolera. Ada banyak sekali kesamaan. Sepanjang sejarah manusia dan kesusastraan, apa yang menyamakan pandemi-pandemi tersebut bukanlah karena virus dan kuman yang serupa, akan tetapi respon pertama kita yang selalu sama.
Respon awal terhadap wabah pandemi selalu berupa penyangkalan. Pemerintah lokal maupun nasional selalu saja terlambat memberikan respon, mendistorsi fakta-fakta serta memanipulasi angka-angka untuk mengingkari keberadaan wabah.
Di halaman-halaman awal “A Journal of the Plague Year,” sebuah karya sastra paling terkemuka yang pernah ditulis perihal penularan wabah dan perilaku manusia; Daniel Defor mencatat bahwa pada 1664, otoritas-otoritas lokal di beberapa perkampungan London mencoba memanipulasi angka kematian akibat wabah dengan menjadikannya lebih sedikit dari yang sebenarnya sembari melaporkan penyakit lain sebagai penyebab dari kematian-kematian tersebut.
Pada 1827, dalam novel berjudul “The Betrothed,” barangkali novel paling realis yang pernah ditulis perihal wabah, penulis Italia Alessandro Manzone menggambarkan sekaligus membenarkan kemarahan penduduk lokal terkait respon pemerintah pada wabah 1630 di Milan. Meski sudah ada buktinya, gubernur Milan tetap mengabaikan ancaman penyakit tersebut bahkan urung menggagalkan perayaan ulang tahun sang pangeran. Manzonie menunjukkan bahwa wabah dengan cepat menyebar karena larangan yang diberlakukan tidak memadai, sementara penegakan hukum terbilang longgar dan para warga tidak mengindahkannya.
Banyak karya sastra tentang wabah dan penularan penyakit yang menggambarkan kecerobohan, inkompetensi dan egoisme pemerintah yang hanya menjadikan mereka sebagai pemicu kemarahan massa. Namun demikian, penulis-penulis terbaik, seperti Defoe dan Camus, memungkinkan para pembacanya melihat sesuatu yang lain di luar politik, yakni hal intrinsik dalam keadaan manusia.
Novel Defoe menunjukkan bahwa di balik keluhan yang tak berujung dan kegusaran yang tak berbatas, ada juga kemarahan terhadap takdir dan kehendak ilahiyah yang menyaksikan bahkan mungkin merestui semua kematian dan penderitaan manusia. Kemarahan juga dialamatkan terhadap lembaga keagamaan yang tampak tidak yakin bagaimana mereka ikut andil mengatasi wabah.
Respon kemanusiaan lain yang juga universal dan tampak spontan terhadap pandemi selalu berputar di soal membuat desas-desus dan menyebarkan informasi palsu. Selama pandemi-pandemi terakhir, desas-desus paling banyak dipicu oleh informasi yang salah dan ketidakmungkinan melihat masalah secara utuh.
Defoe dan Manzoni menulis tentang orang-orang yang menjaga jarak ketika bertemu di jalan selama wabah terjadi. Menariknya, mereka ini diceritakan saling bertanya satu sama lain perihal informasi dan berita dari masing-masing kampung dan lingkungan sekitar. Ini memungkinkan mereka mendapat gambaran yang lebih utuh soal wabah sehingga sama-sama berharap dapat selamat dari kematian dan menemukan tempat perlindungan yang aman.
Di dunia tanpa surat kabar, radio, televisi atau internet, kaum buta huruf yang menjadi mayoritas hanya mengandalkan imajinasi untuk mengenali di mana bahaya berada, seberapa ia mengerikan serta seperti apa rasa sakit yang diakibatkan. Kepercayaan pada imajinasi semacam ini membuat masing-masing orang memiliki bentuk ketakutan sendiri-sendiri, apalagi ketika ia dijiwai oleh hal-hal yang liris—lokalitas, spiritualitas dan mitos.
