Tampilkan postingan dengan label Dailies and Surroundings. Tampilkan semua postingan

Tak ada yang terasa janggal dari adegan seorang istri menghidangkan kopi di pagi hari untuk suaminya. Saking lumrahnya, hal-hal mendasar di balik kelaziman tersebut sering terlewatkan. Apa yang membuatnya terus berulang seperti tak menemukan titik anomali? Siapa yang pertama kali membagi tugas demikian dan mengapa ia bertahan sedemikian lama? Mengapa si suami tak membuat kopinya sendiri saja, bukankah ia bisa lebih mudah menyesuaikan takaran dengan seleranya? Jangan-jangan aktivitas tersebut menyimpan makna lebih dari sekadar kebiasaan, atau pertanyaan-pertanyaan kecil semacam; “mengapa suami tidak melakukan hal serupa kepada istrinya?”

Jawabannya tentu tak sulit dicari. Ada banyak pembenaran untuk membiarkan rutinitas tersebut terus berlangsung, mulai dari argumen konstruk sosial sebagai kebiasaan hingga pemikiran keagamaan. Dibanding yang pertama, argumen kedua tampak lebih dianggap legitimate, meski bukan tidak ada yang mencoba merenungkannya ulang. Sedikitnya, ada tiga konsep kunci di balik pola hubungan yang alih-alih komplementer atau egaliter, tetapi sangat hierarkhis tersebut. Ketiganya adalah konsep taat, bakti, serta rida. Dalam situasi bagaimanapun, suami menjadi pihak yang harus ditaati sehingga isteri dituntut untuk berbakti untuk mendapat rida suami.

Di Madura, adegan semacam ini adalah pemandangan familiar. Apapun situasi fisik maupun batin yang dialami, perempuan Madura biasa menyelesaikan urusan dapur dan berbagai pekerjaan domestik lain. Pada waktu yang sama, para suami menikmati secangkir kopi, seringkali dalam obrolan seru bersama bhala tatanggha (saudara dan tetangga). Begitu kopi tandas, mereka nyaris tidak memikirkan bagaimana cangkir-cangkir kotor sisa kopi menjadi bersih kembali dan bertengger di tempatnya semula atau bagaimana ampas kopi bisa tak menghambat saluran pembuangan. Meski situasi ini bukan tanpa anomali, pola demikian tampak masih mendominasi dengan bertahannya pandangan dan praktik pembagian kerja tradisional. Asumsi bahwa tugas domestik adalah wilayah kerja utama perempuan tetap berlaku betapapun yang bersangkutan telah melakukan ekspansi peran ke wilayah publik hingga berandil dalam pendapatan keluarga. Alih-alih mendapat apresiasi dan pengurangan porsi tugas domesik, kontribusi demikian nyaris tak bernilai apa-apa dibanding ketika suami mengambil alih tugas domestik meski dalam durasi yang tidak seberapa.

Dari sini tampak sekali bagaimana pembagian kerja yang demikian menguntungkan sebelah pihak. Padahal, siapapun tahu bahwa peran-peran biologis kodrati perempuan tidak bisa digantikan. Untuk urusan njamu demi lancarnya proses reproduksi—termasuk kontrasepsi modern—ataupun kesuburan untuk memperoleh keturunan, nyaris hanya perempuan yang dikenai tugas, sementara laki-laki tidak dibebani kewajiban apa-apa. Dengan keadaan semacam itu, perempuan tetap dibebani tugas-tugas non-kodrati yang sebenarnya negotiable dan tidak mutlak menjadi wilayahnya. Sementara tugas suami dianggap tuntas dengan menyediakan kebutuhan finansial, tugas isteri seperti tak ada habisnya. Ia dituntut mapan secara spiritual untuk mendoakan dan nirakati keluarganya, stabil secara emosional, mumpuni secara intelektual, sehat dan berpenampilan menarik, hingga menguasai berbagai basic life skill.

Dengan beban demikian, tidak mengherankan jika perempuan nyaris tidak memiliki me-time, seperti momentum lelaki menyeruput kopi di pagi hari. Gejala semacam itu, menariknya, diamini masyarakat sekaligus mandarah daging bagi si perempuan sehingga ia cenderung diliputi rasa bersalah ketika abai atau mereka tidak maksimal melaksanakan tugasnya; sesuatu yang nyaris mustahil terpikir oleh laki-laki terkait perannya dalam tugas-tugas rumah tangga. Hal yang sama berlaku juga untuk keinginan dan angan-angannya sendiri di luar ekspektasi sosial. Anke Niehof bahkan sampai berujar bahwa masa-masa kehamilan (ngidam) adalah satu-satunya momentum di mana ia dapat menyuarakan keinginan secara terang-terangan kepada suaminya.

***

Seperti sosok Rumanti dalam “Perempuan Jogja”, perempuan Madura tidak akan selesai digambarkan dalam satu sosok. Ilustrasi-ilustrasi di atas bisa jadi masih relevan dalam konteks saat ini namun mungkin saja perlu didiskusikan ulang. Bagaimanapun beragamnya fakta di lapangan, perempuan Madura banyak dilekatkan dengan berbagai image dan atau stereotype yang lebih intens melihat sisi buruk dibanding sisi baiknya. Padahal, secara teoretik, penilaian positif berasal dari bare maximum sebuah kelompok atau komunitas, sementara label negatif muncul dari kategori paling bawah di dalamnya.

