Hi, Sartika. First of all, aku gabisa bayangin if I were you. Scene pertama menggambarkan kamu sedang luntang-lantung dengan perut buncit gatau mau ke mana. Kamu diturunin sama sopir yg sempat mengangkutmu abis ban trucknya bocor lalu kamu dituduh pembawa sial oleh teman si sopir. Aku tidak melihat raut sedih atau tertekan di wajahmu pas adegan itu. Kamu sibuk meneruskan perjalanan sambil membawa diri menenteng tas sedang (sepertinya berisi baju seadanya) meski belum punya tujuan. Kamu terlihat capek fisik saja ketika itu. Seperti pasrah dan siap pada apapun yang akan terjadi selanjutnya. Aku tak bisa menebak apa yang terjadi sebelumnya, seperti kemudian ditanyakan Bu Maya, tetapi pastilah bukan adegan-adegan menyenangkan.

Mampir di warung Bu Maya, diajak ke rumahnya, lalu diterima tinggal di situ barangkali adalah kemujuran besar setelah kejadian-kejadian pahit yang menghantammu sebelum sampai di situ. Kau lalu melahirkan Bayu, membesarkannya sambil bekerja jadi buruh tani, hingga Kau memutuskan untuk asin bersama garam di lingkunganmu. Aku inget Kau bukannya tak sangsi untuk memilih jalan itu, tetapi rasanya itu lebih menjanjikan dibanding tetap pada pekerjaanmu sebelumnya. Adegan Kau bekerja di sawah sambil momong Bayu yg saat itu rewel rasanya tak terperikan. Bayaran tampak tak seberapa, sementara Kau tentu tak ingin menjadi beban bagi Bu Maya yang sudah berbaik hati menerimamu seperti anak sendiri. “Ga ada yang maksa,” jawab Bu Maya mendengar kesangsianmu.

Lalu Kaupun berubah; polesan bedak dan gincu seperti melahirkan dirimu yang baru, lebih cantik dan menarik dari sebelumnya dengan tindak tanduk kaku dalam profesi barumu; menemani para pengunjung minum kopi di warung Bu Maya sambil sesekali memijat mereka, seringkali dengan posisi dipangku. Jika Kau sedang bekerja, Bu Maya-lah yang momong Bayu. Di situlah Kau bertemu Hadi, sopir pikap yang oleh Bu Maya dilabeli baik, ganteng, dan belum beristri. Aku merasakan betapa rawan dan rentanya menjadi Kamu. Kamu perempuan beranak satu (tanpa suami, setidaknya yang terlihat di adegan film), jauh dari keluarga, terlihat tidak memiliki keterampilan khusus, dan nyaris tanpa privilege lain, termasuk harta, akses, kesempatan, everything. Jadi ketika Hadi datang, meski dengan gayanya yang tidak agresif dan terang-terangan, Kau sulit sekali berpaling.

Jika Asep menunjukkan ketertarikan padamu secara langsung (meski sebatas transaksional), Hadi melakukannya melalui Bayu. Ia ngiming-ngiming jajan agar Bayu tidak rewel ketika Kau masih ‘bekerja.’ Hadi juga tak banyak omong. Dia sering memberimu ikan yang kemudian digoreng dan disukai Bayu. Lain dari itu, dia tiba-tiba sering mengunjungi warung Bu Maya lalu megajak Kau dan Bayu jalan-jalan. Aku melihat Kamu dan Bayu bahagia sekali di momen jalan-jalan itu, barangkali seperti nemui oase setelah lama nyusuri sahara. Adegan ikonik saat Kau bertanya apakah Hadi sudah beristri juga terjadi di kesempatan itu. Aku sempat terkejut Kau tiba-tiba berada di kamar sempit bersama Hadi dengan peluh bercucuran karena kipas angin kecil di situ tak banyak membantu. Juga Kau yang tiba-tiba pindah dari rumah Bu Maya karena sudah menikah dengan Hadi dan menempati rumah baru.