Desas-desus yang paling banyak muncul selama masa wabah adalah perihal siapa yang membawa penyakit atau dari mana sebuah wabah berasal. Sekitar pertengahan Maret, begitu kepanikan dan ketakutan mulai menyebar di seantero Turki, manager bank saya di Cihangir, Istanbul, mengatakan dengan penuh keyakinan bahwa ‘sesuatu ini’ merupakan respon ekonomi China terhadap Amerika Serikat dan seluruh dunia.
Seperti halnya iblis, wabah selalu dianggap sebagai hal yang datang dari luar. Ia dibayangkan sudah pernah menyerang tempat lain namun upaya untuk menekannya tidak cukup berhasil. Terkait penyebaran wabah di Athena, Thucydides memulai paparannya dengan mengatakan bahwa wabah telah lama menyebar di tempat yang jauh, yakni Ethiopia dan Mesir.
Sebagai mahluk asing, wabah penyakit juga dipercaya datang dari luar dan berhasil masuk karena ‘dibawa’ oleh maksud jahat. Rumor-rumor soal identitas yang dianggap sebagai pembawa dan penyebar wabah selalu menjadi hal paling lazim dan populer.
Dalam “The Betrothed,” Manzoni menggambarkan seorang tokoh yang merupakan representasi dari imajinasi paling umum selama wabah di Abad Pertengahan: Setiap hari bakal ada desas-desus soal orang berhati dengki yang datang dengan niat jahat untuk melumuri gagang-gagang pintu atau air mancur dengan cairan terinfeksi wabah. Atau mungkin seorang lelaki tua kelelahan yang duduk di lantai gereja lalu dituduh menyebarkan virus oleh wanita yang lewat hanya karena si tua menggosok-gosokkan jasnya. Lalu tak lama, segerombolan orang yang main hakim sendiri ikut bergabung.
Ledakan kekerasan yang tak diharapkan pun tak dapat dikendalikan ini, kabar angin, kepanikan dan pemberontakan menjadi lazim selama epidemi wabah sejak Abad Pencerahan. Marcus Aurelius menyalahkan Kaum Kristiani di Kekaisaran Romawi karena ketidakmauan mereka mengikuti ritual yang bertujuan mengambil hati dewa Romawi dianggap menjadi penyebab wabah cacar Antonine. Selama wabah yang terjadi selanjutnya, Kaum Yahudi juga disalahkan karena dituduh meracuni sumur Kesultanan Usmani dan Kristen Eropa.
Sejarah dan kesusastraan soal wabah sama-sama menunjukkan intensitas penderitaan, ketakutan akan kematian, rasa takut yang metafisik serta rasa aneh luar biasa yang dialami rakyat terdampak dan pada gilirannya menentukan kadar kemarahan dan ketidakpuasan politik.
Sebagaimana pandemi-pandemi tua tersebut, desas-desus yang tidak berdasar dan tuduhan berdasarkan identitas negara, agama, etnik dan daerah saat ini juga berefek signifikan terhadap bagaimana kejadian-kejadian selama wabah Corona ini ditafsiri. Kecondongan media sosial dan media populer sayap kanan yang memperkuat kebohongan juga ikut ambil bagian.
Namun hari ini, kita memiliki akses informasi terpercaya soal pandemi ini yang jauh lebih banyak dan lebih leluasa dibandingkan orang-orang yang menghadapi pandemi lama.  Ini jugalah yang membuat rasa takut yang kita rasakan semakin kuat dan masuk akal sebab apa yang kita alami saat ini begitu berbeda. Teror yang kita hadapi bukanlah sekadar desas-desus, akan tetapi informasi yang akurat.    