Berbagai bias dan halangan teknis dalam proses menciptakan image tersebut bahkan berbagai anomalinya juga bukan tak diungkap, tetapi sebagian stereotype masih melekat hingga hari ini. Perempuan Madura, misalnya, dicitrakan sebagai warga kelas dua dalam hal anatomi tubuh, warna kulit, cara berpakaian, bertutur, dan berperilaku dibanding perempuan Jawa. Mereka bahkan dianggap dapat dengan sangat mudah dikenali ketika berbaur dengan perempuan lain karena ketika membawa beban, mereka cenderung menaruhnya di atas kepala (nyunggi), alih-alih di belakang punggung, dengan dua tangan di depan, atau cara-cara lain.

Seperti diakui Hubb de Jonge, stigma-stigma tersebut, betapapun bukan tanpa bukti dan indikator, terkadang muncul tanpa melalui pengamatan langsung dan sangat dipengaruhi pandangan yang berkembang di kalangan etnik lain. Sedikit sekali penilaian yang memperhitungkan bagaimana perempuan Madura mempersepsikan dirinya sendiri. Padahal, suara dari dalam semacam itu, kendatipun dalam beberapa hal seringkali terkesan apologetik, diperlukan tidak sekadar untuk mengimbangi pandangan yang dalam beberapa hal bias, tetapi juga sebagai insight lain dari perspektif yang barangkali jarang terdengar, seperti apa yang direpresentasikan buku ini.

Dalam lingkup lebih luas, karya-karya seputar Madura belum banyak menjadikan perempuan sebagian subyek utama. Dari sedikit karya tersebut, perspektif insider adalah satu celah yang masih banyak menyisakan ruang untuk diisi. Selain saduran dari disertasi Tatik Hidayati (2022) dan Hasanatul Jannah (2020), masih sulit ditemukan suara dan pandangan perempuan Madura terhadap isu-isu emansipasi, kesetaraan gender, keberpihakan akan yang lemah, termasuk potret perempuan Madura dalam lanskap yang lebih mengakar rumput. Agaknya, buku ini mengajukan diri untuk menempati ceruk kecil namun penting tersebut.

***

Di luar image perempuan Madura menurut outsider maupun insider, posisi mereka sebenarnya in between. Di satu sisi, mereka dianggap simbol kehormatan seperti tampak dari tata pemukiman hingga norma sosial yang berlaku. Namun demikian sejarah mencatat bagaimana mereka menjadi barang taruhan/jaminan ketika suami/ayahnya melempar dadu judi. Ketika banyak kasus carok bermula dari sakit hati persoalan asmara, di waktu yang sama perempuan Madura dianggap tidak lebih disayangi dibanding sapi untuk kerapan atau kerbau untuk bercocok tanam. Sementara suara mereka banyak dibungkam dan tidak bebas mengemukakan pandangan, mereka diposisikan sebagai kelompok yang tidak boleh salah, sehingga ketika terlibat skandal, tindak kriminal, atau perilaku asusila, sanksi sosial yang mereka terima cenderung lebih berat dibanding laki-laki.

Dalam situasi serba tidak menentu ini, perempuan Madura membangun agensinya sendiri. Sebagian besar mereka mungkin nyaris tidak mengenal konsep-konsep emansipasi atau kesetaraan gender, tetapi mereka tidak tinggal diam dan mengantisipasi situasi terburuk yang bukan tak mungkin mereka alami. Mereka yang menjadikan dapur sebagai pusat agensi memastikan ketahanan dan kualitas pangan keluarga sambil mencari penghasilan tambahan. Mereka yang bekerja di luar rumah berupaya tetap mendampingi anak tanpa berkompromi terhadap profesionalitas. Perempuan muda Madura melanjutkan pendidikan formal, mempelajari berbagai keterampilan, atau membangun bisnis dan meniti karier sejak dini demi independensinya di masa mendatang. Dengan begitu, mereka cenderung akan dilibatkan dalam pembuatan keputusan dan tidak hanya diperlakukan sebagai konco wingking yang manut-manut saja terhadap apapun yang bahkan menyangkut kehidupan mereka sendiri.

Jika feminisme dimaknai sebagai gerakan pembebasan terhadap yang lemah dan atau tertindas, baik laki-laki atau perempuan, termasuk alam dalam konsep ekofeminisme, maka inisiatif kultural dengan semangat tersebut sudah muncul di Madura. Ini terlihat dari skala individu hingga komunitas, betapapun dengan intensitas yang masih kecil dan kecenderungan untuk tidak menggunakan istilah-istilah tertentu. Hierarkhi ketaatan masyarakat Madura dalam berbagai hal sebenarnya cukup egaliter karena tidak memperlakukan seseorang berdasarkan jenis kelamin, tetapi peran gender-nya dalam masyarakat, yakni orang tua (buppa’, babu), guru (ghuru), dan rato (penguasa). Tentu saja, usaha-usaha menghidupkan semangat keberpihakan terhadap yang lemah perlu terus digencarkan dan dilanjutkan dalam kerja-kerja akademik dan aktivisme sosial, termasuk merenungkan kembali konsep-konsep yang terlanjur dianggap baku dalam diskusi keagamaan maupun fenomena sosial.

