Distraksi yang Atraktif (Catatan Lainnya dari Lapangan) #1
Di sela-sela proses mengumpulkan, mengorganisir dan menyortir data, aku merasa ada aja hal yang ngawe2, seperti meminta perhatianku juga. Aku seperti tak bisa menolaknya. Muncul begitu saja di kepala; semakin diusir, semakin datang. Kadang malah menggeser prioritasku dari yang harusnya menjadi concern utama. Fokus yang kubangun sejak lama rasanya runtuh ketika bertemu distraksi yang ‘aku banget.’ Rasa penasaran seperti menemukan jaringan dengan apa yang pernah kuketahui sebelumnya dari pengalaman sendiri, pengalaman orang, film yang tak tonton, buku yg tak baca, diskusi yang tak dengerin, wes kaya berlalu lalang satu2.
Dan ini salah satunya. Dalam rangka mengumpulkan data untuk penelitian tesis S3ku, aku ikut sebuah pengajian rutin yang mempertemukanku dengan sosok sentral di forum itu. Sosok tersebut adalah seorang laki-laki yang belakangan aku tahu memiliki istri lebih dari satu. Dari awal aku sudah mewanti-wanti diriku bahwa aku tidak akan ke-distract sama persoalan itu, tetapi aku jadi berasa tidak bisa menjauh ketika istri (istri) dari ybs juga menjadi orang yang berinteraksi denganku menyusul inisiatifku untuk mengambil data dengan cara mengikuti forum tersebut. Jadi ya, kepalang basah, mandi dan nyuci sekalian. Aku tetap men-sounding diriku sendiri bahwa jika ada hal lain di lapangan, maka itu akan sekadar menjadi remah-remah cerita dan tidak perlu menjadi inti. Meski menajamkan semua indra yang kupunya dan mengasah kepekaan akan adegan, anasir, atau dialog yang mengarah ke situ, aku pura2 tidak terlalu peduli. Padahal, di tengah kesuntukan dan kebosanan mengumpulkan data yang kadang terasa tidak ada menarik-menariknya, distraksi seperti itu justru yg membuatku kembali bersemangat.
Cerita dimulai ketika aku secara kultural meminta izin si tokoh sentral untuk turut serta mengikuti pengajian yang dipimpinnya. Karena segregasi gender, aku harus menemuinya bersama suamiku; sehingga suamikulah yang menemuinya, sementara aku menemui istri beliau (selanjutnya disebut I1). Tidak ada yang mengganjal di pertemuan pertama itu. Aku justru melihat si tokoh lebih ramah dibanding yang tak bayangkan atau dari penampilan dan caranya berpakaian. Ia tampak terbuka, welcome, dan humble. Isterinya juga tidak jauh berbeda. Kami lalu pulang setelah berpamitan dan keesokan harinya, aku mengikuti forum pengajian tersebut. Sempat sedikit kesasar karena melewati medan baru, aku sampai di TKP terlambat dan langsung bergabung ke area perempuan di mana seorang perempuan telah duduk dan ambil posisi untuk mengikuti pengajian.
Dari perkenalan singkat tersebut, aku lalu tau bahwa si perempuan itu adalah isteri dari si tokoh. Ia bahkan menuturkan bahwa si tokoh sengaja mengajaknya hadir untuk menemaniku. Aku lalu kaya berjalan di adegan slow motion. Rasanya yang kemarin tak temui bukan ibu ini. Aku emang susah menghafal wajah, suara atau gerak-gerik orang yang baru kukenal. Tetapi itu kemarin, belum 24 jam, masa aku lupa? Atau, masa dia seberbeda itu? Aku terusik dengan pertanyaan-pertanyaan itu di kali pertama aku jadi participant observer di situ. I barely know nothing about him, termasuk perihal bahwa dia poligami, sebelum belakangan aku mencari tahu. Aku jadi inget keherananku karena seorang calon pemimpin mendapat suara terbanyak dalam sebuah kontestasi politik padahal figure ybs adalah seorang praktisi poligami. I mean, in my humble opinion, doing that thing is jarh. Kok bisa dia terpilih padahal dia adalah seorang poligamis? Karena sedang setel diri menjadi seorang peneliti, Im telling myself mungkin dengan gini aku bisa melihat sisi lain dari keluarga poligami. Ya mekso sih, tapi minimal biar empati dikit dan ga sinis dari awal.