Barangkali Kau punya banyak alasan membuka lapisan-lapisan pintu untuk Hadi meski aku yakin Kau tak ingin masa lalu yang melahirkan Bayu terulang kembali. Adegan pertama di sekolah Bayu ketika Kau gagal mendaftarkan sekolah untuknya rasanya sangat traumatik tak hanya bagimu, tetapi juga bagi Bayu. Setelah kejadian itu, either Kamu butuh suami sebagai pendamping atau Bayu yang butuh (kehadiran) ayah baik menurutmu atau apa yang ia rasakan sendiri tampak semakin terasa. Akan tetapi, apakah Hadi beneran diam ketika Kaubertanya perihal isterinya? Apakah ia sebenarnya menjawab, entah jujur atau tidak, tetapi akhirnya Kau (tetap) memutuskan untuk menikahinya? Setidaknya, meski Kau dimabuk cinta, Kau masih menanyakan hal penting itu, setidaknya, maksudku, tidakkah Kau traumatik dengan cerita yang memberimu Bayu sehingga Kau akan awas dan hati-hati terhadap siapapun itu? Kau juga memastikan (kepada Bu Maya) bahwa Kau bukannya tak tahu kalau (dipakai atau tidaknya) cincin kawin tidak menunjukkan status pernikahan seseorang.

Dibanding tipikal hidung belang kebanyakan, Hadi terbilang main di zona aman. Dia jarang ngomong, sopan, bertutur dan bertindak seperlunya, serta lebih manifesting dibanding promising. Caranya ga norak dan sangat mungkin itulah yang bikin Kamu ga bisa berpaling darinya, tambah posisimu ibu tunggal, butuh partner untuk membesarkan Bayu (yg sudah bertanya siapa ayahnya), dan semua tugas itu tampak lebih mudah dengan Hadi di sampingmu. Dia menemanimu ke sekolah Bayu memastikan pendaftarannya sukses (dengan membuatkan KK dan akta lahir palsu), menemani Bayu bermain layangan, pokoe wes setingan bapak tiri/sambung idaman. Ia juga menjanjikan masa depan bagimu melalui gerobak mie ayam yang Kaubawa pergi di akhir cerita dengan penuh emosi tanpa menurunkan martabatmu sedikitpun.

Susah bagiku melupakan keterkejutan dan raut wajahmu ketika itu. Adegan-adegan pahit sebelumnya serasa menamukan klimaks di situ. Hadi lama tak pulang, Kau lalu mencarinya ke tempat dia bekerja, lalu Kau wadul pada Bu Maya yang sebelumnya mencurigaimu berbadan dua sebab masuk angin yg tak kunjung reda. Belakangan suka banyak adegan istri sah melabrak WIL suaminya tetapi Kau tak menunjukkan gelagat serupa. Kau menanggapi sesuatu di luar kontrolmu itu dengan terhormat dan bermartabat. Kau masih memperlakukan istri Hadi dengan baik, setidaknya menyajikan minum, dan Kau buru-buru pergi dari tempat yang barangkali sempat Kauanggap akan menjadi rumah masa tuamu itu. Tidak digambarkan secara verbal apakah istri Hadi mengusirmu, tetapi Kau seperti tahu diri dan buru-buru melakukan apa yang menurutmu harus Kaulakukan. Kau membawa barang seperlunya, seperti pertama kali Kaumuncul dengan Bayu di perutmu. Seperti tanpa beban, tanpa ketakutan, tanpa penyesalan.

Di adegan itu, Bayu sudah menemanimu, meski ia berjalan belakangan karena masih menghampiri orang yang dipanggilnya 'bapak' dan tiba-tiba datang di adegan menyesakaan itu. Kau melenggang begitu saja di samping Hadi dengan gerobak mie ayam yang kalian rencanakan akan menjadi sumber penghasilan di kemudian hari. Aku tentu luar biasa marah pada Hadi, tetapi itu sedikit terobati dengan sikapmu yang tak memberinya ruang sedikitpun. Aku hakkulyakin sakit yang Kaurasakan tak akan ada apa-apanya dibanding derita dan rasa bersalah yang akan seumur hidup menderanya. Kau menyempurnakan ketimpangan beban itu, Kau tidak kehilangan martabat sebagai seorang perempuan betapapun berbagai nasib buruk menghampirimu. Rasanya puas sekali melihatmu berjalan tanpa keraguan, meski aku bukan tak sedih membayangkan apa jadinya hidupmu setelah itu.