CATATAN KAKI

Kurt Stenross, Madurese Seafarers; Prahus, Timber and Illegality on the Margins of the Indonesian State (Singapore: ASAA (Asian Studies Association of Australia), Southeast Asia Publication Series, 2011), 26. Dalam kontes ini, Stenross mengatakan bahwa perempuan Madura berperan dalam money earning, termasuk menjadi kepala desa dan bekerja ke luar negeri/kota. Wilayah yang menurutnya tidak dimasuki perempuan Madura adalah aktivitas membuat perahu dan berlayar. Sementara itu, pilihan perempuan Madura untuk bekerja dianggap sangat masuk akal mengingat kondisi tanah yang tandus, sehingga pemasukan keluarga mau tak mau mengharuskan peran dari suami maupun isteri. Riansyah and Ahmad Zainul Hamdi, “Pandang Dan Memandang Pengrawit Perempuan Sumenep,” Srinthil; Media Perempuan Multikultural (Tandha’; Jungkir Balik Kekuasaan Laki-Laki Madura) 13 (1995): 153. Adapun fenomena perempuan menjadi kepala desa sudah menjadi kebiasaan di Pulau Ra’as, Sumenep. Abd Latif Bustami, “Bukan Karena Ia Perempuan,” Srinthil; Media Perempuan Multikultural (Tandha’; Jungkir Balik Kekuasaan Laki-Laki Madura) 13 (1995); 176.

Anke Niehof, “Traditional Medicine at Pregnancy and Childbirth in Madura, Indonesia,” in The Context of Medicines in Developing Countries; Studies in Pharmaceutical Anthropology, ed. Sjaak van der Geest and Susan Reynolds Whyte (Dordrecht: Kluwer Academic Publishers, 1988), 238, 244.

Niehof, “Traditional Medicine at Pregnancy and Childbirth in Madura, Indonesia,” 240. Sebagaimana dikutip dari Elias dalam Huub de Jonge, “Stereotypes of Madura,” in Across Madura Strait; The Dynamics of an Insular Society, ed. Kees van Dijk, Huub de Jonge, and Elly Touwen Bouwsma (Leiden: KILTV, 1995), 6.

Jonge, “Stereotypes of Madura,” 10.

Bambang Wibisono, “Perilaku Dan Etos Kerja Perempuan Madura,” Srinthil; Media Perempuan Multikultural (Tandha’; Jungkir Balik Kekuasaan Laki-Laki Madura) 013 (2007): 2.

Jonge, “Stereotypes of Madura,” 21–22.

Suhartatik, “Madura: Perempuan Dan Carok Antara Kehormatan Dan Sarkasme Entitas Budaya,” in Perempuan, Kuliner Dan Jamu Madura, ed. Iskandar Dzulkarnain (Yogyakarta: Elmatera, 2017), 55–56.

Sony Rahardja, “Tandha’; Jungkir Balik Kekuasaan Laki-Laki Madura,” Srinthil; Media Perempuan Multikultural (Tandha’; Jungkir Balik Kekuasaan Laki-Laki Madura) 013 (2007): 13–15.

Jonge, “Stereotypes of Madura,” 14.

Jonge, “Stereotypes of Madura,” 17.

Wibisono, “Perilaku Dan Etos Kerja Perempuan Madura,” 132.
Tulisan ini juga dimuat dalam kata pengantar buku Madura Anti-Feminis(me) karya Alya Zahra, Alifba Media, 2026

Masyithah Mardhatillah*

Ada banyak hal yang identik dengan Bulan Dzul Hijjah, mulai dari Idul Adha, perayaan pernikahan hingga kedatangan jama’ah haji. Di antara ketiganya, yang disebut terakhir merupakan selebrasi yang tak hanya terbilang besar, akan tetapi juga khas. Berbagai rentetan ‘ritual’ kedatangan haji yang lumrah digelar menampilkan ciri-ciri khusus yang barangkali tak banyak didapatkan di luar Madura.

Momentum yang biasa dibahasakan dengan istilah hajjiyan ini biasanya dimulai dengan agenda menjemput jama’ah haji ke tempat kedatangan terdekat. Setelah itu, rombongan akan menuju kediaman tuan rumah dengan iring-iringan semacam konvoi yang tak jarang sampai melibatkan pengawalan dari aparat keamanan.
Bagian depan konvoi biasanya terdiri dari pengendara sepeda motor dengan salah satu atau beberapa pengendaranya yang menampilkan atraksi akrobatik. Belakangan, barisan tersebut juga kerap diisi dengan becak motor tanpa penumpang yang berjalan beriringan menambah kemeriahan sekaligus kebisingan suasana.

Ini masih ditambah dengan pick-up yang memutar lagu-lagu Arab atau salawat lewat sound system ber-volume tinggi di barisan belakang. Iring-iringan yang demikian mau tak mau menarik perhatian masyarakat, mulai pengguna jalan hingga warga sekitar. Mereka biasanya menyaksikan konvoi sembari mengisi waktu, menghindari macet, atau sekadar menghitung jumlah mobil rombongan.

Episode satu ini barangkali tidak secara langsung tampak berhubungan atau relevan dengan sakralitas ibadah haji yang baru selesai ditunaikan. Nuansa yang ditampilkan juga cenderung konsumtif, untuk tidak mengatakan hedonis. Namun demikian dalam beberapa hal, kemeriahan tersebut tak lebih merupakan ungkapan syukur atas kesempatan melaksanakan ibadah haji dengan lancar hingga kembali ke tanah air.

