Surat untuk Fusun (Catatan abis Nonton Museum of Innocence Netflix Series)

Dear, Fusun

Aku tak tahu persisnya apakah Engkau sosok nyata yang difiksikan ataukah Engkau sepenuhnya fiksi; termasuk apakah Engkau setengah fiksi dan setengah nyata; campuran dari berbagai kisah yang dijadikan satu, atau kemungkinan lain. Aku hanya melihat, seperti apapun unsur pembentukmu, Engkau adalah gambaran dari banyak situasi perempuan di dunia nyata. Engkau seperti menjadi cermin dari mereka yang bercita-cita besar tetapi lahir dan tumbuh tanpa banyak privilege sehingga harus menciptakan sendiri privilege tersebut dengan kerja keras, rajin belajar dan menempuh banyak cara untuk sampai di tujuan. Tentu saja dalam perjalanan menciptakan privilege sendiri tersebut, ada banyak lompatan dan lekukan yang mungkin tak terprediksi sejak awal. Sebagian sekadar mengubah alur cerita, sebagian sampai berdampak pada ujung cerita.

Akan tetapi Fusun,

Rasanya perasaan banyak memenangkan pertarungan dengan logikamu. Sejak sebelum pertama kali Kau berjumpa Kemal di toko tempatmu bekerja, Kau sudah tahu bahwa ia bukanlah pemuda lajang yang available. Eh Kamu mash nekat main ke apartemen dia di 00000, bahkan kemudian menjadikannya kebiasaan setiap jam dua siang, di sela-sela jam kerjamu di toko, waktu yang seharusnya Kau gunakan untuk memuluskan impianmu meraih nilai aman untuk masuk universitas. Kau malah rajin ke situ dengan kedok belajar matematika. Sampai di sini, Fusun, aku melihat bahwa yang terjadi padamu adalah pembenaran dari isapan jempol bahwa perempuan seringkali kalah oleh perasaannya. Aku tak yakin Kau kehilangan sosok dan kasih sayang seorang ayah sehingga tindakan-tindakan kecil Kemal sangat berkesan di hatimu, tetapi keputusan-keputusanmu bukanlah kecelakaan sekali seperti kunjungan pertama. Kau mengulanginya lagi-lagi, penuh kesadaran dan Kau bahkan tampak menikmatinya. Meski tidak sepenuhnya meninggalkan tujuan belajar matematika untuk persiapan ujian, Engkau sangat terlihat telah melupakan prioritasmu untuk fokus belajar, masuk universitas dan mewujudkan mimpimu. Kau memang bisa berdalih menjadikan Kemal dan pertemuan dengannya alasan untuk makin semangat belajar tetapi Kau justru lupa tujuan awal dan cita-cita besar yang Kaumiliki. Alih-alih makin giat belajar, Kau justru asyik bermain dengan api yang Kau sendiri sangat tau betapa nantinya ia akan membakarmu dan orang-orang sekitarmu.

Apa yang Kaucari dari Kemal sementara Kau sendiri tahu betapa ia terikat dengan Sibel seperti semua orang di lingkunganmu memuja-muja kisah cinta mereka? Kau boleh mengatakan bahwa Kemal tak main-main mencintaimu. Ia membuktikan banyak hal nyaris di seluruh episode cerita. Dalam beberapa hal ia bahkan tampak terobsesi padamu; sesuatu yang belakangan menjadi cikal-bakal museum yang hingga kini berdiri di Istanbul tersebut. Akan tetapi, tidakkah Kaujuga tahu bahwa sedari awal, Kemal banyak berbohong padamu dan celakanya, Kau percaya-percaya saja padanya. Harusnya Kau bisa lebih curiga pada saudara jauhmu tersebut; mustahil rasanya jika Kamu adalah yang pertama baginya seperti dia adalah pertama bagimu sementara semua orang tahu bahwa Kemal tak lama lagi akan meresmikan pertunangannya dengan Sibel. Selain bahwa Kau telah menempati posisinya di hati Kemal, harusnya Kau banyak belajar dari resiliensi dia sebagai perempuan. Aku tak mengatakan soal privilege yang barangkali ia miliki; lulusan Sorbonne atau apalah itu, tetapi cara dia menghadapi situasi dan persoalan menandakan bahwa ia perempuan matang. Perkara Kemal akhirnya memilihmu dan bukan dia, itu adalah hal lain di luar kontrol Sibel yang tak sama sekali mengurangi nilai dia sebagai seorang perempuan berkarakter. Tetapi bahwa sebagai seorang perempuan, pasangan, ia cukup paripurna. At least she has tried her best. Aku sering merasa bahwa di hadapanmu, Kemal lebih bebas mendominasimu sementara ketika bersama Sibel, ia menghadapi perempuan yang setara sehingga ego maskulinitasnya terancam dan dia merasa lebih nyaman--dan akhirnya memilih--denganmu.