Lalu waktu seperti cepat berlalu. Kau ternyata beneran hamil ketika itu. Bayu punya adik Bernama Sekar yang menemani dan menguatkanmu menjalani hari-hari selanjutnya, termasuk ketika Bu Maya dan suaminya sudah tidak lagi bersama kalian. Sekian belas tahun kemudian, ketika Bayu dan Sekar sudah dewasa, Kau digambarkan masih sehat dan hidup bahagia dengan keduanya. Di antara kesialan-kesialan yang Kautemui, rasanya mengenal Bu Maya adalah alur terbaik yang menyelamatkanmu di banyak momentum. Dialog-dialog dengannya penuh keintiman dan simpati tulus sesama perempuan. "Jangan terlalu dipikirin, Tik," kata Bu Maya saat Kau mengadu sambil nangis di pangkuannya. "Kamu kapan aja bisa pulang ke sini. Ini khan rumahmu juga", ucapnya suatu kali Kau mengunjungi rumah sederhana penuh kehangatan itu." "Sudah tua, sudah gabisa apa-apa," tegasnya sebelum menyuruh suaminya tidur di bawah untuk mempersilakanmu yang sedang hamil tua ketika itu tidur di tempatnya semula, seperti meyakinkanmu bahwa di rumah itu, Kau akan baik-baik saja. Dialog-dialog Bu Maya menjadi ruh penting dalam ceritamu, menyuarakan women support women dari sudut paling real di tempat kita hidup.

Hei, Sartika, terimakasih sudah menunjukkan bagaimana perempuan harus bertahan di semua situasi sulit, melanjutkan hidup dengan apapun keadaan, bertanggungjawab atas pilihan (yg tidak selalut tepat dan kadang disesali), menjaga martabat "di tengah kekalahan", serta menyalakan mimpi di tengah ketidakmungkinan demi ketidakmungkinan.

Long life, Women everywhere!

Dear, Nihal

Nihal Baydemir, I envy you in many things. You are well educated and you have privileges to live your life almost to the fullest version that I can even only imagine. Saat dihadapkan pada situasi di luar kendalimu, orang tuamu bangkrut dan Kamu memutuskan untuk kembali ke kampung halaman, aku dejavu beberapa moment. Surely, I was not as brave as you, mungkin juga aku belum well prepared, or will never be. Kamu Kembali ke Istanbul dengan sekoper pengalaman dan dirimu yang baru. Kamu berpendidikan, berpengalaman, dan dua hal itu menjadikanmu berkarakter. You come to save the boat of your family, meski ini bukan badai pertama yang melanda keluargamu. Sebelumnya, seperti diceritakan Berta, Kau kehilangan ibumu dan sudah harus hidup pas-pasan ketika usaha ayahmu memburuk sedang Kau masih berada dalam masa Pendidikan. Tentu saja, kembali ke Istanbul ketika kariermu sudah terbangun di Prancis bukanlah pilihan mudah.

Kau lalu bertemu dengan orang2 dari masa kecil dan masa remajamu, mulai dari Engin, Berta, hingga Pinar. Juga dengan keluarga Bulut dan anak tengahnya yang tak ramah padamu di awal-awal jumpa. Berbeda dengan Mahir dan Arda yang memperlakukanmu sewajar mungkin, Osman justru banyak menjaga jarak. Sayang, Kau harus lebih banyak berurusan dengan si brewok itu. Berselisih paham, berdamai, menjauh lagi, mendekat, dan begitu seterusnya hingga akhir episode paling buntut menggambarkanmu sudah mendapat stempel imigrasi untuk terbang ke Eropa, sementara Osman sampai di rumahmu hujan2an dan kali itu tanpa payung. Asline aku rodok bosen dan cape alure itu2 terus. You guys two keep changing your mind. Ini maunya apa sih? Kalau profesionalisme dan asmara nyampur jadi satu, begitulah jadinya.