Alasan tersebut tampak masuk akal jika melihat masa tunggu berangkat yang belakangan menembus 20 tahun. Waktu yang demikian tentu memberikan banyak sekali kemungkinan dan sebagian di antaranya merupakan hal yang tak diharapkan. Lain dari itu, nominal biaya pendaftaran yang bukan tak fantastis dan harus ngendon dalam jangka waktu yang tak sebentar menuntut pertaruhan prioritas yang juga tak main-main.

***
Rentetan selanjutnya dari ritual kedatangan jama’ah haji di Madura adalah open house yang berlangsung sekitar 40 hari. Untuk keperluan ini, kediaman yang bersangkutan biasanya dihiasi dengan labang saketeng—semacam gapura—atau plastik banner di tempat-tempat strategis berisi ucapan “selamat datang” dan do’a-do’a yang relevan. Aksesoris-aksesoris seperti tenda, kursi, hingga ‘singgasana’ jama’ah haji ketika menemui tamu kerap kali juga dipasang.

Selama jangka waktu tersebut, para saudara, sahabat tetangga, rekan atau kolega ramai-ramai berkunjung. Ini biasanya diniatkan untuk menguatkan silaturrahmi, mendengar kisah perjalanan, hingga menambah motivasi sembari mengharap barokah doa agar segera ketularan menunaikan ibadah haji. Pada kesempatan ini, tuan rumah biasanya tampil dengan balutan busana ala Arab dan parfum khas serta menyalami dan memeluk setiap tamu.

Tak hanya menyuguhkan air zam-zam, kurma atau camilan khas Arab lain, tuan rumah biasanya menyiapkan suguhan makanan berat serta oleh-oleh haji kepada setiap pengunjung. Sementara itu, pengunjung—biasanya perempuan—datang dengan buah tangan berupa bahan pokok seperti beras atau gula. Tradisi take and give yang demikian merupakan salah satu varian tengka yang begitu populer di Madura.

Beberapa ilustrasi di atas kurang lebih menggambarkan bahwa biaya tengka haji di Madura memang tergolong tinggi. Sudah menjadi rahasia umum pula bahwa biaya lain-lain semacam itu bahkan melebihi ongkos berangkat seorang jama’ah haji. Sayangnya, berhaji tanpa menggelar tengka yang demikian akan mendatangkan sanksi sosial yang bagi sebagian besar orang tak dapat dispelekan.
***
Terlepas dari hitung-hitungan soal apakah selebrasi yang demikian merupakan gaya hidup konsumtif—bahkan hedonis—ataukah sebagai ekspresi syukur, naik haji masih menjadi salah satu mimpi terbesar orang Madura. Menunaikan haji benar-benar menjadi penyempurna ‘status’ sosial sekaligus identitas mereka sebagai Muslim secara ritual hingga spiritual.

Menjadi ‘haji’ atau ‘hajah’ juga merupakan passage of life tersendiri utamanya dalam kehidupan sosial di Madura. Setelah berhaji, embel-embel ‘H’ atau ‘Hj’ tidak hanya tercantum di bahasa tulis, akan tetapi juga komunikasi lisan. Panggilan ‘haji’ ‘abah’ atau ‘umi’ akan disematkan pada yang bersangkutan, termasuk oleh keluarga terdekat bahkan orang tua atau saudara yang lebih tua.

Panggilan yang demikian biasanya akan membawa nuansa—positif—baru dalam banyak sisi kehidupan si jama’ah sedatangnya ia berhaji, mulai dari etika busana, tingkah laku, kebiasaan, tutur kata dan lain-sebagainya. Ini lebih dari cukup menunjukkan bahwa predikat haji tak hanya memberi konskuensi spiritual dalam hubungan dengan Tuhan maupun diri sendiri, akan tetapi juga dalam kehidupan sosial.

Pada akhirnya, selebrasi meriah nan konsumtif seperti tergambar di atas, dalam beberapa hal, kurang lebih merupakan sugesti ‘alam’ agar ‘gelar’ sebagai seorang haji dapat benar-benar dipertanggungjawabkan, minimal secara sosial.

*Ibu satu anak, dosen IAIN Madura dan co-founder Yayasan Paddhang Bulan Tacempah, Pamekasan.
Dimuat di Radar Madura, Jawa Pos, 09 September 2018.
Image captured by Samsung J2 Pro :)

Terbiasa hidup di (pinggiran) kota kecil dan berbagai kesederhanaannya mau tak mau memberi cultural shock tersendiri ketika harus berpindah ke kota metropolis dalam waktu yang relatif tak sebentar. Hari-hari pertama di Surabaya penuh dengan proses adaptasi yang terbilang sulit, termasuk bagi Rauhia. Ia yang ketika itu belum genap setahun harus pindah ke lingkungan yang sama sekali baru, berinteraksi dengan wajah-wajah asing dan seakan memasuki timezone yang berbeda.

Untungnya, tak sampai sepekan, Rauhia menunjukkan perkembangan menggembirakan. Ia mulai terbiasa tidur tanpaku, mandi tidak bersamaku, makan, bermain dan menghabiskan waktu bersama rewang serta membiarkanku berangkat tanpa drama tangisan atau jeritan yang menggema ke mana-mana. Tentu ini terjadi setelah rentetan adegan dan drama perpindahan kamar yang bukan hanya baperable, tapi juga insecurable. Saat aku mulai pasrah, nerima dan berangsur tenang, seperti kata orang-orang, Rauhia mulai kooperatif.