Fusun, Kau sangat mengecewakanku ketika akhirnya Kau datang ke pertunangan Kemal dan Sibel. Padahal, esoknya Kau ujian dan Kau tahu bahwa hadir ke sana tak memberi input positif apapun terhadap persiapanmu untuk hari besar itu. Apa bagusnya Kau menampakkan diri kepada Kemal di malam Kau tengah patah hati karena dirinya? Apa Kau ingin menyempurnakan patah hatimu sehingga esok hari Kau siap berperang dan memenangkan ujian? Kau bisa saja berniat begitu, tetapi akhirnya patah yang Kaualami jauh berlipat dibanding apa yang mungkin sempat Kaubayangkan. Informasi dari asisten Kemal perihal pasangan yg tampak tengah berbahagia tersebut pasti sangat mengejutkanmu sebab Kau terlalu percaya pada Kemal. Cinta yang Kausadari belakangan telah terlebih dahulu membutakan mata dan hatimu sehingga Kau jadi permisif dengan hal-hal yang Kau tahu tak seharusnya Kau lakukan. Bagaimana mungkin Kau menyerahkan ‘hidup’mu pada orang yang telah terikat dengan orang lain dan bersikap seolah Kau adalah satu-satunya dunia yang dia miliki ketika kalian berdua? Tidakkah seharusnya Kau berpikir bahwa Kau adalah second choice, pelarian, atau apapun yang disembunyikan Kemal dari dunia begitu Kau keluar dari kamar itu? Bahkan setelah sama-sama keluar dari bangunan bertingkat itu, Kalian berubah menjadi dua orang asing yang hanya bisa berjalan di sisi berseberangan sambil saling menatap dan tersenyum, padahal sebelumnya bergumul tanpa busana disaksiksan burung gagak di bawah suara riuh anak laki-laki bermain bola.

Aku pikir Kausudah jera dan menghapus Kemal dari kepalamu ketika akhirnya Kaumenghilang dan pindah rumah tanpa berkirim kabar atau pesan apapun untuk Kemal. Ujian masuk universitasmu gagal dan meski pada akhirnya Kemal juga gagal mempertahankan pertunangannya, ia sempat memulai kehidupan baru bersama Sibel. Ia pernah benar-benar ingin melupakanmu, mengaku kesalahannya pada Sibel dan meminta pertolongannya, meski belakangan ia tahu bahwa obsesinya terhadapmu mengalahkan semua pertimbangan dan kalkulasi logis. Ia tak bisa berbohong terlalu lama tinggal bersama Sibel sementara pikirannya terisi sosokmu. Setidaknya, Kau perlu juga sadar bahwa ia tidak sebegitunya mencintaimu. Engkau tidak benar-benar menjadi satu-satunya di hati Kemal. Ketika ia mencarimu ke sana ke mari berbekal informasi dari karibmu perihal keberadaanmu di Istanbul, Kemal memang tampak seperti Qais. Untungnya, Kau bukanlah Laila dan belakangan aku tahu bahwa Kemal sebenarnya tidak benar-benar mencintaimu; ia sepertinya hanya mencintai egonya sendiri yang terwujud dalam sosokmu.

Ketika aku sudah mulai bangga padamu karena Kau berani meninggalkan Kemal tanpa kabar apapun, Kau malah mengirim sepucuk surat undangan makan malam. Sebelum akhirnya kalian bertemua kembali dengan potongan rambut pendekmu, aku sempat berbahagia membayangkan kisah kalian akan berakhir indah; seperti cerita-cerita lain yang memang digariskan untuk bermula dari sebuah kesalahan. Kemal berniat langsung melamarmu sebelum ia tahu bahwa Kautelah menikah. Dalam 6 bulan ia mencarimu, 5 bulan di antaranya Kau sudah berstatus isteri orang. Dan inilah bagian paling membosankan bagiku. Kemal rajin bertandang ke rumahmu, membawakan makanan, seringkali uang, bahkan membantu karier suamimu, Ferdun, juga dirimu sendiri, dengan modal dana yang dimilikinya sebagai salah satu pewaris kerajaan bisnis keluarga.

Kauternyata tak bahagia dengan Ferdun dan undanganmu kepada Kemal tak lebih dari upaya memanfaatkan kedermawanan Kemal serta perasaannya yang masih tertaut padamu. Aku tak tahu siapa yang berinisiatif akan hal ini, tetapi di sini aku merasa cerita tak lagi mengasyikkan. Kau bertemu Kemal hampir tiap malam di rumahmu ketika Ferdun sedang di luar. Kalian juga beberapa kali jalan keluar bertiga dan beberapa adegan ganjil jadi tak terhindarkan. Aku sering melihat Ferdun sengaja menjualmu pada Kemal, agar karier filmnya lancar dan Kemal mau menjadi produser untuk naskah cerita yang ditulisnya. Baik Kemal atau Ferdun tak pernah benar-benar ingin mewujudkan mimpimu menjadi pemain film, dengan pertimbangan dan kepentingan mereka masing-masing. Puncaknya, Ferdun menceraikanmu dengan syarat perusahaan tempat Kemal berinvestasi—yang diberi nama dengan nama jenis burung kesukaanmu—beralih kepemilikan padanya. Bener-bener menyebalkan!