Saat kita melihat titik-titik merah di peta negara yang kita tinggali dan di dunia semakin bertambah bahkan berlipat, kita menyadari bahwa tak ada tempat untuk melarikan diri dan berlindung. Kita bahkan tidak membutuhkan imajinasi apapun untuk mulai merasakan hal terburuk. Kita tinggal menyaksikan video pawai truk-truk tentara besar dan hitam yang mengangkut jenazah dari kota-kota kecil Italia ke pemakaman terdekat sambil membayangkan bahwa kita tengah menyaksikan prosesi pemakaman kita sendiri.
Akan tetapi, teror yang kita rasakan meniadakan imajinasi dan individualitas. Ia mengungkapkan betapa secara tak terduga, kehidupan kita dan umat manusia lain sama-sama berada di ujung tanduk. Ketakutan, seperti pikiran akan kematian, membuat kita merasa sendiri, namun pengakuan bahwa kita semua tengah mengalami kesedihan mendalam yang sama dapat mengeluarkan kita dari kesepian semacam itu.
Pengetahuan bahwa seluruh umat manusia, mulai dari Thailand hingga New York, memiliki kecemasan yang sama soal bagaimana dan di mana harus mengenakan masker wajah, bagaimana cara teraman memperlakukan makanan yang baru dibeli dan apakah karantina mandiri dibutuhkan merupakan pengingat yang konstan bahwa kita tak sendiri. Ini melahirkan perasaan solidaritas. Kita tak lagi dibuat malu oleh rasa takut yang kita rasakan. Ia justru menuntun kita menemukan kerendahan hati yang memunculkan kesalingpengertian.
Ketika di televisi saya melihat orang-orang menunggu di luar rumah sakit-rumah sakit besar, saya dapat begitu merasakan bahwa teror yang saya hadapi juga dialami umat manusia yang lain, dan saya pun tidak merasa sendirian. Terkadang, saya merasa sedikit malu dengan ketakutan yang saya alami, namun lambat laun saya melihatnya sebagai sebuah respon yang sangat wajar. Saya lalu teringat sebuah adagium tentang pandemi dan wabah yang mengatakan bahwa mereka yang merasa takut akan hidup lebih lama.
Pada akhirnya saya menyadari bahwa ketakutan memunculkan dua respon berbeda pada diri saya, mungkin juga pada diri kita semua. Terkadang ia membuat saya seperti menarik diri menuju kesendirian dan kesunyian. Namun di waktu yang lain, ia mengajarkan saya untuk rendah hati dan bersolidaritas
Saya bermimpi menulis novel tentang wabah sejak 30 tahun yang lalu, dan ketika itu saya sudah ingin membidik perihal ketakutan akan kematian. Pada 1561, penulis Ogier Ghiselin de Busbecq—yang merupakan duta Kekaisaran Hapsburg di Kesultanan Usmani selama pemerintahan Sulaiman Agung—berhasil meloloskan diri dari wabah di Istanbul dengan membawa para pengungsi sejauh enam jam perjalanan ke Pulau Prinkipo, kepulauan Pangeran terbesar di tenggara Istanbul yang terletak di Laut Marmara. Ia menganggap UU karantina di Istanbul tidak memadai serta menegaskan bahwa rakyat Turki adalah kaum fatalis karena agama yang mereka anut, yakni Islam. 
Sekitar satu setengah abad kemudian, Defoe yang bijaksana menulis di novelnya tentang wabah London bahwa rakyat Turki dan Mahometans (Muslim, pengikut Nabi Muhammad, pent) “mengakui ide soal takdir dan meyakini bahwa akhir cerita setiap orang sudah ditentukan”. Novel wabah yang saya tulis akan membantu saya berpikir soal fanatisme Muslim dalam konteks sekularisme dan modernitas.   
Baik fatalis atau bukan, sejarah mencatat bahwa meyakinkan Muslim untuk sabar menjalani karantina selama epidemi jauh lebih sulit dibanding meyakinkan umat Kristiani, khususnya di Kesultanan Usmani. Protes yang dipicu masalah perdagangan karena para penjaga toko dan rakyat pedesaan dari semua agama cenderung mengalami kenaikan gaji ketika menolak karantina, di kalangan Muslim, diperparah dengan isu kesopanan perempuan dan privasi domestik. Komunitas Muslim di awal abad 19 juga menuntut layanan dari “dokter-dokter Muslim,” sebab saat itu kebanyakan dokter adalah kaum Kristiani, bahkan di kekasairan Utsmani sekalipun.