Nihal, aku sangat bangga padamu saat Kau terlihat sangat professional menyampaikan gagasanmu, berdiplomasi, berupaya meyakinkan customer, hingga bekerja membangun kapal tipe yacht itu. Kau juga tak mau memposisikan diri sebagai pihak yang harus selalu manut terhadap alur klien. I would describe how I was satisfied saat Kau menulis nomormu di kantor Osman atau saat Kau tak mengiyakan semua yang dia minta. Kau mengambil pulpen dari tangannya dengan setengah paksa dan menuliskannya dengan penuh emosi di selembar kertas di atas mejanya. Itu semacam perilaku tidak sopan yang pantas diberikan pada seorang kolega yang mengatakan tak butuh tukeran nomor hape saat kalian terlibat sebuah transaksi. Juga saat Kau menceritakan bahwa Kau adalah ahli di bidangmu, bahwa Kau dapat memberikan hasil terbaik, dan sikapmu yang, instead of arrogant, tetapi lebih ke professional dan sewajarnya. Im very much proud of that!

Kaujuga tampak loss dengan situasimu karena fokusmu adalah pada pekerjaan. Kauingin menyelamatkan keluargamu, rumah masa kecilmu, juga puing-puing dari bisnis ayahmu. Itu sepertinya menjauhkanmu dari tendensi dan distraksi lain, tidak seperti Osman yang sejak awal sudah terlihat observe Kamu. Jadi ketika malam itu kamu menyapanya *are you avoiding me?* jelas sekali bahwa Osman terintimidasi. Dia bahkan sampai menggagalkan acaranya malam itu dan memilih bergabung menyambutmu makan malam. Meski Osman beberapa kali mendelegasikan Arda untuk menemui dan menghubungimu, itu tak menutupi gelagat bahwa sejak awal, dia sudah tertarik padamu. Hanya saja, ia mungkin bingung bagaimana menjaga image-nya tanpa mengkompromikan tujuannya mendapatkanmu.

Aku melihatmu tidak menyerah pada Osman bukan karena Kau tertarik sejak awal padanya, tetapi karena Kau tau bahwa ia adalah decision maker dalam tender yg begitu Kauinginkan. Kalian bersitegang, beradu mulut, Osman tak membalas pesanmu (let alone menghubungimu duluan setelah Kau memberinya nomor teleponmu), tapi Kamu tebal muka aja meminta bertemu dengan Arda (meski ia sempat meng-cancel di telepon) lalu makan malam di . Dengan Osman yang makin agresif, Kau mau tak mau terbawa pada situasi asmara. Sejak Osman mengajakmu bicara setelah makan malam itu, menjamumu dengan gelas ekskslusif keluarga, mengikatkan tali sendal dan membukakanmu pintu mobil, mau tak mau Kau terdistraksi dengan act of service-nya yang sangat melenakan.

Tetapi Osman tetaplah Osman. Bahkan setelah adegan-adegan manis itu, dia lalu mengurangi tenggat waktu pengerjaan kapal hingga 4 bulan. Hal yang sangat berat tetapi akhirnya Kau iyakan. Aku melihat ada tarik ulur di dalam kepala Osman; antara ketertarikannya padamu, demarkasi antara old money dan new money, termasuk soal Engin yang sukanya provokatif, juga karakternya yang sangat kuat menjaga image tetapi tidak ingin kehilangan apa yang diinginkan. Karena itulah, beberapa gebrakan Osman juga kadang tampak kurang masuk akal dan mbingungke, seperti gayanya datang ke depan rumahmu tetapi tidak mampir dan hanya melihat dari jarak pandang yang sangat dekat (meski mungkin karena ada Engin mendekat). Kaya ingin tetapi tak ingin. Di situ Kau tampak sekali terdistraksi, tetapi Kau fokus pada tujuan utamamu. The one I need to learn a lot from you, Nihal!

Ketika Osman terlihat sangat menahan diri untuk tidak mendatangimu duluan, seperti percakapan di teks telepon hingga undangan ke pub yang dengan penuh suka cita ia penuhi, Kau dengan tanpa beban mendekatinya dan bernegosiasi padanya. Tarik ulur Kembali terjadi di pub itu karena bahasa tubuh Osman yang ambigu banget. Nyentuh2 rambutmu dari belakang posisi kalian lagi duduk di bar itu kaya apa sih, maunya? Aku merasa ketika itu, Kau tengah terbang keawan karena sosok dingin yang membuatmu frustasi belakangan tiba2 bisa sehangat itu, sehingga Kau perlu a little space to breath dan when you did it, ijin sebentar ke belakang, Osman tiba-tiba sudah pulang. Plot twist banget. Sedalam apa Kau jatuh kecewa ketika itu, Nihal?  Osman kembali menjauhimu dengan tidak menghampirimu saat Arda menjemput Berta ke rumahmu, padahal dia ada di mobil yang sama, sehingga Arda-lah yang tampak lebih loss berinteraksi denganmu, meski Mahir bukan tak memperlakukanmu baik.