Aku sendiri yang seringkali tiba-tiba merasa kembali ke jaman kuliah—meski ada beberapa scene dan peran yang sama sekali baru—juga tak lepas dari gejala itu. Ini misalnya terjadi ketika berburu kebutuhan harian. Seperti kebanyakan perempuan, aku gemar berbelanja di tempat yang murah dan lengkap demi efisiensi dan efektivitas. Beda harga lima ratus rupiah aja bisa jadi bahan pertimbangan untuk memilih toko ini dan bukan toko itu.

Nah di Surabaya, dua-tiga mingguan terakhir ini, aku yang terbiasa memerhatikan price tag atau struck belanja dengan seksama harus calm down dan legowo ketika tinggal di antara himpitan Indoma*t di kanan dan Alfama*t di kiri. Selain dua toko waralaba yang masyaAllah masif betul ekspansinya itu, ada dua penyedia kelontong yang bisa jadi alternatif. Satu di depan gerbang balai dan satu lagi koperasi di area balai. Sayangnya, dua yang kusebut terakhir ini tidak menyediakan barang selengkap di Basm*lah, toko bi Yuk atau nom Slihe. Otomatis, dua mart itu menjadi satu-satunya pilihan yang available.

***

Jadilah aku (sedikit) kerepotan. Untuk membeli popok yang biasa Rauhia pakai saja, aku harus memesan ke koperasi (ketika akan kulakan barang) dan ternyata tidak dapat. Menurut penjaganya, supplier tidak menjual popok dengan kemasan biru bergambar bayi anjing itu. Aku belum menyerah dan masih berusaha mendapatkan popok Flu*fy itu ketika izin pesiar ke rumah omku di Gerungan, Sidoarjo. Alih-alih menemukan yang kucari, dua penjaga toko kelontong—di area perumahan—yang aku kunjungi malah mengaku belum pernah mendengar merk popok itu. Oh tuhan. Untuk urusan popok sekali pakai ini, oke-lah aku berlindung kepada promo di dua mart itu.

Sekali waktu yang lain, aku merasa alarm tubuhku mulai berbunyi setalah adegan kehujanan tengah malam ketika Rauhia rewel dan hanya bisa diam setelah melihatku. Ketika sudah begitu, imunku perlu diperkuat dan satu-satunya pilihan yang mungkin adalah y*ci1000, suplemen vitamin C berkaleng beling yang memiliki dua varian rasa. Terakhir kali membeli di toko kelontong tetangga beberapa waktu yang lalu, harganya masih 6k. Ketika kucek di kulkas salah satu mart itu, harganya sedikit lebih tinggi karena masuk dalam salah satu list barang yang sedang didiskon. Nah, didiskon aja masih lebih mahal dari harga pasaran.

***
Lain aku, lain pula ibuku. Ibuku cukup senang berbelanja dia salah satu mart tersebut dengan iming-iming promonya. Kebetulan, 2 kilometer-an dari rumah, ada salah satu mart yang beroperasi dan berseberangan persis dengan swalayan murah meriah milik salah satu pesantren salaf di Pasuruan. Hampir tiap akhir pekan, ia memanfaatkan networking-nya untuk mengetahui apa saja barang yang tengah didiskon harganya. Jika tidak demikian, maka ibuku akan dengan sengaja menyempatkan mampir ke situ untuk mengecek barang apa saja yang tengah promo.

Barang-barang yang dibeli ibuku cukup beragam, mulai dari perlengkapan rumah tangga seperti sabun cuci piring, deterjen dan amunisi lain di kamar mandi hingga tissue dan makanan ringan. Harganya memang sering di bawah harga pasar, tapi ya itu, harus nunggu promo. Biasanya, ibuku membeli barang-barang tersebut untuk nyetok alias tidak tengah butuh ketika membelinya. Barang yang ia beli biasanya akan ngetem lama sebelum dipakai atau dijual kembali ke pembeli terakhir. 

Sementara itu, aku—bisa dibilang—hanya akan mampir ke situ jika tengah kepepet tidak menemukan swalayan lain atau toko kelontong tradisional. Bagaimana tidak, ia ada di mana-mana dan sering juga satu atap dengan mesin ATM. Jadi sekalian ambil uang, sekalian belanja. Seringnya aku mampir ketika perut lapar dan harus diganjel dengan Sa*i Roti dalam perjalanan pulang dari kampus ke rumah. Jika sudah begitu, perasaan malas menanggapi sapaan default dari kasir dan pramuniaga biasanya tak terhindarkan.

Dari pengamatan gaya belanja ibuku, teman-teman, orang yang tak jumpai ketika kunjungan ke dua mart itu, termasuk aku sendiri, aku melihat gejala yang sama: Konsumen seringkali lebih memertimbangkan potongan harga aka diskon dibanding mendesak tidaknya sebuah kebutuhan. Pilihan mengejar diskon jadi lebih diprioritaskan dibanding pertimbangan urgen tidaknya membeli barang tertentu. Dan yang juga kurasa, harga setelah diskon terasa beneran murah meski belum mengecek harga normal di pasaran.

Apalagi, taktik marketing dua mart tersebut seringkali benar-benar melenakan, seperti sistem kuantitas barang dan jumlah transaksi. Kalau beli dua atau tiga barang yang sama, maka diskon baru berlaku. Konsumen jadi ‘terpaksa’ membeli dua pcs padahal kebutuhannya cuma satu. Ini kualami biasanya ketika membeli minuman. Yang masih tak inget adalah ketika membeli susu Beruang di Alfama*t Ganding, Minute Maid Pulpy di perjalanan menuju Solo bersama Ayis Mukholik dan (lagi-lagi) Yuc* 1000 di Indoma*t sebelah.