Lalu Kau dan Kemalpun seperti menemukan momentum yang sudah lama ditunggu. Aku kembali sempat bahagia membayangkan akhir cerita indah kalian berdua, setelah segala hal yang dilalui dan kejanggalan-kejanggalan yang bagiku sangat merugikanmu. Ketika Kaumengajukan beberapa syarat kepada Kemal, untuk keliling Eropa pakai mobil, dilamar langsung oleh ibu Kemal, tidak ada sexual intercourse sebelum pernikahan, juga menggelar pesta di tempat Kemal dan Sibel dulu bertunangan, aku melihatmu bukan lagi sebagai Fusun belia dengan pikiran-pikiran polos dan sederhana (seperti permintaanmu mengunjungi apartemen Kemal begitu Kau selesai mengikuti ujian; keinginan yang tidak sempat Kautuntaskan karena Kauterlanjur mengetahui kebohongan Kemal dan pergi sejenak dari hidupnya). Tetapi di sisi lain, aku melihat Kau terlalu menggantungkan mimpimu pada Kemal, meski Kau bisa saja berdalih ini semua adalah pelipur dari segala sakit yang Kaudera sejak malam itu di Hilton. Kau juga menjadi lebih agresif, berapi-api, dan mode senggol bacok, seperti kejadian ketika membuat passport di kantor imigrasi. Di tahap itu, Kemal masih tampak bersabar dengan sikap-sikapmu yang barangkali sangat jauh berbeda dengan Kamu sekian tahun sebelumnya. Adegan Kau belajar mengemudi juga menunjukkan betapa Kau benar-benar telah menjadi Fusun yang baru. Kau mewujudkan salah satu mimpi kecilmu dan ngotot mendapat SIM meski harus bolak-balik test hingga 3 kali. Tetapi, Kemal rasanya tak bisa menahanmu lagi ketika di akhir cerita, Kau mengendara ugal-ugalan dan tampak sengaja membawa mobil melintasi kebun bunga matahari; visual yang Kautemukan di pikiranmu ketika menikmati momentum klimaks di apartemen Kemal.

Sebelumnya, Kau melanggar sendiri syarat yang Kauajukan untuk Kemal. Setelah resmi bertunangan, dalam perjalanan menuju Eropa, Kau justru mendatangi kamar Kemal dengan berbohong bahwa ibumu mengunci kamar yang kalian berdua tempati. Meski bahagia, Kau seperti terpaksa datang ke kamar Kemal dan di situlah adegan tersebut terjadi lagi. Kemal tampak bukan tak menginginkannya sejak awal (konon ia tak pernah lagi bisa melakukannya dengan Sibel setelah denganmu), hanya saja ia menahannya karena syarat dan janji yang diberikannya padamu. Setelah semua itu, Kau malah melanggar janji sendiri lalu esoknya seperti marah karena hal itu terjadi lagi. Tetapi Fusun, aku rasanya tau bahwa intinya bukan di situ, tetapi ucapan Kemal yang seperti menyudutkanmu ke sudut paling gelap; sesuatu yang barangkali pernah terpikir di kepalamu tetapi Kemal malah memverbalkan di depanmu langsung sehingga Kau mau tak mau tersinggung, lalu meledak dan seperti tak berpikir panjang. Kemal ketika itu mengatakan kalimat semacam bahwa Engkau tak akan pernah bisa maju tanpa pria kuat, which is tanpa Kemal atau Ferdun, sebab ketika itu konteksnya adalah perihal cita-citamu untuk menjadi bintang film; suatu keinginan yang semakin jauh dari jangkauan sejak sederet kejadian dengan Ferdun dan kekhawatiran Kemal bahwa Kau tidak akan bertahan di dunia yang menurutnya penuh jebakan hitam dan berbahaya bagi seorang perempuan. Kau seperti berpikir bahwa kekayaan Kemal dan cintanya yang tumpah-tumpah tidak akan cukup membahagiakanmu sebab cita-citamu tidak menjadi prioritas Kemal, setidaknya dalam kecenderungan yang nyata dan bukan hanya di omon-omon seperti kebiasan Kemal berbohong untuk mengamankan situasi.

Sampai di sini rasanya belum sanggup untuk bikin concluding remarks.