Di belakangmu, Osman adalah yang paling lega mendengar ucapan Berta bahwa Kau dan Engin tidaklah ‘bersama.’ Dia juga merekayasa soal pinjaman untuk pendanaan pembuatan kapal, meski akhire Kau berhasil mengetahuinya setelah agak telat. Di sini aku melihat rasionalitasmu terasa dan stay awake. Bahkan beberapa detik setelah ciuman kalian yang pertama, Kau sudah menduga bahwa Osman-lah yang mengatur semua skenario pinjaman yang akhirnya dikabulkan itu. Pada adegan itu, aku melihat Osman tak bisa lagi menyembunyikan perasaannya padamu. Kalian terlibat suatu dialog sarat emosional yang seperti membuat Osman lupa akan citra diri yang tengah dibangun dan dipertahankannya di depanmu. Ia seperti dituntun untuk memotivasimu secara langsung, bukan dengan setingan scenario seperti yang sudah dia lakukan sebelumnya.

Kalimat2 Osman ketika itu juga kaya freak banget diucapkan seorang yang terlanjur dipanggil monster oleh para pebisnis di sekitarnya. Things like; let me in, pasrahkan padaku, itu bukan Osman sekali. Biasanya dia bilang, “look at yourself. You engage with everyone except for me”. Makanya, jika ciuman Osman ketika itu adalah ekspresi perasaannya, aku melihat Kau melakukannya dengan pikiran akan kelelahan (dengan seluruh drama yang dia bikin), kemarahan (in a positive tone,

> juga kelegaan mengetahui bahwa the complicated story comes to an end yang mungkin sangat impredictable. Dan ciuman pertama itu hanya awal perseteruan karena sensormu yang bekerja mengetahui perihal pinjaman yang diseting Osman. Meski akhirnya Kau mengambil pinjaman tersebut, aku melihat betapa Kau berupaya tidak berada di bawah control-nya dan tidak ingin dikasihani karena situasimu. It is very good point I will barely find in another scene. Abis ciuman ga bikin Kamu buta mata dan hati melihat keadaan dan mengamati gelagat semesta.

Tetapi aku tau bahwa no matter chaos the situation after the kiss, it gave you something. Kamu jadi kepo sama kisah cinta lama Osman, dan inilah yang justeru membuatmu tak bisa lagi berpikir rasional. Kau dan Osman kembali bertemu di forum resmi, mungkin semacam progress report dari proyek yg sedang dikerjakan. Kalian hanya saling menatap; Kau yang tengah demam dan Osman yang tampak dengan genangan air di matanya namun menolak untuk jatuh. Lalu setelah pertemuan itu, Osman mendatangimu secara pribadi ke kediamanmu, dan adegan-adegan itu kembali tak terhindarkan. Osman barangkali tidak ingin banyak mengutarakan perasaannya secara verbal, tetapi Kau terlihat tak bisa lagi mengelak sejak di kursi dermaga itu, ke dalam rumah, ke kamar tidurmu, ke bath tub, lalu ke dapur. Di tengah keterkejutan dan barangkali ketidakpercayaan akan yang terjadi, Kau tampak menikmati setiap inci detailnya. You deserve it, aku pikir. You did nothing wrong, sebelum adegan di pesta itu.