Jika tidak demikian, maka diskon hanya berlaku di atas jumlah transaksi tertentu sehingga barang yang sebenarnya tak ingin dibeli jadi dicomot. Semua demi mengejar diskon. Kebutuhan yang sebenarnya dan rencana dari rumah buyar seketika saat sampai di tempat yang memanjakan konsumen dengan berbagai fasilitas itu sehingga mereka seolah memiliki pengalaman berbelanja yang menyenangkan dan melupakan banyak hal termasuk itung-itungan harga yang meski kacek-nya sedikit, tetap bisa menjadi bukit. Buaian fasilitas semacam itu juga sangat mungkin membuat pengunjung tiba-tiba merasa butuh--atau ingin--membeli barang karena tampilan yang menarik dan seolah-olah harus dibeli saat itu.

***

Mumpung diskon atau mumpung lagi di TKP adalah alasan yang suka terngiang di kepala ketika berkunjung ke situ. Ini juga kualami ketika membeli popok Rauhia dan beras untuk konsumsi harian di kos. Bertiga dengan Rauhia dan rewang, aku berkunjung ke situ dengan niat mengejar popok harga diskon. Sesampainya di situ dan memastikan bahwa popok yang diincar masih tersedia di area khusus diskon, aku yang niatnya tidak ingin membeli beras jadi teringat bahwa persediaan beras sudah menipis sehingga berpikir tak ada salahnya sekalian beli di situ, biar tidak bolak-balik dan ribet ngurus perizinan lagi. Niat itu juga diperkuat dengan adanya beras yang tengah masuk list promo.

Jadilah demikian. Dari kunjungan itu aku juga baru mengerti—setelah diwarai mbak rewang—bahwa label harga atau price tag untuk barang yang didiskon berbeda warna dengan barang dengan harga normal. Jadi, selain memerhatikan umbul-umbul di beranda depan, brosur daftar diskon atau di plang-plang kecil di area barang diskon, warna dalam label harga juga bisa diperhatikan. Setidaknya, jika kasir tidak menghitungnya diskon, konsumen bisa complain atau meng-cancel pembelian tanpa merasa sungkan atau takut dikira kere.

Di sebuah kunjungan lain, aku mendapati bapak-bapak yang membeli sebungkus rokok dan ngomel-ngomel setengan complain karena harga yang harus dibayarnya jauh di atas harga normal. Si kasir dengan dandanan default hanya senyum-senyum dan terlihat tak sama sekali baper dengan aksi si bapak. Barangkali karena sudah terbiasa mendapati complain serupa atau di pikirannya, dia tengah bergumam semacam ini, “kalau ga mau mahal ya jangan beli di sini.”

Mahalnya harga di dua mart itu sebenarnya bisa dimengerti. Selain operasional berbagai fasilitas, gaji karyawan dan pajak juga menjadi komponen lain yang harus dihitung selain harga beli barang dari produsen atau supplier di atasnya. Belum biaya lain-lain semisal pembebasan lahan dan administrasi idzin atau yang semacamnya. Jadi, wajar saja jika harga barang yang dijual jadi di atas rata-rata.

Akan tetapi, sampai tulisan ini dibuat, aku belum bisa mengurai atai sekadar memerkirakan penjelasan mengapa dua mart itu terkesan pilih-pilih barang jualan. Barang-barang murah (meriah) atau yang ukuran kecil nyaris tak didapatkan di situ. Salah satu contohnya ya popok Fluf*y yang biasa dipakai Rauhia. Aku juga pernah kecele karena terlanjur masuk ke Indoma*t Trasak untuk membeli pasta gigi sembari nunggu bus antarkota. Ternyata pasta gigi yang tersedia hanya ukuran raksasa sehingga aku harus banting setir ke paket sikat dan pasta gigi khusus travel yang harganya out of prediction.

Pernah juga mau ngisi pulsa di kasir tapi akhirnya ga jadi karena nominal pengisian pulsa lebih besar dari rencana semula. Aku lupa berapa dan kapok gamau lagi ngisi pulsa di situ, meski setiap bayar ke kasir selalu ditanya, ‘mau sekalian pulsanya, Kak?’ Beberapa barang tertentu—semisal Ad*m Sari dan Vita*imin—juga tidak dijual eceran dan mengharuskan pembeli membeli barang dengan kuantitas yang seringkali melampaui kebutuhan mereka yang sebenarnya.

***

Dari beberapa hal di atas, jika tidak sedang pingin ngadem, memanfaatkan fasilitas parkir gratis, berada di waktu dan tempat yang tak biasa (seperti dini hari atau di kota orang) atau menggunakan mesin ATM dan berburu barang promo, warung tetangga dan pasar tradisional masih patut menjadi pilihan nomor satu. Memang benar dua mart itu lumayan menyerap tenaga kerja lokal, tapi untuk menjadi tujuan dan pilihan berbelanja, sepertinya masih jauh dari kriteria ideal.