Dari pertemuan pertama tersebut, aku melihat si ibu (I2) setel humble banget. Dia beberapa kali bilang bahwa dirinya tidak tahu apa2, tidak bisa ngaji, bahkan—maaf—bodoh. Beda sekali dengan sikap yang ditunjukkan si isteri satunya yang kutemui sehari sebelumnya. Aku makin yakin kalau mereka dua orang yang berbeda, meski info2 soal si sosok dari I1 meyakinkanku bahwa dia beneran orang dekete si sosok. Ohya, kenapa aku sempat ragu adalah karena si I2 memakai cadar, sementara kemarin, di komplek dhalem dan area perempuan, si I1 ga pakai cadar. Aku juga memerhatikan kulit telapak tangan yang tampaknya berbeda. Aku pikir cerita soal distraksi ini akan berakhir di situ. I was wrong.
Di kali kedua aku ikut forum itu, si I1 juga ikut hadir. Aku sempet syok mendapatinya sudah duduk di area perempuan. Ia hadir bersama beberapa santri putri—yang semua cadaran—dan karena aku datang belakangan alias terlambat karena kejebak hujan, aku mendapati area itu sudah rame. Gatau siapa yang datang duluan dan belakangan. Beberapa ibu paruh baya juga tampak, termasuk si I2 yang kutemui di pertemuan pertama. Karena vibes-nya cadaran sedang wajahku full face terlihat, aku merasa kurang nyaman menjadi minoritas. Setelah pengajian berakhir, sempet ada rasan-rasan kecil karena si I1 menanyakan identitas si I2 kepada salah seorang anggota paruh baya. Dia yang ditanyain pura-pura tidak tahu meski aslinya tahu. Dari situ obrolan kami semakin ganyeng dan sementara disimpulkan bahwa I1 tidak mengenal/mengetahui (keberadaan) I2. Aku hanya mencatat di kepala dan sedikit mengherankan karena I2, yang konon adalah isteri keempat si tokoh, tampak lebih berumur dibanding I1. Belakangan aku sadar bahwa taksiran usia juga ditentukan oleh cara berpakaian dan berpenampilan. Frankly speaking, I2 tampak kurang wellbeing dibanding I1. Mungkin itu juga yang membuat I2 tampak lebih tulus dan ramah. Sejak pertemuan pertama, ia sudah mengajakku mampir ke kediamannya. I1 juga ramah, hanya saja tipe dan intensitas ramahnya berbeda.
Hingga pertemuan ketujuh, aku selalu menemukan alasan untuk menunda kunjungan ke kediaman si I2. Aku sampai merasa sungkan setiap kali bertukar tatap, sapa atau bersalaman dengannya. Dia juga tidak pernah absen datang ke pengajian dan selalu datang sebelum aku. Aku beberapa kali memperhatikan bahwa ia suka duduk menjauh dari I1, biasanya di bagian belakang. Seperti tidak ingin tampak menonjol. Seperti mengakui inferioritas. Dan seterusnya dan semacamnya. Aku beberapa kali melihat adegan si sosok diperlakukan istimewa oleh si I1; tentu di depan banyak orang, termasuk I2. Aku tidak tahu apakah itu memang kebiasaan yang bersangkutan, tetapi rasanya, aku lebih banyak menaruh kakiku di sepatu si I2. Si sosok juga seperti tak punya pilihan lain kecuali menerima dan ngompakin inisiatif I1; semacam pamer kemesraan dan perhatian di depan banyak orang yang aslinya sah dan wajar saja tetapi jadi anu dalam keluarga poligami. Sampai sini aku semakin merasa praktik kaya gt banyakan njengkelinnya, terlebih bagi mereka yang terlihat powerless seperti I2.
Setelah pertemuan ketujuh, ketika situasi pas dan aku sudah siap logistic, aku memutuskan untuk berkunjung ke rumahnya; mengikuti mobil yang mengantarnya pulang. Dalam perjalanan, aku berpikir bahwa si I2 situasinya tidak seburuk yang aku bayangkan, toh mobilnya masih lebih bagus dibanding mobilku. Eh. Aku bayangin dia juga ada semacam sopir or something. Siang itu, ia dianter pulang bersama dengan lora kecil yang kata Mas Syukron (informan mediatorku) adalah putra ter’tamvan.’ Setelah sampai di pagar rumah, aku cukup terkejut karena si lora lah yang bukak pagar. Mobil lalu masuk dan begitu si I2 dan lora turun, mobil tersebut meninggalkan kediaman. Tanpa ada yang menutup pagar kembali. Aku kemudian memarkir motorku di tempat yang rindang sambil melihat sekeliling. Tampak seperti rumah orang kebanyakan tetapi versi sederhana. Di situlah pertama kali aku melihat wajah si I2 tanpa cadar. Ampun, dia cantik banget. Cantik alamiah tanpa kosmetik yang aslinya juga butuh perawatan karena dari sananya sudah cantik sehingga perlu dibikin tetap cantik.
