First Days in Freiburg
Tiba di Freiburg pada musim gugur mungkin bukan waktu yang tepat. Suasana jadi gloomy dan intensitas untuk overthinking atau males2an seperti lebih tinggi dari biasanya. Akan tetapi, timing berdasarkan musim barangkali hanya menjadi satu dari sekian pertimbangan dan kalkulasi semesta. Setelah berbagai tahapan, ups and downs, akhirnya aku sampai di Freiburg siang itu, di stasiun tram yang bernama Freiburg (Breisgau) Hbf. Aku inget banget nurunin kopor bagasi dari tram ke pijakan stasiun dibantu seorang pria yang sedang mengantri untuk masuk tram. Mungkin tidak tega, seperti dua pria lain yang membantuku ketika menaikkan kopor di stasiun bandara Frankfurt dan merapikan kopor di atas tram ketika kendaraan itu sudah berjalan. Sebelumnya ketika baru masuk pesawat menuju Frankfurt, seorang bapak yang duduk di kursi dua baris di belakangku juga membantuku mengangkat kopor kabin untuk meletakkannya di tempat ia seharusnya berada. Sekian menit menunggu di situ, aku masih kekeh gamau kontak Mas Zaman yang berjanji menjemputku. Aku lebih fokus mengamati suasana sambil mbatin duh dingin banget. Beberapa perlengkapan sudah tak pakai sejak di bandara Hongkong hingga Frankfurt, seperti syal, kaus tangan, hingga topi hangat. Aku merasa things are set tetapi ternyata dingine di luar perkiraanku.
Aku melihat seorang permepuan dengan stroller dan anak laki2 di atasnya melintas. Aku perhatikan wajah dan posturnya lalu begitu ia semakin men dekat, aku yakin dia adalah isteri Mas Zaman. Aku sapa dia duluan dan kamipun berkenalan. Tak lama, Mas Zaman datang dan kami bergeser untuk berganti tram ke arah apartemen mereka. Aku diajari cara mbayar ongkos tram pakai mesin otomatis yang menggunakan koin tetapi sayangnya it doesn't work, jadi bayare di atas tram; bukan ke petugas, tetapi ke mesin juga. Aku lalu tinggal di apartement mereka kisaran 26jaman lebih karena keesokan harinya, malam setelah maghrib, mereka bertiga, Mas Zaman, Mb Nida, dan Ahimsa, anak sulungnya, mengantarku ke flat atau kosku. Kami kembali naik tram (aku utang ongkos tram dua kali which is 6 yuro) lalu jalan ke tujuan. Belakangan aku tau kayanya kami salah pilih tram stop. Jadi kami berhenti di sebuah stop yang gelap banget, dan untuk mencapai tujuan harus naik tangga yang pake undakan. Ini kedua kalinya harus lewat tangga undakan yang ga berjalan sendiri alias bukan eskalator. Pertama di Bandara Frankfurt pas abis turun dari pesawat. Kesian dan ga enak banget rasanya liat Mas Zaman dan mb Nida geret koporku di spot itu.
Setelah itu, kami melewati perumahan dan ternyata cukup jauh jaraknya dengan lokasi tujuan. Meski pedestrian facilitynya enak, ttp aja kerasa jauh. Mungkin karena belum terbiasa atau aku terlanjur ga enak sama orang2 yang mengantarkanku atau karena pas itu gerimis mulai turun. Syukurlah akhirnya kami sampai sebelum deras, dibukakan pintu oleh landlord, dan bersama menuju kamarku di upstair. Meski tidak seperti dugaan pertama bahwa aku akan di downstair nempati kamar yang pernah dipake suaminya Mb Yulia, Mas Burhan, kamarnya juga luas dan dapat view bagus. Full furnished. Kami berbasa-basi sebentar sebelum aku mengantar tiga pengantarku itu pulang. I owe them a lot. Uda dikasih tumpangan gratis, dibikin nyaman dan feel at home pas hari2 pertama di Freiburg, masih juga dianter dan dijemput ke dari dan tempat tujuan. Sending them the best prayer ever. Sebelum pulang, Mas Zaman sesumbar, nangis aja kalau ingin nangis (karena rindu keluarga).It is very common and totally ok, aku tafsirinnya begitu.
Nah aku memulai hidup baru, seperti kata mb Yulia. Aku ngobrol sama Anne, landlordku, kenalan sama Killie dan Matthew, dan mulai unpack barang2. Malam itu aku ga makan lagi karena sudah makan di apartemen Mas Zaman. Abis itu aku keburu tidur meski jam biologisku masih belum sepenuhnya ala Freiburg. Jam 12 aku bangun, saat di Indonesia sudah jam 6-7. Anak2 wedok sudah di sekolah ketika aku baru bangun, sementara Gio sudh mandi. Aku memasak nasi dan menyantapnya dengan bekal lauk yang kubawa dari Indonesia. Ada melas2nya pasti. Setiap kali mau feeling down, aku diingatkan betapa hari2 ini sudah lama aku nantikan, upayakan, dan doakan. Ada juga support system di sana yang memintaku fokus berdoa dan melaksanakan tugasku, instead of meker jeru atau overthinking. Karena hari itu sunny day, alhamdulillah, aku memberanikan diri eksplore Freiburg seorang diri untuk keperluan ambil duit cash di ATM dan belanja di supermarket. Baru belanja buah segar aja karena aku pikir belum saatnya belanja agak banyak untuk survival mode. Alhamdulillah ga nyasar meski sudah merasa sedikit ngos2an jalan agak jauh.
Rumah Anne tidak terlalu berbentuk flat kaya di hotel2. Seperti rumah biasa, ada dapur dan kamar mandi umum. Mungkin karena itu juga penghuni jadi punya space untuk talking each others and killing time together. Aku gatau usia Anne berapa, tetapi anak sulungnya berusia 21 tahun. Anne masih bekerja dan dia bisa reach out upstairs dengan baik. Ada banyak hal yang harus aku pelajari, mulai mengguakan mesin penghisap debu, cuci, pencuci piring, penghangat ruangan, hingga kompor tanam. Pengalaman di Australia cukup membantu mengurangi cultural shock, kaya cebok ga pake air atau minum dari keran. Yang baru kerasa mungkin adalah udara yang masyaAllah dingin sekali sama lantai kamar mandi yang gada saluran air. Artinya emang dikondisikan untuk kering. Aku mulai belajar Bahasa Jerman, mau gamau, sambil mengamati pola dan mencari persamaannya dengan Bahasa Inggris. Kepikiran harus beli ATK; kemarin hanya bawa pulpen dua biji dari Indonesia. Lupa ga bawa buku.
Aku bayangin akan belajar banyak hal di sini, life skill dan academic skill harus sama2 ditorture. Bayangannya begitu. Semoga aman terkendali semua. Besok mau ke kampus ketemu Bu Pink dan ikut colocium. Can't wait!
Posting Komentar