Gambar: magazine.job-like.com

Sepulangnya dari Australia akhir Maret kemarin, aku mendapat ‘teman’ baru di rumah, namanya Pak Untung. Dia datang ke rumah pada hari yang sama dengan kedatanganku. Aku datang agak siang, Pak Untung datang sore menjelang petang. Kedatangan karyawan temporer yang kemudian tinggal di rumah bukan hal baru bagi keluarga suamiku. Sebelumnya sudah ada beberapa dan yang terakhir, Mas Bucek, bahkan sudah berkali-kali pulang-datang-pulang-datang. Aku lebih banyak jetlag dan recovery dari batuk yang sangat mengganggu pada hari-hari pertama sepulangnya ke Indonesia. Agenda lain adalah bagiin oleh-oleh serta memuaskan hasrat kerinduan pada masakan Indonesia (Madura). Aku tak banyak peduli dan kepo-in Pak Untung, meski aku sangat bersemangat menghabiskan sekarung rambutan yang ia bawa dari Jember, kota kelahirannya, which is juga kota kelahiran suamiku. Setelah jetlag-ku mulai reda dan aku beranjak pulih dari semacam post-power syndrome, aku mulai penasaran terhadap sosok Pak Untung karena minimal, satu kali sehari, aku akan berinteraksi dengannya, mempersilakan ia makan atau sekadar bertukar senyum ketika tak sengaja bertemu. Pak Untung adalah seorang tunawicara dan tunarungu meski ketika ingin bicara, ia masih bisa memaksakan diri untuk memunculkan suara. Gangguan pendengarannya tampak lebih parah. Suatu malam aku pernah menghampirinya untuk memberitahu bahwa makanan sudah siap. Ketika itu Pak Untung membelakangi arah dari mana aku datang dan memandang lepas ke jalan, tampak asyik dengan pikirannya sendiri. Aku butuh usaha keras dan lama untuk membuatnya menoleh. Dengan isyarat tangan, dia minta maaf atas responnya yang terlambat menanggapi ucapanku. Aku hanya tersenyum dan membalas isyaratnya seolah-olah mengatakan, I am fine. No worries. Pak Untung memiliki keahlian menyulap potongan-potongan kayu menjadi barang-barang perabotan rumah tangga, mulai dari kursi, meja rias, tempat tidur dan lain-lain. Ayah mertuaku sengaja mendatangkan dia dari Jember agar ia membantu menyelesaikan beberapa order dan melengkapi display items di usaha meble yang ia rintis sejak beberapa tahun lalu. Aku tak tahu apa alasan ayah mertuaku mendatangkan karyawan musiman jauh-jauh dari Jember. Yang kutahu adalah bahwa Pak Untung meninggalkan istri dan anaknya beberapa lama untuk mencari Rupiah dengan keterbatasan (sekaligus keistimewaan) yang dia miliki. Rasanya nonjok banget di hatiku. Fatherly love-nya kental sekali. Aku sering menghampiri Pak Untung ke tempat kerjanya ketika kebagian tugas memersilakan dia makan. Ia sangat cekatan dan tampak sudah lama menekuni keahlian tersebut. Ketika aku mengajaknya bicara, Pak Untung—seperti biasa—selalu memberikan respon sigap sambil memamerkan deretan giginya. Calming me down sekali. Beberapa kali ia mengajakku berkomunikasi namun aku masih sering gagal memahami apa yang ingin dia sampaikan. Biasanya aku hanya tersenyum dan dia tampak mengerti dengan bahasa tubuhku. Ketika bekerja, Pak Untung hampir tidak pernah lepas dari sebatang rokok di mulutnya. Ayah mertuaku sampai membelikan beberapa bungkus rokok merk khusus untuk Pak Untung. Tampaknya asap rokok membantunya bekerja dan melancarkan gerakan tangannya memotong kayu, memegang kemudian memainkan palu, menancapkan paku, mengoperasikan mesin pemotong kayu, menyambungkan satu potongan kayu dengan potongan lain dan aktivitas-aktivitas lain yang rutin ia lakukan. Itu aku sadari saat kutemukan bahwa ketika tak sedang bekerja, Pak Untung tidak sering—bahkan jarang—merokok. Kalau sedang sendiri dan tampak termenung, entah apa yang ia pikirkan, barulah Pak Untung merokok. Barangkali mengajak bicara asap yang mengepul dari mulutnya. Pak Untung tidak banyak request dan protes meski seharian ia bekerja dan semalaman ia tidur di atas sofa yang ada di display room. Aku tak tahu apakah di situ banyak nyamuk tapi bangunan di pinggir jalan itu beratapkan seng sehingga ketika hujan, dipastikan hawa di dalam akan sangat dingin. Satu hal yang pernah ia complain adalah menu makanan ketika tak ada sayur berkuah di meja. Dengan bahasa isyarat yang khas dan kadang mengharukan, ia menyampaikan bahwa ia sulit menelan makanan jika tanpa kuah. Ia memegang lehernya dan mengubah ekspresi wajah seperti orang kesakitan. Ibu mertuakupun mengiyakan complain tersebut sehingga setiap meal time, tiga kali sehari, kami selalu menyediakan kuah untuk Pak Untung. Aku belum tau seberapa besar porsi makan Pak Untung tapi yang pasti, ia suka sambel. Cobek sambel selalu ludes setelah dia menyantap hidangan kami. Mengetahui hal yang demikian adalah kebahagiaan yang baru kutau kaya apa rasanya belakangan ini. Btw aku juga sering me-nguping obrolan para tukang ketika mereka menyantap makanan dan Pak Untung ternyata juga ikut