Sejak dasawarsa 1850-an, ketika bepergian dengan kapal api semakin murah, perjalanan ziarah haji Muslim ke kota suci Mekkah dan Madinah menjadi perantara penyebaran penyakit menular terbesar di dunia. Tak heran pada abad ke-20, untuk mengendalikan laju jemaah haji ke Makkah dan Madinah sekaligus perjalanan pulang ke negaranya masing-masing, Pemerintah Inggris mendirikan kantor-kantor karantina pertama di dunia yang terletak di Iskandariah, Mesir.
Perkembangan sejarah ini dapat menjelaskan tak hanya soal menyebarnya stereotip perihal ‘fatalisme’ Muslim, akan tetapi juga soal prakonsepsi bahwa mereka dan orang Asia lain merupakan satu-satunya muasal dan pembawa penyakit menular.
Di bagian-bagian akhir-akhir novel Fyodor Dostoyevsky yang berjudul Crime and Punishment, Raskolnikov, tokoh utama dalam novel tersebut, bermimpi tentang wabah. Dalam tradisi kesusasteraan, ia digambarkan seperti berikut: “Dia bermimpi bahwa seluruh dunia dikutuk oleh sebuah wabah asing yang datang ke Eropa dari kedalaman Asia.”
Di peta-peta dari abad ke-17 dan 18, batas politis Kesultanan Usmani—yang dianggap akan menjadi awal terbentuknya dunia yang melampaui Barat—ditandai dengan Sungai Donau. Namun demikian, batas budaya dan antropologi antara dua dunia tersebut adalah wabah dan fakta bahwa kemungkinan terjangkit wabah jauh lebih tinggi di sebelah timur sungai Donau. Ini diperkuat tidak hanya dengan ide fatalisme sejak lahir yang sering dihubungkan dengan kebudayaan Timur dan Asia, tetapi juga prakonsepsi bahwa wabah dan epidemi lain selalu datang dari ceruk tergelap di timur.
Gambaran yang kita dapat sedikit demi sedikit dari sejarah lokal cukup menunjukkan bahwa selama pandemi wabah-wabah besar, masjid-masjid di Istanbul tetap menyelenggarakan pemakaman. Mereka yang berkabung juga masih saling mengunjungi untuk mengungkapkan belasungkawa dan berbalas pelukan penuh air mata. Bukannya mengkhawatirkan dari mana datangnya penyakit dan bagaimana ia menyebar, orang-orang justru lebih peduli soal bagaimana mereka lebih siap menghadapi pemakaman selanjutnya. 
Namun demikian, selama pandemi virus Corona yang tengah terjadi ini, pemerintah Turki telah mengambil pendekatan sekuler, yakni melarang penguburan jenazah yang meninggal karena wabah dan mengeluarkan keputusan tegas untuk menutup masjid-masjid pada Hari Jum’at ketika orang-orang dalam jumlah besar biasa datang demi menunaikan ibadah paling penting dalam sepekan. Warga Turki tidak melawan tindakan-tindakan ini. Seperti ketakutan kami yang besar, demikian halnya dengan sikap bijaksana dan kesabaran.
Untuk menciptakan dunia yang lebih baik setelah pandemi ini, kita harus memiliki dan memelihara perasaan rendah hati dan solidaritas yang timbul dari momentum ini.   

Orhan Pamuk, peraih penghargaan Nobel Sastra pada 2006, penulis Novel "Nights of Plague" yang akan terbit.

Pamekasan, 26-27 April 2020

MARI themes

Diberdayakan oleh Blogger.