Kami lalu berbincang sebentar, mengalir dan sampai ke mana-mana; termasuk hal yang paling bercokol di kepalaku. Ia menuturkan bahwa dulunya, ia adalah santri di tempat ibu I1; menghabiskan masa studi di situ sebelum dipersunting oleh suami gurunya sendiri. Aku lebih banyak mendengarkan meski aslinya ingin bereaksi macam-macam. Ia mengaku tiba-tiba dinikahkan oleh orang tuanya meski sebelumnya si sosok, which is suami I1, sempat menuturkan niat mempersuntingnya. “Saya kira itu hanya godaan/candaan, ternyata beliau langsung menemui orang tua saya,” begitu ia berkisah padaku. Aku pura-pura tersenyum meski dalam hati aku terkejut luar biasa. Kasian ibu ini. Ia nyaris tidak memiliki masa muda dan harus menikah dengan orang yang barangkali tidak pernah ia bayangkan akan menjadi pasangan hidupnya dan harus berbagi suami dengan 3 (saat ini 2 karena satu di antaranya meninggal) perempuan lain. Dan salah satu madunya adalah ibu nyainya sendiri. Usianya saat ini nyaris setengah dari usia si sosok. Ia menjadi isteri keempat dalam posisi seorang perempuan belia yang tidak memahami apa2 tentang how the world works dan semacamnya. Ia menuturkan verbatim padaku bahwa ia baru paham hidup itu apa setelah melahirkan anak pertama.
Menikah di usia 18 tahun dengan skema seperti itu, ia mengaku tidak segera hamil karena ‘diikutkan’ KB oleh suaminya. Aku tidak bisa menyembunyikan keterkejutanku mendengar bagian cerita ini dan bertanya detilnya. Aku menahan diri untuk tidak menggiringnya pada nuansa rebel dan semacamnya. Aku hanya ingin tau kisah dia, begitu suaraku sendiri menggema di gendang telingaku. Ia lalu menjawab bahwa ia diikutkan KB suntik tanpa memahami betul efeknya terhadap tubuh, termasuk kaitannya dengan kehamilan. Ia hanya dibawa ke dokter lalu demikian cerita bergulir. Aku sempat bertanya mengapa harus ada penundaan semacam itu, dan diapun merasa tidak tahu pasti jawabannya. “Sepertinya si sosok masih ingin mendidik saya untuk menjadi ibu yang pantas,” ucapnya, getir namun dengan sedikit bangga. Aku mengangguk saja sambil mencerna isi ceritanya, termasuk bahwa ia baru pindah ke kediaman pribadi 8 tahun terakhir, sementara 8 tahun sebelumnya tinggal di tempat lain. Ia juga sempat mengatakan padaku bahwa ia menjalani pernikahan ini dengan tujuan (kemulyaan) di akhirat. “Yang penting saya sudah umroh dan haji, Mba,” ucapnya.
Aku bilang ini distraksi karena aku tidak merekam percakapan kami. Rasanya kesakralannya akan berkurang dan aku kuatir dia juga menyadarinya sehingga aku harus izin. Belakangan aku tahu bahwa ia tidak terlalu familiar dengan teknologi. Ketika aku minta nomor kontaknya yang bisa dihubungi, ia tidak hafal pun mengaku tidak tahu bagaimana menyimpan kontak baru di gawainya. Aku harus mengoperasikan gawai dia dan dari situ aku tau bahwa ia menggunakan gawai ala kadarnya. Ia tidak menghabiskan banyak waktunya dengan gawai seperti aku. Terlihat pasrah dan tawakkal terhadap takdir yang diterimanya. Tidak banyak complain ini itu dan tampak baik kepada semua orang. Surely aku perlu belajar banyak darinya. Lain dari itu, obrolan kami diisi berbagai hal soal anak. Keempat anaknya, ketiga anakku, pengalaman keguguran, pengalaman anaknya meninggal setelah melahirkan, pengalaman salah satu anaknya opname 1bulan karena tetanus, dan obrolan-obrolan khas lain. Setelah percakapan siang itu, aku tidak bisa melihatnya seperti bagaimana kemarin aku memandangnya. Itulah fungsi sebuah perjumpaan.