Setelah malam hujan saat Osman mendatangi rumahmu berpayung dan black pepper untuk merdakan demammu, Osman tampak tak ingin menutupi hubungan kalian lagi. I mean, there is no contract or oath. You guys just kissed, just slept together, just fell for each others, but everything seems to happen in a good way. Osman yang memang tipenya act of service jadi seperti punya lebih banyak kesempatan menunjukkan kecenderungannya, menjemputmu di depan banyak orang, menggandengmu di pesta, menyilakanmu tetap di sampingnya meski ia tengah bertemu kolega bisnis, hingga membuatkan minuman dan memberi semacam selimut tipis untukmu menghalau dingin (ini adegan kedua sih, kayanya dengan kain serupa dengan sebelumnya). Kupikir cerita akan berakhir di situ, sebelum suatu tikungan muncul; Arda meminta Osman mencarikan hotel di sebuah kota yang menjadi semacam kartu merah dari kisah cinta Osman yg lama. Ketika mendengar itu, Kau tak berpikir lain kecuali bahwa Osman akan bertemu dengan perempuan tersebut. Barangkali beginilah jadinya ketika sosok rasional tengah dimabuk cinta; logikanya tidak berfungsi seperti biasa. Dan di sinilah drama menjadikan segala hal tak mungkin menjadi terjadi. Ketika Osman patah hati banget, kalian gada yang kontak via HP takon iki asline onok opo? Kalian jadi gada yang inisiatif apalagi agresif, bikin penonton gregetan mergo situasi itu bertahan sampai di akhir serial.

Apakah kalian akhirnya tidak bertemu lagi? Oh bertemu, tentu dalam situasi formal. Aku kembali menyukai sosokmu, Nihal, sebab dua kali Kau bertemu Osman, Kau tampak professional dan mampu menyembunyikan perasaanmu, setidaknya dibanding Osman yang masih curi-curi lirik. Meski kalian berdua tampak terluka, kalian berusaha professional dan menyelesaikan apa yang sudah dimulai. Aku beberapa kali merinding melihat dua adegan ini, termasuk ketika ada flashback soal warna magenta, yang kuharap akan membuat salah satu atau keduanya membuang jauh2 gengsi sebab di situ kalian memang literally hanya berdua. Meski Osman tampak lebih rapuh dan beberapa kali ketahuan curi pandang, Nihal-lah yang sempat bertanya perihal satu kata kunci yang meruntuhkan alur cerita bahagia itu. Osman terlihat tidak mengerti dan Nihal tidak memperpanjangnya lagi. Tidak ada lagi inisiatif dan keberanian yang bisa meruntuhkan gengsi dua orang ini, sampai di pertemuan ketiga. Hanya air mata yang menggenang dan ga jadi jatuh; saling tahu tetapi malah adu gengsi. Ya wes. Ada dialog yg sangat aku inget di situ; Oke, you have no time, you don’t understand, you are not curious. No problem. Asline masalah kesalahpahaman, tetapi diplesetin ke soal kapal. Saling nunggu akhire ya sama-sama ga dapat apa2. 

One last time ketika mereka dijadwalkan tak akan bertemu lagi, Kau sudah berusaha menyampaikan duduk persoalan ke Osman (setelah mendengar dari Berta), tetapi situasi seperti sudah tak sama lagi. Osman yang awalnya memaksa tampak tak lagi ingin tahu sementara alur lain di luar kalian berdua berjalan begitu saja. Kesepakatan ayah Nihal dengan Engin, kunjungan ayah Nihal ke keluarga Bulut, hingga kebohongan ayah Nihal pada putrinya. Lalu kalian tak lagi bertemu sebelum Kau tiba di bandara dan Osman mendapat kunci rumahmu tanpa Kamu lagi di situ. Aku sempat berharap kisah kalian akan berakhir Bahagia seperti Mahir dan Arda dengan kekasihnya masing-masing, tetapi tidak semua kisah memang harus sama. Overall, thank you, Nihal. You did very best and give so much inspiration. Semoga serial dua lebih greget menampilkan sosok perempuan berkarakter sepertimu.

Kata Bu Eva, cerita seperti ini ada di semua zaman, semua situasi, semua tempat. Tentang perempuan dengan perasaan dan keinginannya dan lelaki yang sulit sekali memahaminya. Soal perasaan, keinginan maupun pemahaman akan orang lain sebenarnya bukan domain khusus masing-masing, tetapi terlanjur diatributkan seolah-olah terkotak pada gender tertentu. Toh laki-laki juga punya keinginan dan perempuan juga harus bisa memahami. Kita manusia memang bisa berpikir akan mengakali takdir, tetapi waktu punya perhitungannya sendiri. Dari sekian macam tarik ulur dalam diri, ujungnya adalah waktu dan kesempatan yang tak selalu ada dan terprediksi, seperti ia yang tak disadari keberadaannya sebelum tak bisa digenggam lagi.

MARI themes

Diberdayakan oleh Blogger.