terlibat di perbincangan tersebut, entah bagaimana caranya. Mas Bucek, ahli ukir yang belakangan kembali bekerja dan tinggal di rumah, juga sering tertawa terpingkal-pingkal saat tengah ‘ngobrol’ dengan Pak Untung. Ketika melihat Pak Untung mondar-mandir di depan mataku, aku suka berpikir bahwa kepindahan sementara ini sebenarnya tak pernah mudah bagi siapapun, termasuk bagi Pak Untung. Ia harus tidur di tempat yang berbeda, makan masakan yang berbeda, menghabiskan waktu di tempat baru dan hal-hal baru lain yang mungkin kerasa masih aneh baginya. Perasaan semacam ga betah ala-anak pondok kupastikan ada, meski motivasi ekonomi bisa mengalahkan kecenderungan-kecenderungan semacam itu. Pak Untung juga tidak mendapat fasilitas laundry sehingga dia mencuci dan mengurus bajunya sendiri. Aku juga sering memerhatikannya ketika menjemur pakaian. Ia selalu bisa menyembunyikan rasa lelah (Pak Untung bekerja tujuh hari sepekan) dan—mungkin—tak betahnya berada jauh dari keluarga. Oh ya setauku, Pak Untung juga membawa sandang seperlunya selama masa tinggalnya di sini. Baju untuk bekerja dan untuk santai masing-masing ada. Baju kerjanya adalah kaus oblong tanpa lengan, kaus lengan pendek, dan celana selutut serta topi, sedang baju santai terdiri dari sarung, kemeja lengan panjang dan peci putih ala-ala hadiah haji. Aku tak ingat berapa potong tapi pastinya tak banyak. Baju-baju itu, meski sederhana, adalah saksi di setiap tetes keringat dan kerinduannya untuk pulang. Pak Untung juga tidak membawa alat komunikasi semacam handphone sehingga ayah mertuakulah yang menghubungi istrinya untuk keperluan keuangan. Kebayang gimana khawatir dan kangennya keluarga pak Untung terhadap keadaan Pak Untung di sini. LDR tanpa gadget mungkin masih kerasa absurd, tapi ternyata masih ada yang menjalaninya. Selain membantu Ayah mertuaku membikin barang-barang perabot rumah tangga, setiap sore, Pak Untung juga membantu Ibu mertuaku memasak air untuk konsumsi para tukang yang setiap hari bisa berjumlah lima orang. Saat bekerja, selain rokok dan kopi, para tukang ternyata membutuhkan banyak asupan hidrasi cukup banyak sehingga kami harus menyediakan stock air yang cukup. Untuk keperluan ini, Ibu mertuaku biasa memasak air di pawon buatan di sebelah ‘ruang kerja’ Pak Untung sehingga Pak Untung seperti merasa memiliki beban moral untuk juga membantu proses memasak air tersebut. Setiap akan berangkat ngampus, aku juga sering bertemu Pak Untung di display room tempat dia biasa tidur. Ia tampak menanyakan akan ke mana aku dan aku sigap menjawabnya, saya mau sekolah, Pak. Ia tersenyum dan mengancungkan ibu jarinya; seperti menangkap omonganku, mungkin lewat gerak bibir. Aku balik tersenyum dan merasa baru dihadiahi suntikan semangat. Pak Untung selalu tampak semangat dan oriented sekali dalam bekerja. Ia betul-betul menikmati pekerjaanya dan berusaha total di situ. Rasanya malu sekali kalau ingat aku sering setengah-setengah dalam melakukan banyak hal, disorientasi dan kadang digresi ke mana-mana. Aku sering berpikir bagaimana rasanya jauh dari keluarga, seperti yang Pak Untung alami saat ini. Fenomena kaum migran yang meninggalkan kampung halaman bukan hal baru di kampungku, baik di rumah orang tua maupun di rumah mertuaku. Mereka bahkan berbondong-bondong berkarya dan memakmurkan daerah atau negeri orang karena di rumahnya sendiri, mereka tak mendapatkan (juga mungkin tak menciptakan) banyak peluang. Beberapa bahkan menetap di tanah rantau dan emoh kembali lagi ke kampung halaman. Mereka menciptakan house sekaligus home baru dan menyambangi kampung halamannya—setidaknya—setahun sekali ketika Lebaran. Bagi si perantau, ini memang tentang pilihan, tapi di sisi lain, ketimpangan kaya gini sebenarnya menunjukkan masih berjayanya sentralisasi kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat. Yang kulihat dari Pak Untung adalah he does what he can do as well as possible. Doing the job, getting paid and then going home. Go hard or go home, kata Fast Furious. Aku pernah membantunya menransfer sejumlah uang untuk istrinya di Jember dan rasanya mengharukan sekali. Jumlah kiriman sebenarnya tak seberapa dibanding konsekuensi untuk berjauhan dan pura-pura tak punya kerinduan, akan tetapi itu akan sangat berarti bagi istri dan anak-anaknya. Keterbatasan yang dimilikinya tak menghalangi Pak Untung untuk menujukkan keistimewaan hebat yang dia punya. Kesulitan yang ia temui—konon itu bawaan lahir—tidak membuatnya mundur sedikitpun dari panggilan nurani mencukupi kebutuhan istri dan anaknya. Semoga panjang umur dan sehat selalu Pak Untung. Jangan lupa tersenyum. Ketekunan dan keseriusan Bapak bekerja sangat menginspirasi! (teriring doa rahasia untuk Pak Untung) Ps; Foto menyusul :)

MARI themes

Diberdayakan oleh Blogger.